Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 6 Juni 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Hydrogen sebagai tulang punggung Eropa pada 2030. Hydrogen terbarukan diperkirakan akan menjadi tulang punggung Eropa dalam penyediaan energi mendatang yang direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2030. Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan oleh EHB, ada sekitar 12 juta MT per tahun hidrogen hijau yang diproduksi oleh Uni Eropa mulai tahun 2030. Permintaan hidrogen hijau di uni eropa diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan penggunaan hidrogen di industri dan transportasi.

Eropa Tengah diperkirakan menjadi importir hidrogen dengan sumber pasokan dari Eropa Selatan, Eropa Barat Daya dan Afrika Utara. Afrika Utara dan Eropa Selatan akan mengangkut hidrogen hijau berbiaya rendah dari Tunisia dan Alzazair melalui Italia menggunakan infrastruktur gas yang ada. Program tersebut diperkirakan juga dapat mendekarbonisasi industri yang ada di sepanjang rute pipa tersebut. Wilayah Eropa Barat Daya  akan menghubungkan pasokan hidrogen hijau dari Semenanjung Liberia dan Afrika Utara untuk memasok fasilitas penyimpanan di Prancis. Sementara dari Laut Utara.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Uni Eropa berencana membangun jaringan pipa hidrogen khusus sepanjang 28 ribu KM pada tahun 2030 dan diperluas hingga 53 ribu km bagi 28 negara Eropa pada tahun 2040. Sekitar 60% adalah jaringan infrastruktur gas alam yang digunakan kemblai, sementara sisanya adalah 40 persen jaringan pipa baru. Platts Analytics memperkirakan biaya produksi hidrogen hijau sekitar $3/kg di Jerman pada tahun 2030.S&P Global Commodity Insights menilai biaya produksi hidrogen terbarukan melalui elektrolisis basa di Eropa pada EUR10,64/kg ($11,41/kg) berdasarkan harga listrik Eropa saat ini.

II. Sektor EBTKE dan Ketengalistrikan

Menyiapkan Pembangunan PLTS Terbesar di Dunia, Investasi EBT di Indonesia semakin menunjukan daya Tarik. Dengan semangat pemerintah melaksanakan transisi energi bersih sejumlah investor pun berencana membangun pembangkit listrik EBT di Tanah Air termasuk rencana untuk melakukan ekspor listrik hijau tersebut ke negara tetangga.

Quantum Power Asia menjadi salah satunya. Dengan menggandeng perusahaan asal Jerman lb Vogt, Quantum berencana membangun PLTS sebesar 3,5 GW di Kepulauan Riau. Proyek senilai 5 miliar dollar AS ini diperkirakan dapat menyerap 30 ribu tenaga kerja. Jika proyek PLTS terbesar di dunia mendapat dukungan dari Pemerintah Indonesia maka hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk mengejar target bauran energi dan juga pengurangan emisi karbon. Quantum sebelumnya telah berpengalaman dalam membangun proyek PLTS berkapasitas 15 MW di Gorontalo. Tak hanya itu, Quantum juga sedang membangun PLTS sebesar MWp untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dalam pemrosesan bijih nikel di Morowali, Sulawesi Tengah.

Pemerintah Singapura sedang mencari para produsen untuk memenuhi kebutuhan listrik bersih. Quantum menilai, untuk dapat melaksanakan ekspor listrik dari Indonesia ke Singapura, proyek tersebut harus membawa manfaat bagi kedua negara, selain ekspor ke Singapura, proyek ini juga akan membantu memenuhi kebutuhan listrik lokal dengan energi terbarukan dan  saat ini hampir seluruh industri sudah bergerak menuju energi bersih. Sehingga kebutuhan listrik dari EBT menjadi sangat dibutuhkan secara global. Selain itu juga, produsen teknologi internasional yang merupakan  pembeli bahan mentah sangat memperhatikan apakah produk yang mereka beli dihasilkan dari energi bersih, Maka, saat ini seperti indusri tambang data center dan industri lainnya inigin sekali memeakai listrik dari energi bersih.

Selain bisa menarik investasi sebesar 5 milliar dollas AS, Quantum juga mengatakan akan terdapat efek pengganda yang bisa dihasilkan proyek tersebut. Hal itu antara lain pekerja konstruksi, pekerja angkatan muda dan pekerja kelas menengah. Proyek ini juga dapat menghadirkan sejumlah infrastruktur pendukung seperti, jembatan, jalan raya hingga pelabuhan. Bisnis pendukung seperti UMKM juga berpotensi tumbuh denga adanya opersional PLTS. Apabila  proyek 3,5 GW di Kepulauan Riau ini dapat terealisasi, dapat dijadikan sebagai proyek acuan untuk membangun proyek-proyek serupa di wilayah lain di Indonesia untuk menyediakan listrik dari eneergi terbarukan secara domestik untuk Indonesia.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Harga lithium, logam langka yang digunakan dalam pembuatan baterai isi ulang, telah melonjak lima kali lipat sejak April tahun lalu karena naiknya permintaan dari produsen mobil, menurut laporan perusahaan riset Inggris Argus Media, lonjakan harga juga terjadi pada jenis logam lain seperti kobalt dan nikel yang digunakan untuk baterai, menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari harga keseluruhan mobil listrik (EV). Lonjakan permintaan, bersama dengan invasi Rusia ke Ukraina yang telah mengganggu rantai pasokan lithium, pada gilirannya memungkinkan kenaikan harga EV yang membuat mobil menjadi semakin tidak terjangkau bagi konsumen dan berpotensi memperlambat peralihan dari mobil berbahan bakar fosil.

Menurut Argus, harga lithium, yang sering diperdagangkan dalam yuan China, telah naik dari sekitar 89.000 yuan (Rp192,8 juta) per ton pada April tahun lalu menjadi 486.000 yuan (Rp1,05 miliar) per ton. Harga kobalt meningkat 1,8 kali dan nikel naik 1,5 kali pada periode yang sama. Laju kenaikan harga nikel dipercepat setelah Rusia, produsen utama logam itu, invasi Ukraina, meningkatkan kekhawatiran pasokan. Analis senior di SMBC Nikko Securities memandang harga EV perlu dinaikkan sekitar 30 persen apabila harga logam langka dan bahan mentah lainnya yang digunakan dalam produksi EV terus naik. Di Amerika Serikat, Tesla menaikkan harga di seluruh jajaran produknya pada awal tahun untuk membebankan biaya bahan baku yang lebih tinggi kepada pelanggan. Hal tersebut dapat menjadi faktor yang memperlambat popularitas EV.

EV tidak mengeluarkan karbon dioksida saat dikendarai sehingga menarik bagi konsumen yang sadar lingkungan. Namun, EV lebih mahal daripada kendaraan hibrida dan hanya dapat menempuh jarak yang relatif pendek dengan sekali pengisian daya. Para produsen mobil juga sangat bergantung pada subsidi pemerintah untuk mempromosikan penjualan EV. Sebagai informasi, para produsen mobil mempercepat langkah menuju elektrifikasi sebagai respon atas upaya global untuk mengurangi emisi karbon. Toyota Motor pada Desember lalu mengatakan pihaknya memiliki target untuk menjual 3,5 juta EV di seluruh dunia pada tahun 2030. Honda Motor menargetkan penjualan tahunan 2 juta EV pada tahun 2030, sementara Nissan Motor menargetkan EV mencapai 50 persen dari keseluruhan penjualan pada tahun yang sama. Sementara itu, produsen mobil Jerman Volkswagen AG, mengatakan akan membangun beberapa pabrik pembuatan baterai di Eropa.