Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral, 4 November 2021

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Seberapa jauh realisasi janji setiap negara dalam mencapai target perubahan iklim. Setiap negara yang menghadiri COP akan mulai membuat janji yang lebih ambisius untuk mengurangi emis gas rumah kaca agar dapat menjaga kenaikan pemanasan global rata-rata di bawah 1,5 derajat Celcius dibandingkan dengan tingkat pra-industri.

Meskipun demikian, hasil temuan dari Climate Action Tracker memperlihatkan bahwa kebijakan di banyak negara justru tidak sejalan dengan penurunan emisi yang dijanjikan. Sebagian besar kebijakan yang dijalankan terlalu lemah untuk memenuhi secara kolektif tujuan yang akan dicapai sebagai bagian dari Perjanjian Paris.

Amerika Serikat berjanji untuk lebih banyak mengurangi emisi gas rumah kaca tahun 2030, tetapi emisinya saat ini diproyeksikan Sebagian besar tidak akan berubah selama sepuluh tahun mendatang. Perubahan yang signifikan behaviour menjadi salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Dibandingkan dengan negara lain, penurunan emisi yang diproyeksikan di Amerika Serikat cenderung masih diatas dari Eropa dan India.  Selain itu emisi yang dihasilkan diperkirakan masih di atas emisi yang dijanjikan dan dibutuhkan untuk mencapai target penurunan emisi global.

Sementara untuk Indonesia, studi tersebut melihat bahwa kebijakan bauran EBT 25 persen yang direncanakan belum mencukupi untuk memenuhi target yang direncanakan dan memerlukan perbaikan yang lebih substansial agar dapat konsisten dengan batas suhu 1,5 derajat Celcius terutama untuk mengurangi ketergantungan yang berkelanjutan pada bahan bakar fosil, khususnya batubara. Beberapa elemen desain kebijakan yang ada dianggap masih mendukung pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang beresiko menciptakan terdamparnya asset pembangkit berbasis batubara.

Anggaran yang dialokasikan untuk mendanai proyek proyek energi bersih dianggap belum mencukupi. Sebagai contoh, pada 2020 dan 2021, pemerinah mengalokasikan anggaran sebesar Rp700 triliun untuk mendanai Pemuliahan Ekonomi Nasional yang terdampak covid 19. Dari total dana tersebut sekitar 3,5%nya  dialokasikan untuk pengembangan energi bersih. Diusulkan agar Indonesia dapat melakukan beberapa perbaikan pada peraturan terkait dengan pengembangan energi terbarukan dan penyesuaian kebijakan yang mendukung pembangunan rendah karbon.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Di KTT COP26, PLN Tunjukkan Program Dekarbonisasi ke Dunia, Indonesia optimistis akan menjadi pemeran penting dalam penurunan emisi karbon dunia. Dalam perhelatan COP26 di Glasgow. Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo memastikan Indonesia dapat memenuhi komitmen pada tahun 2030 di dalam Paris Agreement, yaitu pengurangan emisi sebesar 29 persen secara unconditional. Indonesia teah mengadopsi Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim, serta road map yang detail untuk mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih awal.

Untuk bisa mempercepat target tersebut, Presiden mengharapkan pendanaan adaptasi dari negara maju segera dipenuhi guna mempercepat upaya penanganan perubahan iklim. “Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menunjukkan langkah konkret dalam hal pengendalian iklim. Laju deforestasi kita saat ini yang paling rendah selama 20 tahun, tingkat kebakaran hutan berkurang 82 persen. Indonesia juga akan melakukan restorasi sebesar 64 ribu hektare lahan mangrove. Ini sangat penting karena mangrove menyimpan karbon 3-4 kali lebih besar dibandingkan lahan gambut.

PLN mendukung penuh program dekarbonisasi yang diusung pemerintah guna menghadirkan ruang hidup yang lebih baik bagi generasi mendatang. Mengingat saat ini, dengan menggunakan skenario business as usual (BAU), Indonesia diperkirakan memberikan kontribusi 4 miliar ton CO2 per tahun pada 2060 sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Dalamskenario BAU, emisi sektor listrik mencapai 0,92 miliar ton CO2 pada 2060. Untuk itu, PLN meluncurkan strategi demi menjadi perusahaan listrik yang bersih dan hijau.  Salah satunya dengan menghentikan pembangunan serta mempensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) eksisting secara bertahap. 

Berdasarkan peta jalan, PLN akan mempensiunkan PLTU sub-critical  sebesar 10 gigawatt (GW) pada tahun 2035. Kemudian PLTU super critical sebesar 10 GW juga akan dipensiunkan pada tahun 2045. Tahap terakhir pada tahun 2055, PLTU ultra super critical 55 GW dipensiunkan.

Pada saat bersamaan, PLN akan berinvestasi besar-besaran untuk mempercepat peningkatan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) hingga 20,9 GW, serta pengembangan teknologi penyimpanan listrik dalam bentuk baterai berukuran besar hingga teknologi penangkapan karbon dan hidrogen. Program lain yang disiapkan PLN untuk mendukung transisi energi yaitu ekspansi gas, program co-firing, Konversi PLTD ke EBT, hingga peningkatan efisiensi energi dan pengurangan susut jaringan. Dan diharapkan pada tahun 2060, lebih dari setengah pembangkit kami akan berasal dari energi baru terbarukan dan seluruh PLTU telah digantikan.

Untuk mencapai target carbon Neutral di 2060, setidaknya PLN membutuhkan investasi lebih dari USD 500 miliar.  Sementara untuk mengakselerasi Carbon Neutral 2060, ada empat hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan. Kedua, investasi skala besar. Ketiga, penerapan teknologi dalam skala besar. Keempat, investasi pelanggan untuk beralih menggunakan peralatan rendah karbon. Untuk itu pengembangan bisnis dan kampanye electrifying lifestyle perlu lebih digaungkan, seperti penggunaan kompor listrik, kendaraan listrik, PLTS atap, dan perdagangan emisi.

Di tengah upaya menekan emisi karbon, PLN memiliki beberapa pendekatan untuk memastikan bisnis ketenagalistrikan yang berkelanjutan, di antaranya memastikan operasional perusahaan ramping dan efisien, memberikan energi hijau untuk masa mendatang, dan menjadi perusahaan yang berfokus pada pelanggan dengan memberikan layanan yang andal serta terjangkau. 

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Analisis Krisis Energi Dunia 2021 dan Lesson Learned Bagi Indonesia : Menjelang konferensi perubahan iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia, dunia dikagetkan dengan harga batu bara di bursa batu bara ICE Newcastle yang menembus angka USS270 per ton pada awal Oktober 2021.Harga batu bara telah naik 450% dalam satu tahun. Sama halnya dengan gas alam, harganya mencapai USS6 per MMBtu. Kenaikan harga kedua sumber energi primer itu, yang menyumbang 50% dari struktur energi dunia, merupakan kenaikan tertinggi dalam sejarah dan terjadi dalam waktu singkat.

Hal ini yang memicu krisis energi dunia pada 2021 yang pada akhirnya krisis ini banyak mengubah posisi negara-negara maju untuk tidak terburu-buru menghentikan batu bara sebagaimana yang disampaikan secara tertulis pada COP26 dan terungkap dalam berita yang dirilis BBC tentang dokumen yang bocor. Krisis energi ini dampaknya sudah mulai terasa di Eropa, Asia, bahkan Amerika-yang saat ini sedang ramai diperbincangkan.

Hampir semua analis sepakat bahwa penyebab utama krisis energi global ini secara umum memiliki dua alasan.Pertama, pemulihan ekonomi global pasca-pandemi covid-19 yang cepat dan tidak terduga. Pandemi covid-19 yang melanda dunia telah menghambat aktivitas ekonomi. Ketika aktivitas ekonomi menurun, permintaan energi juga menurun. Karena itu, produsen energi utama dunia memangkas produksi minyak dan batu bara.Para pakar di dunia memperkirakan pemulihan ekonomi pascapandemi akan berlangsung cukup lama, yakni sekitar 3-5 tahun. Namun, kurang dari setahun sejak vaksin pertama diluncurkan di Amerika, pada Desember 2020, banyak negara yang sudah keluar dari kondisi lockdown dan ekonomi berangsur pulih.Sekarang kita tahu bahwa analisis para pakar ini terbukti salah. Permintaan energi melonjak sekaligus, tetapi pasokannya tidak meningkat dan tetap di level pada 2020. Ini merupakan prinsip dasar ekonomi. Lebih banyak permintaan, lebih sedikit pasokan, yang berarti kekurangan. Jadi, prinsip ekonomi ini mendikte harga akan naik.Kedua, sulitnya transisi ke energi hijau.

Negara berlomba-lomba mengurangi emisi, terutama dari sektor energi. Tiongkok menutup ratusan tambang, mengurangi produksi pembangkit listrik tenaga batu bara, dan menggantinya dengan energi terbarukan.Saat ini Tiongkok menghadapi krisis energi yang disebabkan naiknya permintaan barang akibat pemulihan ekonomi yang tentunya juga meningkatkan kebutuhan energi. Akan tetapi, produksi batu bara untuk industry, termasuk pembangkit, tidak dapat dipenuhi dengan baik.Sementara itu, energi terbarukan tidak mampu menutup kekurangan kebutuhan energi. Hal ini membuat Tiongkok harus kembali mengandalkan batu bara. Namun, terjadi kelangkaan pasokan batu bara yang membuat harganya meroket.India juga merasakan hal serupa. India mengandalkan batu bara sebesar 70% dari bauran energinya. Walaupun Tiongkok dan India memiliki cadangan batu bara yang cukup banyak, hujan berkepanjangan membuat tambang batu bara kebanjiran sehingga mengakibatkan tidak dapat berproduksi. Pabrik-pabrik mereka tidak mendapat suplai listrik dan terancam mengalami pemadaman listrik secara massal.Negara-negara Eropa, termasuk Inggris, mengalami krisis energi.

Langkah pengurangan emisi yang diadopsi negara-negara Eropa dan Inggris ialah mulai menonaktifkan pembangkit listrik batu bara dan menjadikan gas alam sebagai penggerak utama energi. Namun, penghentian fasilitas produksi di AS dan pembatasan pasokan di Rusia (eksportir gas alam terbesar di Eropa, termasuk Inggris) menyebabkan pasokan gas alam tidak dapat mengimbangi permintaan.Akan tetapi, jika ditelaah lebih lanjut, langkah penggantian batu bara dengan gas alam bukanlah solusi mengatasi perubahan iklim. Komponen utama pada gas alam ialah CH4 (metana) yang diketahui kapasitas penyerapan panasnya sekitar 80 kali lipat dari CO2. Hal ini nyatanya tidak sejalan dengan upaya mencapai target memerangi perubahan iklim.Selain kekurangan pasokan gas alam, negara Eropa dan Inggris juga mengalami krisis energi akibat output tenaga angin yang jauh lebih rendah dari yang diharapkan.

Pengembangan energi terbarukan secara masif di Eropa telah menjadi bumerang bagi Eropa sendiri.Eropa menghasilkan energi terbarukan dari dua sumber utama. Tenaga angin di laut utara yang menjadi andalan di Inggris, Jerman, dan Denmark serta tenaga hidro yang menjadi andalan di Norwegia.Sekarang, kedua sumber tersebut mengering, angin tidak bertiup, dan ketinggian air di Norwegia merosot. Bahkan, Amerika Selatan juga menghadapi masalah yang sama dengan Norwegia.Penurunan tajam kontribusi tenaga angin dari 25% drop ke hanya 7% dari bauran energi Eropa selama 2021

Grid storage battery dan supersmart grid yang mengoneksikan seluruh negara di Uni Eropa dengan jaringan listrik pintar yang digadang-gadang sebagai solusi intermittency ternyata tidak dapat menolong ketika angin tidak bertiup selama berbulan-bulan.Bahkan, perusahaan penyediaan grid storage di Australia, Hornsdale Power Reserve, yang menggunakan baterai Tesla dengan output 150 MW-yang terbesar serta tercanggih di dunia, dituntut Regulator Energi Australia (AER) karena gagal menyediakan daya sesuai kontrak.Sarah McNamara, CEO Australia Energy’ Council, dalam wawancara dengan SkyNews mengatakan bahwa teknologi baterai saat ini belum dapat menjadi solusi intermittency renewable—“not a silver bullet solution to renewable storage”. Semua hal di atas menjadi sebuah resep untuk ‘the perfect storm’, sebuah krisis energi global yang belum pernah terjadi dalam sejarah yang akhirnya menyebabkan terjadinya lonjakan tarif listrik tertinggi dalam sejarah Eropa. Energi terbarukan tidak terbukti dapat menggantikan energi fosil sebagai energi primer.

Jerman, yang melakukan pengembangan energi terbarukan secara masif, dapat dijadikan contoh. Harga listrik di Jerman naik dua kali lipat dan tidak terjadi penurunan emisi CO2 secara signifikan seperti yang diharapkan. Justru Prancis dengan 75% nuklir memiliki emisi empat kali lebih rendah daripada Jerman dengan tarif listrik lebih murah. Salah satu korban yang mengalami kerugian atas tingginya harga energi di Jerman ialah Otima Energie, sebuah perusahaan ritel listrik dan gas kecil Jerman. Energie beberapa waktu lalu menyatakan dirinya bangkrut, korban terakhir dari melonjaknya harga energi. Sementara itu, E.ON, Entega, dan EnBW untuk sementara menarik kesepakatan gas mereka dari portal perbandingan harga Verivox. Tingginya harga energi ini akan menjadi musibah bagi masyarakat serta industri energi mengingat musim dingin yang akan tiba dan kebutuhan akan meningkat, sedangkan harga melambung tinggi.Walaupun Indonesia saat ini tidak terlalu terdampak dengan adanya krisis energi global, Indonesia perlu belajar dari pengalaman negara Eropa, dengan terjadinya krisis energi ini tidak dapat disangkal, merupakan kegagalan perencanaan energi Eropa. Mengingat, perencanaan energi Indonesia 40 tahun ke depan sangat mirip dengan kebanyakan negara Eropa, khususnya Jerman. Hal yang demikian berpotensi terjadinya kesalahan yang sama dan terjadinya krisis energi di masa yang akan datang.

Pelajaran dari krisis energi dunia ini ialah; ekonomi tidak dapat mengandalkan energi yang bergantung kepada cuaca; ekonomi tidak dapat terlalu bergantung kepada energi yang memiliki volatilitas harga yang tinggi atau dengan kata lain komponen harga bahan bakar tidak boleh menjadi faktor dominan dalam biaya pokok produksi listrik; smart grid dan battery storage tidak dapat menjadi solusi intermittency; dan yang terpenting ialah dalam phasing-out energi fosil harus digantikan dengan energi bersih yang memiliki kemampuan, keandalan, dan keekonomian yang setara dengan energi fosil.Bahwa faktanya hanya ada satu negara di Eropa yang tidak terlalu terpengaruh dengan krisis energi bahkan dalam keadaaan krisis masih menjadi net exporter energi kedua terbesar setelah Norwegia, yaitu Prancis. Prancis mengandalkan lebih dari 75% bauran energi yang berasal dari nuklir. Hal ini membuktikan keandalan, nuklir, serta tidak berpengaruh terhadap efek volatilitas bahan bakar.Mengapa ini dapat terjadi? mungkin hal tersebut disebabkan perencanaan energi yang dilakukan banyak negara di dunia tidak berdasarkan fakta dan data. Karena itu, menafikan fakta bahwa nuklir merupakan teknologi yang terbukti aman dengan kematian per TWh terkecil.

Nuklir memberikan kontribusi nomor dua terbesar setelah hidro dari total bauran energi bersih dunia. Tak hanya itu, nuklir selama lebih dari setengah abad telah berkontribusi menghilangkan lebih 70 giga ton gas rumah kaca-nuklir terbukti saat ini dan di masa depan merupakan solusi climate change, dan ini merupakan fakta yang tidak dapat dinafikan lagi. Seperti yang di sampaikan Rafeal Mariano Grossi, Direktur Jenderal IAEA dalam pesannya kepada COP26.Perubahan iklim merupakan sebuah ancaman nyata terhadap peradaban umat manusia. Oleh sebab itu, perencanaan transisi energi ini harus dipersiapkan dengan berdasarkan fakta, data secara komprehensif dengan membuka semua opsi. Termasuk, nuklir yang sudah terbukti andal dan memiliki tingkat keselamatan tertinggi agar dapat lepas dari ketergantungan energi fosil serta dapat mencapai target perubahan iklim sebagaimana Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris menjadi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim).