Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 16 Juni 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Rata-rata harga minyak dunia pada Mei 2022 mencapai USD 111,96/barel atau meningkat 63,9% (YoY). Harga tersebut lebih tinggi dari rata-rata harga minyak dunia pada bulan sebelumnya yang mencapai USD 106,2/barel. Peningkatan harga tersebut masih didorong oleh peningkatan spekulasi pasar terhadap berkurangnya supply minyak dunia dari Rusia akibat embargo minyak oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Beberapa faktor terakhir yang meningkatkan harga minyak adalah:

  1. kesepakatan paket sanksi ke-6 EU terhadap Rusia yang berupa embargo minyak dan gas seaborne pada akhir tahun 2022;
  2. pembukaan kembali aktivitas ekonomi China setelah lockdown selama 2 bulan terakhir;
  3.  peningkatan permintaan bahan bakar minyak dan penurunan inventori di Amerika Serikat karena memasuki periode liburan musim panas;
  4. penurunan ekspor minyak dan gas dari Rusia ke negara-negara Eropa yang menolak melakukan membayaran dengan mata uang Rusia yaitu Ruble.

Berdasarkan data EIA (Energy Information Administration), produksi minyak global pada bulan Mei 2022 meningkat menjadi 99,12 juta bph dari 98,61 juta bph pada April 2022. Sementera itu, konsumsi minyak dunia pada Mei 2022 mencapai 98,62 juta bph, meningkat dari 97,73 juta bph pada bulan April 2022. Peningkatan produksi minyak global pada Mei 2022 didorong oleh peningkatan produksi shale oil Amerika Serikat. Sementara itu, peningkatan permintaan minyak dunia pada Mei 2022 berasal dari peningkatan permintaan bensin untuk keperluan musim panas di Amerika Serikat dan peningkatan mobilitas di China setelah penurunan kasus COVID-19 pada akhir Mei 2022.

Diperkirakan rata-rata harga minyak mentah (Brent) pada 2022 mencapai USD 119,7 per barrel dengan, atau meningkat 45,1% dibandingkan harga rata-rata tahun 2021.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Negara Lain Krisis Listrik, RI Justru Dihantui Over Suplai, Sejumlah negara sedang mengalami krisis listrik, sebagai contoh adalah India dan yang terbaru yakni Australia negara yang kaya akan gas dan batu bara itu juga terancam krisis listrik. Sementara Indonesia sendiri dihantui oleh over suplai listrik yang akan merugikan PT PLN (Persero).Di mana, PLN mencatat dalam beberapa waktu ke depan akan ada beberapa proyek pembangkit listrik baru yang akan memasuki Commercial Operation Date (COD).Bahkan, dalam satu tahun mendatang di Pulau Jawa sendiri akan masuk pembangkit listrik dengan kapasitas 6.800 megawatt (MW).

Tidak hanya di pulau Jawa, ancaman kelebihan pasokan listrik juga bakal terjadi di Sumatera. Hal tersebut tercermin dari penambahan permintaan atau demand dari listrik selama tiga tahun mendatang hanya sekitar 1,5 Giga Watt (GW). Sedangkan penambahan kapasitas dalam pipeline 5 GW, di Kalimantan interkoneksi juga mengalami itu. Namun demikian, untuk di daerah terpencil seperti Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara setidaknya terdapat 250 subsistem yang dikelola perusahaan mengalami defisit.

Seperti diketahui, pasokan listrik di Indonesia akan semakin berlimpah dengan terpenuhinya mega proyek ketenagalistrikan sebesar 35.000 Megawatt (MW) dalam beberapa tahun ke depan. Dengan begitu keadaan oversupply tak bisa dihindari lagi.Masuk PLTU itu sekitar 34% atau 13 GW yang masih terusan program 35 GW itu. Jadi mulai tahun 2022 memang sudah tidak ada lagi rencana pembangunan pembangkit PLTU yang baru

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Ekspor Batubara Melonjak. Negara-negara Uni Eropa (UE) berebut mencari sumber energi alternatif dari Afrika Selatan, setelah memutuskan menyetop impor batubara Rusia mulai Agustus mendatang. Sepanjang lima bulan terakhir, terhitung sejak Januari hingga Mei, UE telah mengimpor batu bara dari Afrika Selatan 40% lebih banyak dari jumlah impor mereka sepanjang 2021. Salah satu terminal ekspor batubara terbesar di Afrika Selatan, Richards Bay Coal Terminal (RBCT) mengirim 3.240.752 ton batu bara ke negara-negara Eropa pada akhir Mei tahun ini. Angka ini setara dengan 15% dari keseluruhan ekspor RBCT atau naik dari 2.321.190 pada 2021. Secara total, RBCT mengekspor 22.057.587 ton batu bara dalam lima bulan pertama tahun 2022.

Tidak hanya Afrika yang mendapatkan lonjakan ekspor batubara. Negara-negara di Uni Eropa seperti Jerman, Polandia bahkan India pun sudah melobi Indonesia untuk melakukan ekspor batu baranya ke negara-negara tersebut. Permintaan batubara Indonesia itu tak terlepas dari negara-negara Uni Eropa yang mengenakan sanksi terhadap batu bara dari Rusia atas perang Rusia-Ukraina. Sementara untuk India sendiri, saat ini sedang mengalami krisis listrik karena terjadinya gelombang panas yang mengakibatkan kebutuhan batubara untuk pembangkit melonjak tinggi.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), membenarkan, bahwa sudah ada beberapa permintaan ekspor ke Eropa. Bahkan, sudah ada kegiatan ekspor batubara yang dilakukan. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pihak Jerman mengungkapkan keinginannya untuk kerja sama suplai batubara dari Indonesia pada pertemuan antara Menteri ESDM dengan CEO Asosiasi Perusahaan Batubara di Jerman (VDKI), dan akhir bulan ini akan ada kunjungan dari Kementerian Pertambangan Batu Bara India ke Jakarta terkait dengan permintaan ekspor batu bara dari Indonesia.

Seperti diketahui, pada tahun 2022 ini produksi batu bara RI ditargetkan mencapai 663 juta ton dan konsumsi dalam negeri sebesar 165,7 juta ton. Berdasarkan data MODI Kementerian ESDM, sampai pada 16 Juni 2022 ini produksi batu bara RI sudah menembus 270,24 juta ton