Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 13 Januari 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Kondisi Migas nasional 2021 dan perkembangan 2022. Produksi minyak bumi Indonesia tahun 2021 semakin merosot dan mencapai kisaran 660 ribu barel per hari. Sementara lifting gas bumi pada 2021 mencapai 982 MBOEPD, turun dari  983 MBOEPD pada 2020.  Perhitungan biaya lifting ikut mengalami peningkatan karena adanya sejumlah treatment ekstra yang harus dilakukan dari hasil lifting di sumber-sumber minyak tua.

Sementara pada 2022, diperkirakan akan menjadi tantangan mengingat banyak perusahaan -perusahaan migas yang hengkang dari Indonesia dan melakukan merger serta akuisisi pada 2022. Sejumlah perusahaan migas global memiliki strategi untuk mengkonsolidasi asset-aset hulu migas di negaranya. Perusahaan sekelas ExonMobil, Chevron, Conocophilips cenderung untuk menggese portfolio bisnisnya dan  bergerak pada bisnis yang lebih hijau. Isu nasionalisasi juga menjadi salah satu concern bagi perusahaan migas global untuk memilih meninggalkan Indonesia. Ditambah lagi, masalah kepastian hukum dan rezim fiskal masih menjadi perhatian para investor untuk menanamkan investasinya di Indonesia sehingga Indonesia cenderung masih kalah dari negara-negara tetangga.

Untuk mendorong pelaksanaan transisi energi menuju net zero emission pada 2050-2060 diperlukan penguatan pasokan dan infrastruktur gas bumi nasional. Kebutuhan gas bumi akan sangat signifikan seiring dengan penggunaan kembali gas di Eropa. Untuk lebih mengoptimalkan penggunaan gas yang lebih efektif dan efisien dibutuhkan inovasi dan teknologi yang lebih terintegrasi. Pada tahun 2022, peningkatan pengelolaan niaga gas untuk sektor retail, komersial, dan kelistrikan diperkirakan akan lebih dari 1000 BBTUD termasuk pengolahan untuk LNG Internasional. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring menjadi 1.400 BBTUD pada tahun 2027.

Kebutuhan minyak mentah dunia diperkirakan akan kembali mencapai kondisi normal sebesar 100 juta barel per hari pada 2022 dan harga minyak mentah dunia akan berada pada level US$65-80 per barel. Namun hal tersebut akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana dunia dapat mengendalikan pandemic yang terjadi. Hal-hal yang diperkirakan akan menstabilkan harga minyak adalah naiknya optimism investasi perusahaan migas dunia yang diimbangi oleh fokus perusahaan migas membayar utang dan dividen. Harga minyak juga akan sangat terpengaruh dari krisis energi, hubungan diplomatic Amerika Serikat dan Cina sera masalah pipa gas Rusia ke Eropa, serta Australia-China.  

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Kapasitas Listrik 2021 Capai 74 GW, PLTU Dominan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat realisasi kapasitas terpasang pembangkit listrik mencapai 74 gigawatt (GW) pada tahun 2021, atau naik sekitar 1,2 GW dibandingkan 2020.  Kapasitas ini didominasi oleh peningkatan kapasitas pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dari sebelumnya 36,7 GW pada 2020, menjadi 37 GW pada 2021.  Kemudian pembangkit listrik tenaga air (PLTA) naik dari 6,1 GW menjadi 6,6 GW; pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) naik dari 20,8 GW menjadi 20,9 GW; pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dari 4,9.

Kemudian konsumsi listrik per kapita meningkat dibandingkan 2015 yakni 910 kilowatt hour (kWh) per kapita menjadi 1.123 kWh per kapita pada 2021. Selain itu, pemerintah merencanakan peningkatan kapasitas listrik pada 2022 menjadi 76,3 GW serta kenaikan konsumsi listrik mencapai 1.268 kWh per kapita.  Target ini dipatok seiring dengan program peningkatan konsumsi listrik serta pembangunan infrastruktur di daerah yang belum terjamah aliran listrik. 

Sementara itu, pada pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) mencatat total kapasitas terpasang pembangkit listrik EBT hingga akhir 2021 mencapai 11,152 MW atau meningkat 650,03 MW sepanjang tahun lalu.    Angka ini sejatinya tidak mencapai target yang sebelumnya ditetapkan pemerintah sebesar 11.357 MW.   Untuk itu ke depannya  dalam rangka mencapai  target menurunkan emisi dan target bauran,  sumber energi EBT yang kita miliki harus bisa kita manfaatkan agar target penurunan emisi bisa kita penuhi.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Menteri ESDM Baru Bisa Buka Ekspor Batu Bara, Jika Stok PLN Tercukupi. MESDM akan membuka ekspor batubara disaat PT PLN menyatakan kecukupan stok dalam negeri sudah terpenuhi. Ekspor akan diprioritaskan bagi perusahaan yang sudah memenuhi 100 persen komitmen untuk Domestic Market Obligation (DMO). Sementara itu, perusahaan tambang yang belum memenuhi kewajiban pasokan domestik untuk memenuhi lebih dulu ketentuan pemerintah sebelum diberikan izin ekspor.

Untuk itu  perusahaan pertambangan agar mematuhi aturan tersebut, jika tidak bisa diberikan sanksi. Seperti diketahui, pemerintah secara parsial telah membuka ekspor batu bara aturan tersebut tertuang di Keputusan Menteri ESDM Nomor 139.K/HK/03/MEM/B/2021 tentang Pemenuhan Kebutuhan Batu Bara di Dalam Negeri alias Domestic Market Obligation (DMO).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan juga mengungkapkan larangan ekspor dibuka karena melihat pasokan PLN yang sudah mampu memenuhi hingga 25 hari kedepan. Sudah ada beberapa belas kapal yang diisi batu bara telah diverifikasi dan akan dilepas. Untuk masalah pasokan untuk PLN dan IPP dengan meniadakan skema penjualan free on board (FoB). Lalu, menggantinya dengan skema cost in insurance and freight (CIF).

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan pelarangan ekspor batu bara ke luar negeri pada 31 Desember 2021 lalu yang berlaku mulai 1-30 Januari 2022. Langkah itu dilakukan guna menyelamatkan 10 juta pelanggan PLN mulai dari masyarakat hingga industri dari ancaman pemadaman listrik akibat kekurangan bahan baku batu bara untuk menyalakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)