Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 14 Juni 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Persediaan pasokan gas alam global semakin menipis.  Selain dipengaruhi oleh panasnya kondisi geopolitik Rusia dan Ukraina, terbakarnya fasilitas LNG di Quintana diperkirakan memperburuk  pasar dan harga gas alam global.  Meledaknya fasilitas gas alam di Texas yang baru saja terjadi diperkirakan akan mengancam pasar dan harga  gas alam dunia. Selain pasar Eropa, LNG Freeport juga memasok Jera dan Osaka Gas masing masing sekitar 2,32 juta MT per tahun.  Bagi Jepang, penutupan terminal LNG Freeport di AS akan berpengaruh terhadap utilitas listrik lokal untuk memenuhi permintaan listrik musim panas yang akan mulai dalam beberapa minggu. Apabila tidak diantisipasi dikhawatirkan dapat terjadi pemadanan.

Penutupan fasilitas dalam waktu sementara akan mengurangi produksi pabrik 8 persen per bulan. Eropa dan Inggris akan menjadi wilayah yang paling terkena dampak mengingat sekitar 80 persen kargo Freeport LNG ditujukan untuk pasar tersebut, terlebih sebentar lagi wilayah Eropa akan mulai memasuki musim panas.

Akibat kejadian tersebut, terminal LNG diperkirakan akan  tutup selama tiga minggu dan menyebabkan aliran feedgas turun dari sebelumnya rata-rata 2 Bcf per hari menjadi 390 MMSCF per  hari. Amerika serikat adalah salah satu pemasok LNG terbesar di dunia dan menyumbang lebih dari seperlima ekspor global. Sedangkan produksi dari fasilitas LNG freeport mencapai 18 persen dari ekspor. Meskipun perkiraan awal downtime sekitar tiga minggu, tetapi dampak produksi kemungkinan akan berlanjut hingga Juli.  Harga gas berjangka NYMEX juga jatuh ke level terendah mendekati US$8 per MMBTU.

Sebagian besar negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Tiongkok sudah melakukan pengadaan permintaan musim panas sehingga penutupan fasilitas LNG di Texas tidak berdampak langsung pada permintaan domestic masing masing engara. AS adalah pemasok LNG terbesar keempat di jepang selama Januari-April dengan volume 1.596 juta MT dan menyumbang 6 persen dari total impor 25.974 juta MT.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Kejar Target EBT, Pengembangan Panas Bumi Harus Jadi Prioritas,

Panas bumi seharusnya menjadi sumber daya alam yang menjadi prioritas dalam pengembangan untuk mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) karena dengan cadangan yang besar, panas bumi memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan jenis EBT lain. Panas bumi dapat menjadi baseload (beban dasar) karena tidak menghadapi masalah intermitensi (tidak stabil). Selain itu, kita punya cadangan panas bumi cukup besar, sekitar 23,7 GW.

Pengembangan energi primer dari energi fosil ke EBT dengan menempatkan panas bumi sebagai skala prioritas tidaklah berlebihan. Dengan sumber daya yang besar seharusnya panas bumi menjadi potensi yang mendapatkan perhatian lebih. Pemanfaatan saat ini saja masih jauh dari jumlah cadangan yang terbukti.

Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Perusahaan Listrik Negara (PLN) 2021-2030, Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 23,965 GW (Giga Watt).
 Potensi terbesarnya ada di Pulau Sumatra, yakni sebesar 9,679 GW. Meski punya potensi terbesar, kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) terpasang di Sumatera baru 562 Megawatt (MW) atau 5,8 persen dari total potensinya. Artinya, masih ada sekitar 94 persen potensi yang belum digarap.

Sedangkan di Pulau Jawa, potensi panas bumi sebesar 8,107 GW. PLTP yang terpasang baru berkapasitas 1.254 MW atau 15,5 persen dari potensinya. Sedangkan Sulawesi dengan potensi panas bumi 3,068 GW. Namun, PLTP yang terpasang baru 120 MW atau 3,9 persen dari potensinya. Adapun di Nusa Tenggara, potensi panas bumi 1,363 GW dan kapasitas terpasang 12,5 MW. Sementara itu, Maluku memiliki potensi 1,156 GW, Bali 335 MW, Kalimantan 182 MW, dan Papua 75 MW. Belum ada kapasitas terpasang PLTP di keempat pulau tersebut.
 
Dalam RUPTL PLN 2021-2030, pembangkit EBT mencapai 20,9 GW (51 persen), lebih tinggi dari energi fosil sebesar 19,7 GW. Dari 20,9 GW itu, 10,4 GW dari PLTA dan 3,4 GW dari panas bumi. Namun, meskipun panas bumi memiliki cadangan besar, tidak mudah untuk memonetisasinya, kunci utama dalam pengembangan semua jenis EBT termasuk panas bumi ada di PLN karena BUMN di sektor ketenagalistrikan itu adalah pembeli tunggal atau monopsoni. Jika PLN tidak bersedia membeli dengan berbagai justifikasi, pengembang EBT tidak punya pilihan atau opsi lain untuk menjualnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan memberikan ruang agar pengembang bisa menjual listrik selain kepada PLN. Jika hal tersebut dapat dilakukan saya kira pengembangan EBT tidak hanya bergantung pada PLN. Selain itu juga tantangan pengembangan panas bumi yang paling terasa adalah dari sisi biaya. Untuk mengejar target RUPTL, PLN tidak bisa sendiri dan harus bekerja sama dengan pihak lain.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Harga batu bara diperkirakan masih tertekan pada pekan ini setelah menurun 12% pekan lalu. Harga diramal melemah karena pasar khawatir dengan dampak kenaikan kasus Covid-19 di China. Kembali ditutupnya Shanghai yang menjadi pusat bisnis China tentu saja kembali mengkhawatirkan investor dan pelaku pasar karena pembatasan mobilitas bisa memperlambat pemulihan ekonomi Negara Tirai Bambu serta permintaan batu bara. Impor batu bara China pun turun 16% pada Januari-April tahun ini, salah satunya karena lockdown di sejumlah kota pada April-Mei lalu.

Indonesia merupakan eksportir terbesar batu bara thermal di dunia. Hujan deras bisa mengganggu proses penambangan di kantong-kantong utama penghasil batu bara seperti Kalimantan. Padahal, perusahaan batu bara Indonesia tengah menikmati derasnya permintaan dari sejumlah negara. Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengatakan produksi batu bara Indonesia, termasuk Bumi, masih terkendala cuaca sehingga belum maksimal. Pada periode Januari-Maret tahun ini, produksi batu bara Bumi mencapai 16,3 ton, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni 19,3 juta ton. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), mengatakan jika pasokan di beberapa negara produsen utama belum maksimal sementara permintaan masih tinggi maka batu bara berpeluang naik.