Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 21 Juni 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Pengaruh Penurunan Biaya Energi Melalui Efisiensi dan Peningkatan Ketahanan Energi. Biaya energi di Brasil relative lebih tinggi dibandingkan global. Program diversifikasi, perbaikan jaringan dan efisiensi energi dapat menurunkan harga dan melebarkan pasokan. Brasil memiliki sumber energi yang berlimpah mulai dari gas alam, angin sampai surya. Sebagai salah satu pemain energi global, bertambahnya pasokan tidak diterjemahkan menjadi penurunan tagihan bagi pelanggan dan pelaku usaha. Sebagai contoh, biaya rata-rta listrik Brasil untuk captive industry 65% lebih tinggi dibanding harga Amrika Serikat dan 35 % dibanding Kanada.

Kondisi ini menjadi paradoks bagi pasar energi di Brasil karena bertambahnya kapasitas pembangkit justru membuat harga listrik tetap tinggi. Difersifikasi energi dan optimasi sistem energi, penurunan loses jaringan, dan perbaikan efisiensi energi dapat membantu bauran energi brazil dan menurunkan harga. Dukungan yang diberikan pemerintah mendorong Brazil menjadi industri biomasa terbesar di dunia dan negara yang memiliki kapasitas pembangkit air terbesar ke dua. Ke depan sejumlah pihak memperkirakan brasil berpotensi untuk mengembangkan surya, angin dan gas alam lebih besar.

Berdasarkan studi yang dilakukan, peternakan angin di Brasil menunjukan biaya penurunan yang stabil dan mencapai tingkat yang paling rendah. Akan tetapi untuk mendorong porsi energi terbarukan, operator jaringan juga harus berinvestasi tambahan untuk dapat menyeimbangkan listrik dari energi terbarukan.

Guna mendukung ketahanan energi, Brasil menyiapkan beberapa pilihan yang dapat dijalankan adalah menyiapkan pembangkit thermal yang mampu menjaga kenaikan dan penurunan output energi terbarukan. Meningkatkan integrasi jaringan antar wilayah yang lebih luas untuk mengurangi resiko pembangkitan yang lebih rendah dan mengurangi penggunaan daya teknologi penyimpanan seperti baterai. Langkah lainnya adalah menurunkan loses jaringan mendekati standar internasional. Saat ini Brasil memiliki loses 18 persen terhadap listrik yang dibangkitkan. Efisiensi energi menjadi program lainnya. Pemerintah menyediakan insentif untuk mempercepat efisiensi energi di sektor industri termasuk melalui penggunaan produk daur ulang, memperluas penggunaan sistem manajemen energi, dan pengembangan sumber daya professional untuk mengidentifikasi peluang efisiensi energi.

Melalui harga energi yang lebih rendah dapat menciptakan dampat perekonomian yang baik seperti industri padat energi yang lebih kompetitif, peningkatan elektrifikasi proses industri, peningkatan penggunaan peralatan listrik di rumah tangga, dan percepatan adopsi kendaraan listrik.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

PLTU Berkapasitas di Bawah 25 MW Sebaiknya Tak Kena Pajak Karbon, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas di bawah 25 MW tidak dikenakan pajak karbon agar tidak menambah beban biaya pokok produksi di pembangkit dan dari sisi kontribusi emisi sangat kecil dibandingkan dengan PLTU skala besar. Selain itu, PLTU skala kecil rata-rata berada di luar Pulau Jawa dan dibangun berdasarkan penugasan karena kebutuhan elektrifikasi di daerah terdepan, terluar, dan terpencil sehingga perlu dipertimbangkan agar tidak membebankan pajak karbon kepada PLTU itu. Dengan demikian, dapat menjaga keberlanjutan elektrifikasi di wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T) itu ketika belum ada pembangkit listrik dengan sumber energi terbarukan.

BRIN merekomendasikan agar penetapan pajak karbon tidak hanya diklasifikasikan berdasarkan kapasitas pembangkit melainkan perlu dikategorikan berdasarkan jenis teknologi di tiap kapasitas. Selain itu, juga agar metodologi perhitungan pajak karbon sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan update terkini dari metodologi Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Pelaksanaan pajak karbon juga dilakukan secara bertahap. Jika tahap pertama dilaksanakan untuk PLTU skala besar dan kemudian jika mekanisme sudah baik maka bisa dilanjutkan untuk PLTU skala kecil 25-100 MW. Selain itu, dalam pelaksanaan pajak karbon diperlukan harmonisasi dalam kebijakan dan peraturan teknis seperti dalam penggunaan istilah dan mekanisme yang sebaiknya seragam tentang penyelenggaraan nilai ekonomi karbon pembangkit. Di samping itu, sosialisasi dan edukasi pajak karbon juga harus dilaksanakan dengan baik kepada masyarakat dan pelaku usaha. Selain itu, pengenaan pajak karbon akan mendorong perkembangan inovasi teknologi dan investasi yang lebih efisien, rendah karbon, dan ramah lingkungan. Dari sisi ekonomi, kita saat ini mulai familiar dengan istilah Green Economy, suatu gagasan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan sosial, sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan secara global

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Tekanan kepada Pasar Timah. Harga timah dunia merosot dan mencapai posisi terendah sejak Juni 2021. Pada Senin (20/6/2022) pukul harga timah dunia tercatat US$ 30.400/ton, anjlok 2,51% dibandingkan dengan harga penutupan akhir pekan lalu. Para investor khawatir terhadap resesi dunia yang dapat memberikan tekanan kepada pasar timah.

Kekhawatiran resesi timbul setelah bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 0,75% menjadi 1,75%. Kenaikan ini lebih tinggi dari konsensus awal yang memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga sebesar 0,5%. Naiknya suku bunga dipandang investor dapat mengerem lau pertumbuhan ekonomi dunia. Hal ini dikhawatirkan akan memangkas permintaan global untuk timah.

Sementara itu, persediaan timah batangan di gudang yang dipantau oleh pasar logam London (LME) naik 235 ton atau 7,8% secara point-to-point (ptpt) pada Jumat lalu. Sehingga jumlah persediaan di gudang tercatat 3.260 ton. Angka tersebut sudah naik 1.240 ton atau 61,4% ptp sepanjang 2022. Di dalam negeri sendiri pun, Badan Pusat Statistik mencatat penurunan kinerja ekspor timah sepanjang Mei 2022 yang ambles USD 217 Juta dengan penurunan volume ekspor hingga 42,8% (mtm).

Sekjen Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), mengatakan penurunan ekspor timah tidak lepas dari dampak penurunan harga yang diikuti berkurangnya volume. Namun demikian posisi ekspor timah saat ini masih stabil meski di bulan April sempat mengalami lonjakan produksi. Disamping itu, pemerintah sekarang sedang mempertimbangkan untuk memperkenalkan kebijakan  penghentian ekspor timah pada akhir tahun 2022, daripada tenggat waktu sebelumnya pada tahun 2024.