Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian,23 Juni 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Dekarbonisasi untuk menjaga pertumbuhan di Asia Tenggara. Negara-negara Asia Tenggara yang sedang berkembang saat ini rata-rata memiliki pertumbuhan 5,7 persen per tahun. Diperkirakan sampai dengan tahun 2050, wilayah Asia Tenggara akan mengalami pertumbuhan eknomi 2,5 persen lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi global.

Industrialisasi, urbanisasi, dan peningkatan standar hidup adalah menjadi beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan energi dalam beberapa dekade mendatang. Berdasarkan proyeksi yang dilakukan S&P Global, permintaan listrik di kawasan ASEAN pada 2050 diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat dari level saat ini menjadi 3000 TWh. Volume ini kira kira setara dengan 80 persen konsumsi Uni Eropa saat ini,

Untuk memenuhi kebutuhan energi, khususnya listrik yang terus meningkat, pembangkit listrik berbahan bakar fosil masih akan menopang 75 persen perekonomian kawasan tersebut. Batubara menyumbang 55 persen dari total pembangkitan di ASEAN. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ASEAN untuk mendorong dekarbonisasi untuk dapat tetap menjaga pertumbuhan ekonomi yang cepat mengingat seperti kebanyakan negara di dunia, negara di Asia Tenggara telah membuat komitmen besarnya kontribusi yang akan dilakukan untuk memperbaharui rencana energi yang ada guna mempromosikan energi terbarukan, memperlambat pengembangan batubara, mengurangi operasional pembangkit fosil, serta meningkatkan infrastruktur pasokan gas.

Sektor listrik di Asia Tenggara diperkirakan akan mengurangi intenitas karbon jaringan sebesar 53 persen pada 2050 dan puncak emisi diperkirakan akan dicapai  pada akhir 2030. Hal ini akan menjadi tantangan bagi negara negara di Asia Tenggara karena penurunan emisi dilakukan pada saat negara sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat dan akses yang meningkat. Masing masing negara dihadapkan pada keseimbangan antara transisi energi dan menjaga ekonomi serta harga energi yang tetap terjangkau.    

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

RI Dukung Global Tekan Emisi Karbon Subsektor Minerba melalui EBT, Pemerintah Indonesia mendukung upaya strategi global dalam menekan misi gas karbon di subsektor batu bara melalui pemanfaatan teknologi dan EBT. Langkah ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian target emisi bersih pada tahun 2060 atau lebih cepat sejalan dengan agenda ETWG Presidensi G20 Indonesia.

Pemerintah dalam hal ini, KESDM sedang menyiapkan empat strategi dalam mereduksi emisi karbon yaitu pembangunan industri hilir batubara, pemanfaatan teknologi batu bara bersih di pembangkit, teknologi penangkapan karbon (CCS/CCUS) dan subtitusi biomassa. Implementasi strategi ini akan mempertimbangkan efek berganda dari proses transisi energi itu sendiri. Satu sisi menutup sejumlah kesempatan kerja. Sisi lain akan membuka banyak peluang penciptaan lapangan kerja.

Dalam pertemuan HLAG, Arifin menjadi Co-Chair bersama Deputi Perdana Menteri dan Minister for Ecological Transition and the Demographic Spanyol, Mrs Teresa Ribera. Salah satu agenda penting yang dibahas adalah penyusunan laporan khusus mengenai langkah-langkah kebijakan praktis untuk mengurangi emisi karbon yang disebabkan oleh sektor batubara. Nantinya, laporan khusus ini akan menganalisa secara komprehensif mengenai dampak dari target NZE terhadap seluruh rantai sektor batubara dan menjadi masukan bagi negara dalam implementasi komitmen kontribusi nasional dan target NZE.

Pertemuan HLAG sendiri dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari negara anggota International Energy Agency (IEA), perwakilan perusahaan di sektor energi, serta organisasi pengelola pendanaan seperti Asian Development Bank (IDB) dan Climate Investment Fund (CIF).

Beberapa isu yang mengemuka dalam diskusi adalah tantangan dalam menyeimbangkan strategi coal phase out dan pengembangan EBT, setiap negara memiliki kapasitas dan kapabilitas yang berbeda dalam proses transisi energi, dukungan pendanaan dan mekanisme pendanaan yang menarik bagi kesuksesan strategi coal phase out masing-masing negara. Di samping itu, pembahasan lain yang menjadi agenda adalah keterlibatan masyarakat lokal dalam proses transisi energi untuk memastikan implementasi yang efektif dan sesuai serta urgensi dukungan aturan (regulatory support) yang kuat dalam proses transisi energi, khususnya bagi negara-negara berkembang. Rencananya, HLAG akan kembali melakukan pertemuan pada bulan Juli untuk membahas mengenai draft laporan yang sudah disusun bersama.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Bank Sulit Beri Kredit untuk Bangun Smelter. Pelaku usaha yang bergerak di bidang pengolahan bauksit belakangan mengaku kesulitan untuk menambah kapasitas produksi mereka lantaran pendanaan yang macet dari perbankan. Konsekuensinya, rencana pemerintah untuk menyetop ekspor bauksit bersih atau washed bauxite (WBx) pada Juni 2023 ditenggarai bakal terkendala dari sisi serapan industri hilir di dalam negeri.

Deputy Finance and Accounting Department Head PT Well Harvest Winning Alumina Refinery menuturkan sejumlah perusahaan yang ingin terjun pada proses pemurnian bauksit belakangan mengurungkan niat mereka lantaran perbankan enggan memberi kredit usaha untuk pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) dengan nilai investasi bisa mencapai US$1,3 miliar untuk kapasitas pemurnian ore sebesar 2 juta ton. Sebagian besar bank sudah berhati-hati untuk mengeluarkan kredit terkait dengan komitmen transisi energi yang belakangan ikut digenjot oleh pemerintah.

Seperti diketahui sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempercepat upaya penghentian ekspor bauksit bersih atau washed bauxite (WBx) yang ditargetkan efektif pada Juni 2023. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, KESDM mengatakan akan mendorong pengembangan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter dari pemegang izin usaha pertambangan (IUP) bauksit bersih dengan kadar di atas 42 persen paling lama sampai 10 Juni 2023.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa cadangan bauksit Indonesia sekitar 4 persen atau 1,2 miliar ton dari total cadangan global yakni 30,3 miliar ton. Angka ini sudah cukup menempatkan Indonesia sebagai negara dengan cadangan bauksit terbesar keenam di dunia. Negara lainnya adalah Guinea 24 persen, Australia 20 persen, Vietnam 12 persen, Brazil 9 persen, dan Jamaika 7 persen. Cadangan bauksit di dalam negeri juga diperkirakan akan habis sekitar 92 tahun ke depan dengan mempertimbangkan tidak ada penambahan smelter baru sejak 2020.

Pada 2019, produksi bijih bauksit di Indonesia sebesar 19 juta ton. 16,1 juta ton diekspor sedangkan bauksit untuk dalam negeri mencapai 2,9 juta ton. Kemudian 2,9 juta ton bauksit diolah hingga memproduksi 1,1 juta ton alumina. Hasil ini diekspor ke pasar global 1,08 juta ton serta untuk kebutuhan dalam negeri hanya 46.000 ton. Indonesia kemudian harus mengimpor kembali alumina sekitar 458.000 ton untuk memproduksi 250.000 ton aluminium. Di lain pihak, kebutuhan aluminium dalam negeri tembus 1 juta ton. Artinya industri harus kembali mengimpor aluminium sekitar 748.000 ton.