Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 25 Mei 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Realisasi Subsidi Energi yang telah digelontorkan pemerintah per April 2022 mencapai Rp 46,45 triliun. Realisasi tersebut mencakup subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang mencapai Rp 34,8 triliun atau sudah mengalami kenaikan hingga 50% dibandingkan April 2021 yang hanya mencapai Rp 23,2 triliun. Selanjutnya, penggelontoran subsidi listrik sebesar Rp 11,6 triliun. Realisasi penyaluran subsidi berdasarkan volume untuk BBM (solar dan minyak tanah) sebanyak 4,1 juta kiloliter, LPG sebanyak 1,9 juta kilogram dan 38,4 juta pelanggan listrik bersubsidi.

Kenaikan harga komoditas berdampak terhadap meningkatnya beban subsidi BBM dan LPG. Realisasi BBM dan LPG sampai April 2022 sudah mencapai 44,8% dari pagu APBN 2022. Adapun kompensasi BBM Rp 18,1 triliun telah dibayarkan untuk memenuhi kewajiban pemerintah atas penugasan penyediaan pasokan BBM dalam negeri.

Lonjakan penyaluran subsidi disebabkan adanya kenaikan ICP, percepatan pencairan kurang bayar subsidi energi, peningkatan volume penyaluran barang bersubsidi serta untuk menjaga daya beli masyarakat dari meningkatnya harga minyak dunia.

Secara keseluruhan, penyaluran Subsidi pada April 2022 mencapai Rp 56,62 triliun, Rp 46,45 triliun untuk subsidi energi dan Rp 10,16 triliun untuk kurang bayar tahun sebelumnya.

Pemerintah dan DPR telah menyepakati untuk menambah alokasi subsidi energi sebesar Rp 74,9 triliun. Terdiri dari Rp71,8 triliun untuk subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG dan Rp3,1 triliun untuk subsidi listrik tahun 2022. Total keseluruhan untuk Tahun 2022 kompensasi BBM dan LPG diperhitungkan mencapai Rp 274 triliun. Penambahan belanja energi tersebut akan diambil dari tambahan penerimaan negara yang diproyeksi mencapai sebesar Rp 429 triliun di tahun ini. Dengan asumsi outlook penerimaan negara dipatok menjadi sebesar Rp 2.266,2 triliun.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Merintis Kendaraan Listrik di Indonesia.  Saat ini fenomena energi hijau berkelanjutan dalam rangka transisi energi sedang menjadi isu hangat secara global. Indonesia pun ikut meramaikan pasar energi bersih ini, beberapa kebijakan massif terkait transisi energi dan pengurangan emisi CO2 sebagai dampak dari penggunaan bahan bakar fosil juga terus digalakkan. Salah satu inisiatif pemerintah belakangan ini adalah secara massif mendorong investasi kendaraan listrik termasuk baterai nya.

Pertemuan Jokowi dengan Elon Musk pada tanggal 14 Mei 2022 menandai keseriusan Indonesia menatap kendaraan listrik.  Presiden Joko Widodo bahkan mengundang langsung Elon Musk ke Indonesia. Sebagai salah satu orang berpengaruh di industri mobil listrik, kehadiran Musk sangat dinanti. Indonesia menanti Musk untuk berbagi pengalaman soal mobil listrik sekaligus berbagi investasi. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, April 2022, juga bertemu Musk di pabrik Tesla di Texas. Pada bulan yang sama, Presiden Direktur PT Adaro Energy Indonesia Tbk Garibaldi Thohir juga mengundang sejumlah pemimpin redaksi mengunjungi Tesla, Lucid Motors, dan Toyota Mirai, untuk melihat perkembangan kendaraan listrik dan hidrogen di AS.

Indonesia telah pula mendapatkan investasi terkait ekosistem kendaraan listrik. Hyundai Motor juga telah membangun pabrik mobil listrik. LG Chem juga mengembangkan pabrik komponen baterai listrik. Investasi terkait kendaraan listrik itu menjadi bagian dari investasi Korea Selatan di Indonesia sebesar 445,6 juta dollar AS pada triwulan I-2022.  Modal Indonesia jelas lebih besar dan vital untuk berkecimpung dalam industri kendaraan listrik. Kita punya cadangan nikel terbesar di dunia untuk membuat baterai kendaraan listrik. Bulan September 2021, Presiden Joko Widodo juga telah meresmikan pembangunan pabrik baterai PT HKML Battery Indonesia, di Karawang New Industry City (KNIC), Jawa Barat. HKML Battery Indonesia merupakan anak perusahaan konsorsium LG Energy Solution, Hyundai, Hyundai Mobis, Kia Mobil, dan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (BUMN Baterai Indonesia).

Menyaksikan sepak terjang pemerintah dan swasta, diproyeksikan dalam 3-4 tahun mendatang, hilirisasi industri nikel mulai terlihat hasilnya. Setelah baterai mampu kita bangun, sudah ada rencana untuk membangun bodi kendaraan listrik. Persoalannya, meski kita terus mendorong investasi kendaraan listrik, penerimaan pasar di Indonesia belum terlalu baik. Berdasarkan data Gaikindo, tahun 2020-2022, penjualan kendaraan listrik masih kurang 1 persen dari total penjualan. Bagi sebagian warga, mobil listrik terlalu mahal. Harganya bisa 2-3 kali lipat dari mobil sejenis dengan sumber energi fosil.

Adakah skema subsidi yang lebih baik bagi kendaraan listrik? Teorinya, biaya eksternalitas—akibat pencemaran udara, dapat dihitung untuk menentukan subsidi kendaraan listrik. Kematian akibat polusi pun menyebabkan kerugian 4,6 triliun dollar AS pada 2019, setara dengan 6,2 persen dari output ekonomi global.

Idealnya, harus dipikirkan terobosan agar masyarakat dapat membeli kendaraan listrik dengan harga terjangkau. Tanpa itu, di negeri dengan populasi salah satu yang terbesar di bumi ini, pasokan takkan bertemu dengan permintaan.

III. Sektor Geologi, MIneral, Batubara dan Umum

Pajak ekspor bahan baku. Indonesia dikenal sebagai produsen nikel terbesar di dunia. Menurut data Badan Survei Geologis Amerika Serikat (AS) atau US Geological Survey, produksi nikel Tanah Air mencapai 1 juta metrik ton pada 2021 atau menyumbang 37,04% nikel dunia. Sementara di Indonesia sedang membangun hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah dari tambang sampai battery cell.

Untuk itu, Kementerian Investasi sedang membangun wacana pengenaan pajak ekspor pada komoditas dengan tingkat pengolahan bahan baku kurang dari 70%. Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk melindungi investasi pada ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri. Ekspor bahan baku tersebut akan dikenakan pajak yang cukup tinggi. Dengan demikian, negara setidaknya mendapatkan kompensasi saat mengizinkan ekspor bahan baku bijih nikel.

Jika Indonesia tidak melakukan hilirisasi lewat regulasi yang sah, negara akan terus dirong-rong oleh negara-negara lain. Kini tengah terjadi kompetisi yang luar biasa di dunia. Eropa yang membuat aturan bahwa baterai cell harus di bangun di dekat pabrik mobil negara mereka. Larangan ekspor komoditas tentu akan berpengaruh terhadap iklim investasi. Namun, negara tegas mengatur arah kebijakan industri untuk mencapai transformasi ekonomi yang diharapkan.

Sejauh ini, telah ada lima industri asing yang melakukan investasi di ekosistem baterai kendaraan listrik. Kelima investor tersebut adalah LG Chemical, Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), Zhejiang Huayou Cobalt Co, BASF, dan Foxconn. Pada World Economic Forum (WEF) 2022.