Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 24 Januari 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Penggunaan LNG di ASEAN dan hydrogen di Australia pada 2022. Negara negara di Asia Tenggara sedang berjuang menghadapi kekurangan batubara dan LNG, setelah adanya larangan jangka pendek ekspor batubara pada awal 2022 kemarin. Di sisi lain Indonesia telah mendorong Pertamina dan produsen LNG swasta untuk memprioritaskan kebutuhan gas dalam negeri yang menyebabkan masalah ke pelanggan seperti Singapura pada tahun 2021.

Indonesia saat ini sedang mencari keseimbangan antara masalah keamanan energi dan daya saingnya sebagai salah satu pengekspor bahan bakar fosil terbesar di Asia serta meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim.

Di tahun 2022, Indonesia diperkirakan akan lebih banyak mengalihkan kargo LNG untuk penggunaan domestic khususnya sektor pembangkit listrik berdampak pada komitmen ekspor untuk luar negeri. Pada 2021, kebutuhan LNG domestic mencapai 56 kargo dimana sekitar 54 kargo LNG dialokasikan untuk pembangkit listrik, sisanya oleh industri.

Sementara itu, Australia diperkirakan akan mulai meningkatkan penggunaan hydrogen di dalam jaringan gas alam menyusul keberhasilan proyek awal yang memadukan 5% hydrogen ke dalam jaringan gas alam. Meskipun demikian proses ini diperkirakan akan memakan waktu sekitar 4 tahun sebelum mulai meningkatkan ke skala yang lebih komersial. Ditargetkan pada 2030, volume gas terbarukan mencapai 10% dari total volume gas yang disalurkan. Dan paling lambat pada 2050 seluruh jaringan distribusi gas alam dapat didekarbonisasi.

Proses pencampuran hydrogen sudah mulai dilakukan sejak Mei 2021. Saat ini perusahaan gas mulai mencampur 5% hydrogen yang berasal dari angin dan matahari untuk 700 rumah tangga. Jumlah ini ditingkatkan menjadi 23.500 pelanggan rumah tangga, 100 pelanggan komersial, dan tujuh pelanggan industri pada November 2021.

Proyek proyek yang dijalankan mendapat bantuan pendanaan dari pemerintah federal dan negara bagian sebesar US$1,2 miliar. Dana tersebut diantaranya digunakan untuk membangun empat pusat hydrogen bersih, skema sertifikasi hydrogen bersih, dan pengembangan penangkapan karbon. Menurut analis S&P, campuran 5% hydrogen dapat meningkatkan tagihan ritel di Australia antara 1,35% dan 2,98% dengan aumsi 30% biaya transmisi dan distribusi. Sedangkan untuk campuran 10% rata-rata tagihan akan meningkat 2,8% dan 6,19%. Namun untuk tingkat campuran di atas 20% diperkirakan diperlukan penguatan infrastruktur dan sedikit modifikasi peralatan

Tantangan penggunaan hydrogen dari sumber terbarukan adalah kecukupan produksi yang dihasilkan. Dengan campuran hydrogen 5% kebutuhan hydrogen mencapai 74 ribu ton per tahun. Jika ditingkatkan menjadi 10%, maka kebutuhan hydrogen mencapai 167 ribu ton per tahun.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Permen PLTS Atap Resmi Diterapkan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan Peraturan Menteri ESDM tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Peraturan Menteri ini merupakan penyempurnaan dari peraturan sebelumnya sebagai upaya memperbaiki tata kelola dan keekonomian PLTS Atap. Juga sebagai upaya memfasilitasi masyarakat dan mengurangi efek rumah kaca.

Setelah sempat ditunda beberapa bulan, aturan baru penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, yakni Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 26 Tahun 2021 Tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap, akhirnya diimplementasikan juga. Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2021 ini dapat dilaksanakan dan telah didukung oleh seluruh stakeholder.

Permen ESDM No. 26 Tahun 2021 memuat sejumlah ketentuan baru. Salah satu ketentuan baru yang cukup mendapat sorotan di antaranya perubahan ketentuan ekspor-impor kWh listrik ke dan dari jaringan PLN dari semula 0,65:1 menjadi 1:1.  Dengan ketentuan ini, pelanggan/pengguna PLTS atap bisa mengekspor/menjual 100% produksi listriknya ke PLN. Ekspor listrik tersebut pada gilirannya akan digunakan dalam perhitungan energi listrik pelanggan pengguna PLTS atap dan bisa mengurangi tagihan listrik pelanggan.

Selain itu juga,  Permen ESDM No.26 Tahun 2021 memegang peranan penting untuk mendukung pencapaian target 23% bauran energi terbarukan di 2025, sejalan dengan target yang dimuat dalam PP No. 79/2014 (KEN), Perpres No. 22/2017 (RUEN), serta rencana transisi energi untuk mencapai target Net-Zero Emission di 2060. Dan untuk mendukung pelaksanaan Permen tersebut, seluruh KL (kementerian dan lembaga) terkait harus menyiapkan kebijakan/regulasi pendukung agar program PLTS Atap mampu menciptakan multiplier effect bagi perekonomian Indonesia.

Di sisi lain, Pemerintah berencana akan menyesuaikan atau menaikkan tarif listrik untuk pelanggan non subsidi (tariff adjustment) paling cepat pada kuartal III-2022 atau bisa dimulai pada Juli 2022. Penyesuaian tarif listrik di tahun ini akan ditinjau dalam kurun waktu maksimal enam bulan, sesuai dengan kesepakatan dengan Badan Anggaran DPR RI. Dengan adanya Permen ESDM No.26 Tahun 2021 ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi konsumen untuk penggunaan PLTS atap guna menghemat tagihan listriknya.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara, dan Umum

Logam tanah jarang terdapat di Lumpur Lapindo. Rare earth atau logam tanah jarang memiliki manfaat yang luar biasa untuk sejumlah industri, terutama untuk industri mobil listrik. Minerals economist and managing Director of MinEx Consulting, sebuah perusahaan konsultan pertambangan yang berbasis di Melbourne, Australia, pernah mengatakan satu mobil listrik membutuhkan sekitar 16 kg rare earth. Ke depan kebutuhan akan mobil listrik akan semakin meningkat, seiring gerakan dunia yang ingin menekan emisi karbon. Diperkirakan, dalam 10 atau 20 tahun ke depan, setengah dari mobil baru yang dikeluarkan pabrikan merupakan mobil listrik.

Peningkatan produksi mobil listrik tecermin juga dari proyeksi kenaikan investasinya. AlixPartners, sebuah perusahaan konsultan yang bermarkas di Newyork, Amerika Serikat, memperkirakan investasi mobil listrik akan mencapai USD330 miliar atau lebih dari Rp4.700 triliun pada 2025. Tahun 2020 produsen otomotif global telah menghabiskan hampir USD225 miliar atau lebih dari Rp3.200 triliun. Tren mobil listrik itulah yang nantinya akan mengerek permintaan rare earth. Permintaan tahunan kolektif global untuk tanah jarang, dua tahun lalu kira-kira 170.000 ton. Jika banyak negara berkeinginan memproduksi mobil listrik, kebutuhannya akan naik berlipat-lipat.

Permintaan yang naik itu tentu saja akan membuat harga rare earth, untuk jenis tertentu, akan semakin meroket. Saat ini saja harga sejumlah jenis rare earth ratusan kali lipat dari harga batu bara. Mengutip Institute of Rare Earths and Metals, harga sejumlah jenis rare earth sebagai berikut:

  1. Neodymium Metal harganya mencapai 157.856,69 euro atau USD178.378 yang kalau dirupiahkan dengan kurs Rp14.300 mencapai Rp2,55 miliar per metrik ton.
  2. PrNd Mischmetal harganya 145.840,46 euro atau USD164.799 (Rp2,35 miliar).

Bandingkan dengan harga baru bara yang berada di kisaran USD200 per metrik ton. Itulah sebabnya rare earth disebut-sebut sebagai harta karun yang diburu dunia. Dan harta karun ini kini ada di lumpur lapindo.