Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 25 Juli 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Ancaman Tingginya Harga Minyak Global. Melonjaknya harga minyak dan gas global belakangan ini justru mengakibatkan kekhawatiran bagi investor migas. Hal ini disebabkan karena flukuasi harga minyak yang terlalu tinggi menyebabkan ketidakpastian yang terlalu besar bagi para investor. Investor lebih menyukai adanya stabilitas dimana fluktuasi harga yang terjadi masih berada dalam kisaran di bawah 30 dollar per barel, jika fluktuasi harga yang terjadi di atas US$30 per barel, inilah yang menyebabkan ketidakpastian dari sisi investor. Invenstor akan berhati-hati dalam mengeluarkan uangnya. Fluktuasi harga gas bumi sempat terjadi pada akhir Januari 2022 karena berakhirnya masa kontrak gas Rusia.

Di luar itu Rusia  berencana menghentikan pasokan energinya kepada negara yang menerapkan batasan harga untuk minyak mentah Moskow.  Aksi ini dilakukan sebagai balasan atas sanksi yang telah diberikan negara kelompok G7 karena  telah memberikan batasan terhadap harga minyak mentah Rusia.  Pembatasan harga terhadap minyak mentah Rusia diusulkan oleh Amerika Serikat untuk mengurangi pendapatan Rusia dari sektor energi. Dengan cara tersebut diharapkan Rusia tidak dapat lagi membiayai invasinya ke Ukraina.

Rencana pembatasan harga yang akan dilakukan justru berpotensi untuk memperparah krisis energi global yang terjadi. Hal ini dapat memicu lonjakan harga minyak mentah  global ke level yang lebih tinggi.  Selain itu usulan pembatasan harga minyak mentah Rusia dianggap sebagai strategi Amerika dan Eropa untuk mendapatkan energi murah untuk kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.  Strategi ini diperkirakan sulit diterapkan tanpa melibatkan negara penghasil minyak utama yang lain dan konsumen utama minyak mentah Rusia. Alternatif lain, strategi pembatasan harga dapat dilakukan melalui asuransi Negara barat dapat meminta agar pembeli menahan asuransi sepanjang mereka sepakat untuk membayar tidak lebih dari harga minyak Rusia yang dibatasi.

Saat ini India dan China adalah negara yang mendapatkan manfaat dari diskon minyak mentah yang diberikan Rusia. Kedua negara tersebut mendapatkan potongan harga hingga US$30 per barel terhadap harga minyak mentah Rusia yang berlaku di pasar global.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Pemerintah Beri Izin IPP Bangun Jaringan Transmisi EBT Sendiri, dalam Draft RUU EBT, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam waktu dekat akan menyerahkan draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Baru Terbarukan (EBT) ke DPR. Selanjutnya DPR akan membuat panitia kerja (Panja) penyusunan UU EBT. Bocoran dari draf RUU EBT versi pemerintah adalah, pemerintah akan memberikan peluang bagi pengusaha listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) untuk membangun jaringan transmisi sendiri khusus menyambung listrik EBT sehingga nantinya kawasan-kawasan industri tidak sulit lagi mendapatkan listrik dari EBT. Ini sejalan dengan keinginan pemerintah untuk terus melahirkan industri hijau. Saat ini beberapa industri manufaktur memang sudah memakai energi hijau mesti terbatas. Ia mencontohkan, bahwa pabrik bir bintang di Jawa Timur kini sudah membangun pembangkit listrik biomassa. Tak hanya mendorong membuat pembangkit sendiri, pemerintah akan memperluas skema power wheeling.

Sementara itu, harga tarif listrik EBT akan dibuat murah dalam ketentuan UU EBT. Caranya, dengan memberikan insentif untuk pengeboran di proyek PLTP dan ada pembicaraan dengan Kementerian Keuangan, bila pengeboran PLTP tidak ada uap akan diganti pemerintah. Maklum investasi terbesar dari proyek PLTP adalah pengeboran sumur dan infrastruktur jalan. Mengebor proyek PLTP itu satu sumur US$ 2-US$ 4 juta, ada ratusan sumur yang dibor agar mendapatkan uap.

Khusus infrastruktur jalan menuju proyek PLTP, akan dibangun oleh uang APBN melalui Kementerian PUPR. Jadi diharapkan tarif listrik EBT yang katanya mahal bisa keekonomian karena dibantu pemerintah.

III. Sektor Geologi , Mineral , Batubara dan Umum

KESDM Telah Menyetujui WPR. Maraknya kegiatan pertambangan tanpa izin (peti) di sejumlah daerah di Indonesia ditengarai akibat adanya pembiaran serta minimnya pengawasan dari pihak berwenang. Di sisi lain, aktivitas ilegal ini kian meningkat dipicu harga komoditas mineral dan batu bara yang terus menguat setahun terakhir. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dirilis beberapa waktu lalu menyebutkan, hinga kuartal III-2022 terdapat lebih dari 2.700 lokasi pertambangan ilegal di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 2.600-an lokasi tercatat merupakan pertambangan mineral dan 96 lokasi merupakan tambang batu bara. Maraknya aktivitas peti tidak bisa dilepaskan dari nilai ekonomi yang didapat oleh masyarakat. Banyak masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari aktivitas ilegal tersebut. Perizinan tambang rakyat saat ini masih sulit karena belum optimalnya komitmen dari pemerintah daerah dalam menetapkan Perda Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

Namu, di sisi lain untuk mencegah aktivitas pertambangan ilegal, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) Blok Lemer dan Blok Simba di Kecamatan Sekotong, yang diajukan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Kepala Dinas ESDM NTB mengatakan penetapan WPR Blok Lemer dan Blok Simba, di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, merupakan bagian dari belasan blok yang diajukan ke pemerintah pusat. Masih ada 17 blok lainnya di Pulau Sumbawa sampai saat ini belum ditetapkan. Keputusan Menteri (ESDM) Nomor 89 tahun 2022 yang menetapkan Blok Lemer dengan Blok Simba menjadi WPR harus dipahami sehingga izin pemanfaatan tidak boleh keluar dari titik koordinat yang sudah ditetapkan. Dinas ESDM NTB juga mempersilakan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui desa dan koperasi untuk membagi blok tersebut, kemudian Dinas ESDM NTB tinggal memproses izinnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Barat mengatakan keberadaan WPR tersebut nantinya diharapkan dapat mengubah kehidupan masyarakat Kabupaten Lombok Barat, khususnya warga Sekotong ke arah yang lebih baik dan sejahtera. Kabupaten Lombok Barat, memiliki kandungan sumber daya mineral cukup menjanjikan untuk dikelola dan dimanfaatkan guna meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat secara luas, baik mineral logam maupun mineral non-logam serta batuan. Sesuai hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Kelompok Penyelidikan Mineral Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM, ditemukan adanya indikasi logam di daerah Mencanggah, Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong. Adanya kandungan emas dalam urat kuarsa di daerah komplek Gunung Simba dan Pelangan dengan kadar bervariasi. Keinginan dan kebutuhan warga Kabupaten Lombok Barat terhadap pertambangan mineral logam (emas) di Sekotong, merupakan usaha dan mata pencaharian yang diharapkan bisa mengubah kehidupannya ke arah yang lebih sejahtera. Ke depan, diharapkan agar dalam pelaksanaan WPR tersebut, bisa tetap mendapatkan pengawasan dan masukan dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTB, maupun dari GOLD-ISMIA.