Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 18 Januari 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Harga minyak Dunia naik pada perdagangan awal pekan ke-3 di awal tahun 2022. Harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2022 naik 42 sen, atau 0,5% menjadi US$ 86,48 per barel. Kontrak tersebut menyentuh level tertinggi sejak 3 Oktober 2018, saat menyentuh US$ 86,71 per barel. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2022 naik 62 sen atau 0,7% ke US$ 84,44 per barel. Di awal sesi, WTI mencapai US$ 84,78 per barel, posisi tertinggi sejak 10 November 2021.

Beberapa faktor yang mendorong kenaikan harga antara lain:

  • Permintaan global yang meningkat, tidak terganggu oleh efek corona varian omicron.
  • Panic buying yang didorong oleh pemadaman pasokan.
  • Sentimen bullish yang terus berlanjut karena OPEC+ tidak menyediakan cukup pasokan untuk memenuhi permintaan global yang kuat
  • OPEC+ secara bertahap melonggarkan pengurangan produksi yang diterapkan ketika permintaan turun pada tahun 2020.
  • Kekhawatiran akan serangan Rusia di negara tetangga Ukraina yang dapat mengganggu pasokan energi juga ikut menaikan harga.
  • Stok minyak mentah AS yang turun lebih dari yang diharapkan ke level terendah sejak Oktober 2018.
  • II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

    Bauran EBT Baru 11,5%, ESDM Yakin Capai Target di 2025, Pemerintah menargetkan porsi bauran energi dari energi baru terbarukan (EBT) mencapai 23% di 2025. Walaupun saat ini, porsi EBT baru 11,5 %. Realisasi bauran EBT tahun 2021 masih jauh di bawah target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang sebesar 14,5%. Sementara target bauran EBT dalam RUEN untuk tahun 2022 sebesar 15,7%.

    Adapun upaya percepatan yang kami lakukan kedepan untuk mendorong percepatan pengembangan EBT menuju target 23% di tahun 2025 adalah Pertama, penyelesaian Rperpres Harga EBT. Kedua, penerapan Permen ESDM PLTS Atap. Ketiga, peningkatan mandatori bahan bakar nabati (BBN). Keempat, pemberian insentif fiskal dan non fiskal untuk EBT. Kelima, kemudahan perizinan berusaha. Keenam, mendorong demand ke arah energi listrik

    Dalam kurun lima tahun terakhir, penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 1.730 MW dengan kenaikan rata-rata sebesar 4,3%per tahunnya. Kapasitas terpasang PLT EBT tahun 2021 mencapai 654,76 MW dari target 854,78 MW. Tambahan kapasitas pembangkit listrik EBT tahun 2021 sebesar 654,76 MW, diantaranya dari PLTA Poso Peaker Expansion #1-4, PLTA Malea, 3 unit PLTP, PLT Bioenergi, 18 unit PLTM, dan 7 unit PLTS dan PLS Atap

    III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara, dan Umum

     Batubara dan CPO menjadi motor ekspor 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2021 mencapai US$231,54 miliar atau naik 41,88% dibanding periode yang sama tahun 2020. Secara komoditas, penyumbang ekspor tertinggi pada 2021 adalah bahan bakar mineral US$32,84 miliar dengan share 14,98%, diikuti oleh lemak dan minyak nabati US$32,83 miliar atau 14,97%. Adapun, bahan bakar mineral termasuk batu bara dan minyak nabati ini termasuk minyak sawit atau CPO.

     Sementara itu, dari sektornya, penyumbang terbesar adalah industri pengolahan yang naik 35,11% atau sebesar US$177,11 miliar sepanjang 2021. Kemudian dari share-nya, industri pengolahan tercatat 76,49%. Kemudian, ekspor terbesar kedua adalah pertambangan sebesar US$37,92 miliar dan share-nya 16,38% pada 2021. Kinerja ekspor cukup mengembirakan dan diharapkan tren ini berlanjut di 2022 dan itu berdampak pada pemulihan ekonomi.

    Transformasi besar banga. Pandemi covid-19 tidak boleh menghentikan transformasi besar Indonesia. Presiden ingin tantangan dihadapi dengan baik, bahkan dijadikan batu loncatan menggapai target pokok yang ditetapkan. Terdapat tiga transformasi, yakni di industri hilir, ekonomi hijau, dan ekonomi digital. Terobosan dilakukan di transformasi industri hilir dengan tidak mengekspor bahan mentah sejak 2020. Ekspor bahan tambang separuh jadi memberikan nilai tambah sangat besar.

    Sebagai contoh, saat ekspor nikel mentah tujuh tahun lalu, Indonesia yang mengantongi USD1 miliar atau Rp14 triliun. Sementara pada 2020, Indonesia mengantongi USD20,8 miliar atau Rp300 triliun ketika mengekspor olahan nikel. Meskipun banyak tantangan terkait transformasi ini, termasuk pertentangan dari negara yang membeli nikel dari Indonesia. Namun presiden menyatakan tidak takut, bahkan siap menghadapi negara-negara yang mengadukan Indonesia ke organisasi perdagangan dunia (WTO). 

    Di sisi lain, transformasi ekonomi hijau juga harus terus dikebut. Indonesia tengah membangun sebuah kawasan industri di Kalimantan Utara yang didesain ramah lingkungan. Di Eropa, kalau dihasilkan dari produksi energi hijau, itu akan dihargai lebih tinggi. Indonesia mempunyai modal besar yaitu berupa sumber energi baru terbarukan (EBT) yang begitu melimpah. Indonesia memiliki potensi EBT 418 ribu megawatt yang berasal dari sungai, arus bawah laut, geothermal dan angin yang bisa dikembangkan secara maksimal.

    Transformasi besar yang terakhir ada di sektor ekonomi digital. Perkembangan sektor digital di Tanah Air juga jauh lebih pesat dibandingkan negara-negara lain. Di 2025, nilai pasar digital kita akan mencapai USD146 miliar. Ada potensi Rp2.100 triliun yang bisa diraih. Pemerintah berkomitmen terus membangun infrastruktur pendukung transformasi digital. Di 2021, pemerintah telah memulai konstruksi satelit multifungsi Satria-1. Sebanyak 12.500 base transceiver station (BTS) juga tengah didirikan di belasan ribu desa dan kelurahan yang belum memiliki akses 4G.

    Terkait hal tersebut di atas yang terpenting adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Tanpa ada SDM yang baik transformasi sulit dijalankan. Institusi pendidikan tinggi diharapkan dapat membantu para mahasiswa mengembangkan talenta mereka.