Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 7 Juli 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Biaya panel surya meningkat namun masih lebih murah dari fosil. Berdasarkan survei yang dilakukan Bloomberg, biaya untuk membangun dan menjalankan fasilitas tenaga surya dan angin baru masih lebih murah dibandingkan pembangkit listrik tenaga gas atau batubara.

Setelah sebelumnya menurun, biaya pembangkit listrik energi terbarukan meningkat seiring kenaikan harga bahan baku dan tenaga kerja. Anjloknya biaya pembangkit energi terbarukan pada decade sebelumnya banyak dipengaruhi oleh biaya produksi peralatan yang semakin efisien.

Akan tetapi, biaya pembangkit listrik batubara dan gas alam meningkat lebih cepat seiring kenaikan harga energi global yang tinggi menyusul terjadinya invasi Rusia ke Ukraina. Akibatnya biaya project pembangkit angin onshre dan surya diperkirakan lebih rendah 40 persen dibandingkan pembangunan pembangkit batubara atau gas bumi.

Biaya pembangkit angin yang baru mencapai US$46 per MW, sedangkan pembangkit surya skala besar US$45 per MWh. Sebagai perbandingan pembangkit batubara baru biayanya mencapai US$74 per MWh sedangkan pembangkit gas baru mencapai US$81 per MWh.

Guna menjaga keamanan rantai pasok panel surya dan biaya produksi yang semakin kompetitif perlu adanya upaya untuk memperluas dan mendiversifikasi produksi panel surya global yang rantai pasokan globalnya saat ini sangat terkonsentrasi di Tiongkok. Di satu sisi kebijakan Tiongkok terhadap industri panel suryanya telah membantu PV surya menjadi teknologi pembangkit listrik yang lebih terjangkau. Namun kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam rantai pasokan PV surya. Kapasitas industri panel surya semakin berkurang di Eropa, Jepang, dan Amerika selama satu dekade terakhir. Pangsa Tiongkok di semua tahap pembuatan panel surya termasuk elemen kunci polisilikon dan wafer mencapai 80 persen secara global. Pangsa ini diperkirakan mencapai akan 95 persen pada tahun tahun mendatang.

Kendala rantai pasok yang terjadi pada tahun sebelumnya telah menyebabkan kenaikan sekitar 20% harga panel surya selama setahun terakhir. Kondisi ini menyebabkan sejumlah negara dan pemangku kepentingan lainya untuk mendorong penyebaran manufaktur PV. Diversifikasi produsen PV adalah salah satu strategi utama untuk mengurangi risiko rantai pasokan di seluruh dunia.

IEA memperkirakan kapasitas PV surya ke sistem kelistrikan di seluruh dunia meningkat empat kali lipat pada tahun 2030 agar sesuai dengan roadmap NZE IEA pada tahun 2050. Kapasitas produksi global untuk blok bangunan utama panel surya, polisilikon, sel dan modul diperkirakan akan membutuhkan lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030. Penambahan fasilitas manufaktur PV surya baru di sepanjang rantai pasokan global dapat menarik investasi sebesar US$120 miliar pada 2030, dan potensi penambahan jumlah tenaga kerja pada industri manufaktur sebesar 1 juta.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Resesi dan Suplai Jadi Masalah bagi Harga Komoditas Energi, harga komoditas energi masih dalam trend naik sepanjang kuartal II-2022. Kendati begitu, jika dibandingkan kuartal I-2022 harga komoditas sedikit melambat. Harga minyak dunia menguat 31,75% pada kuartal I 2022. Sedangkan di kuartal II-2022 Cuma naik 11,23%. Sementara harga batubara kuartal I-2022 meningkat 89,20 persen dan naik sebesar 58,35% di kuartal II-2022. Bahkan gas alam sepanjang kuartal II-2022 justru mengalami penurunan 5, 34%.

Research & Development ICDX Gita Yoga mengungkapkan, melambatnya kenaikan harga komoditas energi di picu kekhawatiran resesi yang mengancam pertumbuhan ekonomi global. Terlebih semakin banyak negara menyusul langkah bank sentral Amerika Serikat meningkatkan suku bunga. Efek resesi ini berdampak negative terhadap harga komoditas energi karena mengarah pada pelemahan permintaan. Memasuki kuartal III-2022 melihat trend bearish harga komoditas energi masih akan berlanjut. Kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global hingga melonjaknya kasus Covid-19 di China menjadi katalis yang bisa menekan permintaan.

Hanya batubara yang bertahan tinggi karena permintaan dari Uni Eropa. Ini sejalan denganĀ  keputusan Rusia menghentikan ekspor gas, yang membuat Eropa beralih ke batubara sebagai sumber pembangkit listrik. Tapi Analis Global Kapital Invesma Ali Assegaf juga melihat koreksi minyak hanya sementara. Itu hanya karena harga minyak sudah naik terlalu tinggi menyentuh US$ 120. Secara Fundamental, pasokan minyak masih ketat. Langkah OPEC+ menambah produksi 648.000 barel per hari tidak menutup kekurangan pasokan yang ditinggalkan Rusia akibat larangan impor dari Uni Eropa. Pasokan dari Iran pun masih terkendala karena alotnya perundingan nuklir dengan Amerika serikat. Selain itu, permasalahan ladang minyak Norwegia dan Libia turut memperdalam masalah ketatnya pasokan tersebut. Oleh karenanya diperkirakan harga minyak masih akan bertahan di atas US$ 100 per barel di kuartal III ini. Harga minyak baru akan terhenti jika pasokan kembali melimpah. Ini bisa terwujud bila pembicaraan nuklir AS-Iran mencapai kesepakatan dan AS membuka lagi embargo minyak Venezuela. Jika kesepakatan berhasil harga minyak bisa turuan ke US$ 90, bahkan ke US$ 80. Namun saat ini harga minyak masih bertahan diharga minyak dunia masih bertahan di US$ 105..

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Koordinasi Antar Kementerian Untuk Meningkatkan Investasi di Sektor Minerba. Kementerian ESDM dan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada Rabu 6 Juli 2022 melakukan rapat kerja untuk kedua kalinya. Tujuannya untuk mensinkronkan program kerja antar kementerian untuk meningkatkan iklim investasi nasional. Sinkronisasi yang dilakukan meliputi pencabutan izin, penataan SOP hingga percepatan perizinan yang transparan.

Hal lain yang harus diperhatikan ialah perlunya penyempurnaan sistem perizinan dan tambahan tenaga kerja yang mumpuni mengingat adanya peralihan wewenang pemberian izin yang sebelumnya berada di bawah pemerintah daerah beralih ke pemerintah pusat yang mengakibatkan tambahan load pekerjaan yang tiba-tiba di Kementerian pusat.

Rapat kerja yang diinisiasi oleh Kementerian ESDM ini disambut positif oleh Kementerian Investasi. Menurut Menteri Investasi, raker ini merupakan upaya komunikasi yang harus dibangun untuk menyamakan pandangan antar kementerian. Diharapkan kedepannya tidak ada lagi perbedaan persepsi mengenai pemberian perizinan di setiap jajaran baik di KESDM maupun Kementerian Investasi.