Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 28 Juni 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Kenaikan Harga Minyak Dunia VS Beban Keuangan Negara. Pemerintah harus menambah subsidi untuk menahan harga BBM. Berdasarkan data Global Petrol Prices, harga BBM di Indonesia termasuk termurah dibandingkan negara-negara net-importer minyak lainnya. Global Petrol Prices melansir daftar harga BBM setara RON 95 di seluruh dunia. Harga BBM Indonesia sekitar Rp 17.740 per liter per 20 Juni 2022. Harga tersebut bahkan lebih murah dari harga di negara kaya minyak, seperti Amerika Serikat, serta hampir menyamai Rusia dan Arab Saudi. Adapun, negara dengan BBM tertinggi di dunia ada di Asia, yakni Hong Kong, yang mencapai Rp 44.467 per liter atau hampir tiga kali lipat harga BBM di Indonesia.

Di Kawasan ASEAN harga BBM di Indonesia termasuk yang paling murah kedua setelah Malaysia yang pemerintahnya memberikan subsidi pada produk bensin dengan kualitas dan nilai oktan lebih tinggi, yakni RON 95. Dengan kondisi harga minyak mentah saat ini menghasilkan harga keekonomian  BBM RON 90 dan 92 diatas Rp30.000/liter pemerintah harus menambah subsidi untuk menjaga daya beli dan tidak menambah beban masyarakat. Namun  perlu dukungan kembali dari masyarakat untuk menggunakan BBM seefisien mungkin serta meningkatkan kesadaran untuk menggunakan BBM RON 92 bagi lapisan menengah keatas guna meringankan beban subsidi yang terus meningkat yang diakibatkan dari proyeksi impor BBM yang akan menembus USD 20 Miliar pada tahun ini.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Pastikan Subsidi Energi Tepat Sasaran, Di tengah melonjaknya harga minyak dunia, pemerintah mengambil kebijakan menahan harga energi seperti BBM, tarif dasar listrik dan elpiji 3 kg. imbasnya, alhasil anggaran subsidi energi melonjak tajam dari Rp 152, 2 triliun menjadi Rp 502, 4 triliun. Ironisnya, subsidi energi yang seharusnya diberikan kepada masyarakat miskin, banyak yang tidak tepat sasaran. Hal ini pula yang membuat pemerintah menggodok rencana penggantian subsidi terbuka menjadi subsidi berbasis orang. Salah satu mekanismenya yakni pembelian BBM penugasan seperti RON 90 harus menggunakan aplikasi MyPertamina. Nantinya akan diverifikasi, apakah konsumen tersebut memenuhi kriteria untuk menerima BBM subsidi jenis pertalite dan solar subsidi.Selain itu, pemerintah juga akan melarang kendaraan dinas milik PNS, TNI, Polri dan BUMN untuk mengkonsumsi BBM dengan kadar oktan 90.

Menilik dari realisasi lifting minyak dari tahun ke tahun tampak kencenderungan terus turun. Data KESDM menyebutkan pada 2021  lifting hanya mencapai 660.000 barel perhari. Pada 2020 sebesar 707.000 barel perhari. Angka ini signifikan dibandingkan pada tahun 2019 mencapai 745.000 barel per hari dan 2018 sebanyak barel perhari. Bahkan, pada 2016 lifting minyak sempat 831.000 barel perhari. Angka lifting minyak yang terus menurun itu berbanding terbalik dengan konsumsi minyak nasional yang justru cenderung meningkat. Sejak beberapa tahun terakhir konsumsi minyak nasional mencapai di atas 1,4-1,5 juta barel perhari. Dari sini terlihat gap yang cukup besar anatar produksi dan konsumsi sehinggi untuk menutupi selisih mengimpor.

Imbasnya, mau tidak mau pemerintah harus menyiapkan anggaran melalui anggaran pendapatan dan belanja negara guna memenuhi pasokan minyak. Data KESDM memperlihatkan, realisasi subsidi energi pada 2021 mencapai Rp 131,5 triliun, naik 19% dari target 2021 yang ditetapkan Rp 110,5 triliun. Pemerintah menyebut kenaikan subsidi energi disebabkan pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat dalam pemulihan ekonomi.

Lonjakan signifikan berasal dari subsidi BBM dan elpiji, yakni Rp 83,7 triliun dari awal Rp 56,9 triliun, sedangkan subsidi listrik turun jadi Rp 47,8 triliun dari target Rp 53,6 triliun. Bila dibandingkan 2020, realisasi subsidi energi pada 2021 ini melonjak 37, 4%. Realisasi subsidi energi pada 2020 mencapai Rp95,7 triliun, terdiri atas subsidi BBM dan Elpiji Rp47,7 triliun dan subsidi listrik Rp48 triliun.

Besarnya subsidi disektor energi tidak bisa dihindari karena BBM yang dijual kepada masyarakat saat ini tidak semuanya mengikuti harga pasar. Jenis pertalite, misalnya yang saat ini dijadikan BBM penugasan dan dikonsumsi oleh sekitar 60 persen pengguna kendaraan harganya dipatok Rp 7.650 per liter, jau di bawah harga keekonomian yang dihitung oleh ESDM sebesar Rp 16.000 per liter. Demikian pula harga gas elpiji kemasan 3 kg yang saat ini dijual dipasaran di kisaran Rp 20.000 per tabunh, harganya sudah disubsidi sebesar Rp 11.250 per kg sehingga total subsidi untuk setiap tabung mencapai Rp33.750 per kg.

Pemerintah sendiri memastikan akan terus melakukan reformasi subsidi energi pada 2022 dan juga tahun-tahun ke depan. Selain itu, pengelola negara terus berupaya memperbaiki kebijakan subsidi energi yang pada prinsipnya adalah memastikan subsidi tersebut tepat sasaran.

Indonesia pernah melakukan reformasi subsidi energi pada 2015. Ketika itu, pemerintah menghapus subsidi BBM premium, subsidi tetap untuk solar dan menghapus 12 golongan pelanggan listrik dari daftar penerima subsidi. Hasil dari reformasi subsidi energi pada 2015 adalah ruang fiscal yang signifikan di APBN. Anggaran subsdidi energi turun dari Rp341 triliun menjadi Rp119 triliun atau hemat 65 persen. Penambahan ruang fiscal memungkinkan pemerintah untuk menaikan anggaran sektor lain seperti infrastruktur dan dana bantuan sosial dan juga anggaran untuk pendidikan dan kesehatan. Reformasi subsidi BBM ini dapat menjadi pembelajaran penting mengubah pola piker dari belanja konsumtif ke belanja produktif. Inilah kebijakan subsidi energi yang tepat sasaran.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Sanksi Negara G7 terhadap Rusia. Negara-negara Uni Eropa, tepatnya anggota G7 kini kembali memberikan paket sanksi terbaru terhadap Rusia atas perang yang masih berlanjut di Ukraina. Setelah mengembargo impor minyak dan batu bara, kini blok tersebut menargetkan emas dan logam mulia. Hal ini juga telah dikonfirmasi Perdana Menteri Pemerintah Inggris, mengatakan itu akan berlaku untuk emas yang baru ditambang dan emas murni. Tidak termasuk emas yang mungkin berasal dari Rusia tetapi telah diekspor.

Menurut data terbaru dari World Gold Council, Rusia adalah produsen emas terbesar kedua di dunia. Negeri itu mendominasi sekitar 10% dari produksi dunia. Kepemilikan emas Rusia, telah meningkat tiga kali lipat sejak aneksasi Krimea pada tahun 2014 dari Ukraina. Komoditas tersebut merupakan aset penting bagi bank sentral Rusia. Negara tujuan terbesar ekspor terbesar emas Rusia adalah Inggris. Porsinya mencapai 90,5% dari total ekspor emas dunia. Kemudian diikuti Kazakhstan, Turki, Swiss dan India. Inggris sendiri adalah anggota G7 dan pusat perdagangan emas global. Sehingga sikap Inggris yang tegas menolak ekspor emas diperkirakan akan berdampak besar terhadap ekonomi Rusia.

Adanya sentiment dari rencana anggota G7 tersebut membuat harga emas naik pada perdagangan awal pekan ini. Senin (27/6), harga emas untuk pengiriman Agustus 2022 di Commodity Exchange ada di US$ 1.833,30 per ons troi, naik 0,16% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 1.830,30 per ons troi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong perusahaan tambang untuk meningkatkan cadangan emas mereka di tengah proyeksi harga komoditas mineral itu akan menguat seiring rencana kelompok G7 menghentikan impor emas dari Rusia. Siklus kenaikan harga emas relatif jarang terjadi dalam kurun waktu yang lama jika dibandingkan dengan komoditas mineral lainnya. Dengan demikian diharapkan, pelaku industri tambang domestik dapat mengoptimalkan momentum kenaikan harga yang didorong oleh pasokan emas yang makin ketat pada pertengahan tahun ini.