Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 4Juli 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Krisis  Energi vs Pengembangan Energi Bersih. Pembangkit listrik tenaga batu bara Mellach yang terletak sekitar 200 kilometer di selatan ibu kota Austria, Wina, sudah berhenti beroperasi sejak April 2020 lalu segera disiapkan agar bisa beroperasi lagi menggunakan batu bara. Austria mengambil langkah drastis untuk mengantisipasi darurat energi setelah Rusia menyetop pasokan gasnya ke sejumlah negara Eropa. Rencana Austria untuk terus menurunkan emisi karbon dan mengembangkan program energi bersih terancam . Austria merupakan negara kedua di Eropa setelah Swedia yang sudah menyetop penggunaan batu bara sebagai sumber energi.

Krisis energi juga membuat Belanda akhirnya mencabut pembatasan operasional pembangkit tenaga batu bara. Belanda sudah membatasi produksi pembangkit sepertiga dari total kapasitas untuk menekan emisi karbon. Dengan pencabutan pembatasan produksi pembangkit batu bara, Belanda mengincar penghematan 2 miliar meter kubik gas per tahun. Untuk menambah stok gas, Belanda juga berencana memproduksi 2,8 miliar meter kubik dari ladang gas di Groningen tahun 2023.

Jerman juga sangat tergantung pada pasokan gas alam Rusia. Tahun lalu, sebanyak 55 persen pasokan gas ke Jerman berasal dari Rusia. Sejak Rusia menginvasi Ukraina, Jerman sudah mulai meningkatkan pembelian gas dari negara lain, seperti Norwegia, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab. Alhasil, pembelian gas ke Rusia pun turun sekitar 20 persen.

Negara di Eropa masih perlu banyak berbenah untuk mengatasi krisis energi dan melewati musim dingin tanpa gas Rusia. Di saat yang sama, krisis energi ini juga bisa memacu Eropa mengembangkan pembangkit dengan energi bersih.

Mengembangkan infrastruktur pembangkit energi bersih memerlukan waktu lebih panjang. Sementara Eropa membutuhkan sumber alternatif dalam waktu cepat untuk memenuhi kebutuhan energinya. Macetnya pasokan energi dari Rusia membuat Eropa berpaling ke sumber energi fosil lain, termasuk batu bara Indonesia.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Industri Otomotif Diprediksi Kekurangan Baterai Mobil Listrik pada 2024-2025, Persaingan para produsen kendaraan listrik di dunia rupanya memunculkan tantangan, terutama selama masa transisi dari mesin konvesional. Menurut Volkswagen, tantangan itu adalah pengadaan baterai mobil listrik. Hal tersebut menyusul kesepakatan Uni Eropa untuk menghapus mobil bermesin pembakaran hanya dalam waktu 12 tahun demi memerangi perubahan iklim. Uni Eropa juga mengharuskan mobil baru yang dijual di blok tersebut untuk mengeluarkan nol CO2 mulai tahun 2035.Kebijakan tersebut akan membuat perusahaan otomotif untuk tidak mungkin menjual mobil bermesin pembakaran internal (ICE).

Komisi Eropa pertama kali mengusulkan kebijakan tersebut pada musim panas lalu, yang bertujuan untuk memangkas emisi pemanasan planet dekade ini. Terdapat kemungkinan proposal itu akan menjadi undang-undang Uni Eropa. VW telah mengatakan akan berhenti menjual mobil bermesin pembakaran di wilayah tersebut sesuai dengan tanggal target, namun, beberapa pembuat mobil yang tertinggal jauh dalam perlombaan untuk mengembangkan mobil listrik seperti Toyota, mungkin kesulitan untuk memenuhinya. Pembuat mobil Jepang menolak berkomentar lebih lanjut.

Pembuat mobil besar telah berlomba untuk mengamankan pasokan sel baterai, tetapi menemukan bahan baku baterai yang cukup mungkin menjadi masalah yang lebih besar. Kegagalan untuk mendapatkan pasokan lithium, nikel, mangan, atau kobalt yang memadai dapat memperlambat peralihan ke EV, membuat kendaraan tersebut lebih mahal dan mengancam margin keuntungan pembuat mobil.

Chief Executive Officer Stellantis Carlos Tavares memperkirakan kekurangan baterai EV akan melanda industri otomotif pada 2024-2025 karena produsen sibuk meningkatkan penjualan mobil listrik sambil membangun pabrik baterai. Stellantis oun memutuskan akan menjual mobil listrik mulai 2030.

Kesepakatan Uni Eropa di Luksemburg dicapai setelah lebih dari 16 jam negosiasi, dengan Italia, Slovakia, dan negara-negara lain menginginkan penghentian itu ditunda hingga 2040. Negara-negara akhirnya mendukung kompromi yang mempertahankan target 2035 dan meminta Brussel untuk menilai pada 2026 apakah kendaraan hibrida dapat memenuhi tujuan tersebut.

Proposal 2035 dirancang agar secara teori, semua jenis teknologi mobil seperti hibrida atau mobil yang menggunakan bahan bakar berkelanjutan dapat mematuhinya, selama itu berarti mobil tersebut tidak memiliki emisi karbon dioksida.Tinjauan Komisi 2026 akan menilai kemajuan teknologi apa yang telah dibuat dalam mobil hibrida untuk melihat apakah mereka dapat memenuhi tujuan pada 2035.

Sementara, Indonesia bakal menjadi sorotan para produsen mobil listrik karena kekayaan kandungan bahan baterai mobil listrik, seperti nikel yang diklaim kandungan terbesar dunia ada di Nusantara. Hyundai dan Tesla Inc. telah bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk memuluskan produksi mobil listrik mereka.

III. Sektor Geologi,Mineral, Batubara dan Umum

Harga timah melemah. Saat ini Bangka Belitung menjadi provinsi penghasil timah terbesar di Indonesia selama periode tahun 2022. Lantas apa yang menjadi penyebab harga timah Bangka turun drastis hingga menjadi keluhan masyarakat. Akhir-akhir ini harga timah Bangka Belitung (2022) mengalami penurunan yang signifikan, hingga meresahkan penambang. Harga timah Bangka saat ini terus mengalami penurunan karena beberapa faktor penyebab yang tidak bisa dihindari.

Seperti yang diketahui bahwa China yang masih menjadi negara tujuan utama ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan merupakan konsumen timah terbesar dunia saat ini tengah melakukan pembatasan aktivitas sehingga berdampak pada permintaan ekspor timah dan mempengaruhi harga timah. Harga timah dunia pada pekan pertama Juli ditutup melemah di posisi 26.695 USD/Metrik Ton. Nilai ini menurun 55 poin dibanding hari sebelumnya. 

Di tengah sejumlah sentimen pasar yang menyebabkan perekonomian global melemah seperti penguatan Dollar AS, konflik geopolitik, dan restriksi di China yang berdampak pada industri logam termasuk timah. Naik turunnya harga di pasar adalah hal yang wajar. Perdagangan timah melalui Bursa Komoditi BKDI membantu terciptanya harga timah yang optimal dan lebih transparan, sehingga harga timah Indonesia dapat menjadi acuan harga timah dunia.