Reviu Informasi Strategis Energi Dan Mineral Harian, 30 Mei 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Realisasi Pertamina dengan fiskal. Pertamina mengalami defisit arus kas operasional akibat harga jual eceran dan LPG bersubsidi  berada di bawah harga keekonomian. Pada Maret, defisit arus kas mencapai US$2,44 miliar atau sekitar Rp35,86 triliun. Diperkirakan bila tidak ada penerimaan dari pemerintah defisit arus kas bisa mencapai US$12,98 miliar atau sekitar Rp190 triliun hingga akhir 2022.

Selisih antara HJE dan harga keekonomian yang terlalu besar menyebabkan Pertamina mengalami defisit yang terlalu besar, namun pertamina tidak langsung dapat menaikan harga BBM dan gas LPG.

Bila defisit arus kas operasional belum diselesaikan pertamina berpotensi akan mengandalkan arus kas pendaraan dari utang atau menggunakan kas dari investasi untuk membiayai operasionalnya. Hal ini akan menyebabkan penurunan kualitas keuangan pertamina seiring meningkatnya rasio utang terhadap ekuitas. Bila peringkat utang turun, hal itu berpotensi menurunkan kemampuan Pertamina memperoleh sumber pendanaan eksternal untuk membiayai kebutuhan investasinya. Karena peringkat utang Pertamina biasanya melekat dengan peringkat sovereign rating pemerintah, penurunan peringkat utang Pertamian juga berpotensi menurunkan peringkat utang pemerintah. Jika rating pemerintah turun, akan menyebabkan penurunan rating korporasi BUMN lainnya di mata lembaga pemeringkat internasional.

Berdasarkan studi yang dilakukan, ada keterkaitan yang kuat antara bisnis hulu migas, Pertamina dengan fiskal. Vlatilitas harga crude, produksi migas memiliki dampak yang kuat terhadap APBN. Bila harga crude naik, akan berdampak positif bagi bisnis hulu migas dan fiskal. Kondisi ini akan meningkatkan pendapatan perusahaan hulu migas serta penerimaan APBN baik pajak maupun non pajak. Di sisi lain, karena adanya kewajiban badan usaha untuk memenuhi kebutuhan BBM dan gas LPG bagi masyarakat pada biaya berapa pun. Bedan usaha mengalami kesulitan untuk menjalankan misi tersebut .

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan 

Digitalisasi Topang Penjualan Listrik PLN, digitalisasi yang dilakukan oleh PLN berhasil membuat perseroan mencatatkan penjualan listrik sebesar Rp 288,86 triliun pada sepanjang 2021. Jumlah tersebut 5,08% lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan listrik pada 2020 yang sekitar Rp 274,9 triliun.  Dengan terhubungnya aplikasi PLN Mobile, Yantek Mobile, dan Virtual Command Center (VCC) dalam sebuah management information system mampu menghadirkan proses layanan yang cepat, tepat dan unified bagi pelanggan. Hal itu pun kemudian membuat PLN dapat memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan secara cepat dan tepat dengan tingkat kepuasan yang optimal.

Proses Bisnis PLN sebelumnya cukup kompleks, lambat, terfragmentasi, terbelit-belit, tidak termonitor dan kurang terkontrol, tidak efisien dan lemah dengan adanyanya digitalisasi yang dilakukan membuat perseroan menjadi lebih sederhana, cepat, terintegrasi, mudah, dan dapat dimonitor serta dikontrol secara real-time.

Selain itu, PLN juga menyematkan fitur ruang komunikasi antara unit-unit layanan perseroan dengan tim pelayanan teknik di lapangan dan pelanggan. Alhasil, pelanggan kini bisa secara aktif memberikan penilaian kepada petugas  yang berimbas kepada perubahan perilaku petugas ke arah yang semakin baik.

PLN juga menghadirkan dashboard sistem evaluasi kinerja bagi setiap petugas pelayanan teknik yang dapat dimonitor langsung oleh jajaran manajeman, ulai dari tinkat Unit Layanan Pelanggan (ULP) hingga Direksi. Upaya-upaya tersebut membuahkan hasil yang positif karena berhasil meningkatkan tingkat kepuasan kepada pelanggan. Masyarakat pun saat ini tidak ragu lagi untuk terus meningkamati layanan kelistrikan yang disediakan oleh perseroan.

Dari laporannya, PLN juga mencatatkan penambahan dai 79 juta pelanggan pada 2020 menjadi 82,5 juta pelanggan pada 2021. Penambahan tersebut diiringi dengan naiknya daya tesambung pelanggan dari 143.159 MVA pada 2020 menjadi 151.985 MVA pada 2021. Inovasi dan efisiensi yang dilakukan PLN berhasil membuat perusahaan setrum plat merah itu meraup laba bersih Rp 13,17 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan laba bersih pada 2020 yang sebesar Rp. 5,99 triliun. Proses ini menjadi tanda bahwa PLN sebagai jantungnya Indonesia semakin sehat. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, listrik mampu tumbuh lebih tinggi .

PLN menalankan transformasi yang membuat perusahaan makin sehat, bisa bergerak lebih lincah dalam menjalankan mandate negara untuk memberikan pelayanan kelistrikan kepada pelanggan dan mampu merespons berbagai peluang bisnis, sehingga dampaknya sangat positif terhadap kinerja perseroan.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Meningkatkan ekspor batu bara. Saat ini, sektor energi tengah menghadapi berbagai tantangan terutama imbas dari konflik Rusia dan Ukraina. Hal ini justru bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan di sektor energi, khususnya batu bara. Indonesia dan Malaysia sepakat untuk mempererat hubungan dagang, khususnya di sektor energi. Sebagai negara tetangga, Malaysia merupakan tujuan ekspor dari produk energi Indonesia khususnya batubara. Indonesia tentu berupaya menjaga dan meningkatkan ekspor batu bara ke Malaysia. Namun, tentu dengan mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri yang menjadi prioritas utama.

Kementerian Perdagangan menyiapkan delapan eksportir batu bara Indonesia untuk melakukan pertukaran kontrak (contract exchange) dengan perusahaan pemasok listrik Tenaga Nasional Berhad (TNB) Malaysia. Kontrak tersebut berisikan pembelian batu bara dengan nilai mencapai USD2,64 miliar. TNB sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Malaysia merupakan salah satu mitra strategis bagi para eksportir batu bara Indonesia. Pembelian batu bara TNB dari Indonesia pada 2021 mencapai 21,84 juta MT.

Kementerian Perdagangan mencatat, Indonesia merupakan negara pengekspor batu bara terbesar ke Malaysia. Pada 2021, Malaysia mengimpor batu bara sebesar 16,6 miliar Ringgit Malaysia dengan 73,8 persennya berasal dari Indonesia. Negara pengekspor lainnya adalah Australia dan Rusia dengan pangsa pasar masing-masing 17,9 persen dan 7,3 persen. Kontribusi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi di Malaysia sangat besar.

Tidak hanya malaysia, konflik Rusia dan Ukraina turut menyebabkan terhambatnya pasokan bahan bakar fosil seperti batu bara dari Rusia ke negara-negara di Eropa. Pemimpin Uni Eropa sepakat untuk menghapus semua impor batu bara dari Rusia. Jerman, termasuk negara yang mendukung sanksi Uni Eropa (UE) terhadap Rusia atas invasi yang dilakukan terhadap Ukraina.

Oleh sebab itu, Jerman mengungkapkan keinginannya untuk menjalin kerja sama suplai batu bara dari Indonesia. Menurut Badan Energi Internasional, Rusia merupakan pemasok batu bara terbesar bagi Eropa pada 2021, di mana Jerman termasuk yang tertinggi impor batu bara Rusia. Sekitar 10 persen listrik Jerman dihasilkan dari pembakaran batu bara. Dengan perkembangan situasi saat ini Jerman, Kementerian ESDM meminta Asosiasi Perusahaan Batubara di Jerman (VDKI) untuk berkoordinasi dengan asosiasi perusahaan serupa di kawasan Eropa, termasuk memastikan ketersediaan fasilitas pelabuhan, serta terms and conditions untuk kontrak tersebut.