Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 1 Agustus 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Amerika Serikat, Penguasa Baru LNG Dunia. Krisis energi yang terjadi di Eropa mendorong Amerika Serikat untuk mendominasi penyaluran gas alam di pasar Uni Eropa. Negara-negara Eropa semakin banyak mengimpor LNG untuk mengimbangi impor pipa yang lebih rendah dari Rusia dan mengisi persediaan penyimpanan gas alam yang saat ini berada di level rendah. Impor LNG di Uni Eropa dan Inggris tercatat meningkat 63% selama paruh pertama tahun ini menjadi rata-rata 14,8 Bcf/d. 

Sampai dengan periode Januari – Mei 2022, Amerika Serikat sudah menguasai hampir separuh dari impor LNG Benua Biru. Pada periode Januari hingga Mei 2022,  ekspor LNG yang ditujukan ke UE dan Inggris mencapai 64 persen terhadap total ekspor LNG Amerika Serikat. Volume ini akan terus meningkat seiring dengan  rencana peningkatan kapasitas kilang LNG AS dan fasilitas penerima di Eropa.  Serupa dengan 2021, Amerika Serikat mengirimkan LNG terbanyak ke Uni Eropa sebanyak 14,8 Bcf/d. Diikuti oleh Qatar dengan porsi sebear 15 persen, Rusia dengan bauran 14 persen dan empat negara Afrika jika digabungkan memiliki porsi 17 persen.

Di saat yang bersamaan,  Amerika Serikat   tercatat sebagai pengekspor LNG terbesar di dunia. Jika dibandingkan dengan  kondisi semester II tahun lalu ekspor LNG Amerika Serikat terkerek 12 persen menjadi rata-rata  11,2 miliar kaki kubik per hari.

Selain didorong oleh peningkatan pasar global khususnya di Eropa, pertumbuhan tersebut juga dipengaruhi oleh adanya peningkatan kapasitas ekspor LNG di Amerika Serikat sebesar 2 Bcf per hari dibanding November 2021. Penambahan kapasitas tersebut berasal dari penambahan Train 6 di Kilang LNG Sabine Pass, 18 train pencairan skala menengah baru di Kilang LNG Calcasieau Pass, dan peningkatan kapasitas produksi LNG di LNG Sabine Pass dan Corpus Christi.   Rencana eksponsi kilang Sabine dan Calcasieu yang bakal beroperasi pada akhir tahun ini akan sangat membantu Uni Eropa untuk mendapatkan pasokan gas alam tambahan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi musim dingin tahun ini. Kondisi tersebut akan memuat AS sebagai negara dengan kapasitas ekspor LNG terbesar dunia sebesar 16,3 Bcf per day melebihi kapasitas dua eksportir LNG terbesar dunia yakni Australia dan Qatar masing-masing sebesar 11,4 Bcf per day, dan 10,4 Bcf per day.

Di luar Amerika Serikat, negara negara Eropa yang memiliki kapasitas impor LNG terbatas seperti Jerman mempercepat menyiapkan fasilitas penyimpanan dan regasifikasi terapung  (FSRU) dalam rangka mengantisipasi kekurangan infrastruktur LNG. Jerman terlah menginvenstasikan Euro 15 miliar untuk membeli gas di pasar global untuk penyimpanan. Tambahan FSRU ditargetkan untuk dioperasikan pada 2023 dan 2024. Selain Jerman, Italia juga memerlukan tambahan infrastruktur penyimpanan dimana saat ini kapasitas penyimpanan gas italia sudah mencapai 72 persen.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Menjadikan PLTS Sebagai Sumber Listrik Utama di Indonesia, Listrik selalu dibutuhkan setiap harinya oleh masyarakat Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, listrik menjadi peran penting untuk berjalannya kegiatan masyarakat. Namun, harga listrik sekarang ini tidaklah murah, harga listrik cenderung meningkat, bahkan dari pihak PLN memberikan subsidi untuk kebutuhan listrik bagi masyarakat Indonesia. Kebutuhan listrik yang besar juga memerlukan pembangkit listrik yang besar pula, setidaknya ada 6 jenis pembangkit listrik yang ada di Indonesia, yaitu melalui air, bayu (angin), uap, gas, panas bumi, dan surya.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan pembangkit listrik terbarukan yang dimiliki Indonesia. PLTS memiliki banyak keuntungan dan manfaat bagi penggunanya. PLTS memiliki masa penggunaan yang cukup lama, rata-rata pemakaiannya bisa mencapai 25-30 tahun. Tentunya hal ini menjadi bahan pertimbangan pemerintah dan juga masyarakat untuk beralih ke tenaga surya sebagai sumber pembangkit listrik. Selain itu, PLTS juga mudah dalam pemasangannya baik untuk tempat industri, perusahaan, maupun perumahan. Pemerintah juga telah memudahkan masyarakat untuk memasang pembangkit listrik tenaga surya sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2021 tentang PLTS atap. PLTS atap adalah pembangkit listrik tenaga surya yang panelnya dipasang di atas atap. PLTS atap ini yang lebih sering direkomendasikan untuk digunakan di tempat tinggal masyarakat Indonesia. Pemasangan PLTS atap ini membutuhkan perizinan proyek, terutama untuk skala besar agar tak dianggap ilegal. Ada beberapa jenis panel surya yang bisa dipilih berdasarkan kebutuhan, misalnya jenis panel 1 kWp, 2 kWp, 4 kWp dan juga 6 kWp.

Dari setiap negara Presidensi G-20, Indonesia menjadi negara di urutan terakhir yang memiliki kapasitas pembangkit listrik tenaga surya terendah. Indonesia memiliki sekitar 171,8 Megawatt atau sekitar 0,2 Gigawatt dibawah negara Saudi Arabia degan 0,4 Gigawatt. Transisi ke energi terbarukan seperti tenaga surya bukanlah hal yang tidak mungkin untuk saat ini karena menurut International Renewabale Energy Agency (IRENA) harga untuk pembangkit listrik tenaga surya cenderung turun sehingga dapat dibeli dengan harga yang murah.

Hal ini perlu menjadi pertimbangan pemerintah untuk memilih pembangkit listrik yang memiliki harga terjangkau, terdapat banyak sumber daya yang dibutuhkan, dan tentunya ramah bagi lingkungan karena hal ini menjadi penting dalam pemenuhan target emisi pada tahun 2050. Demi mendukung pelaksanaan KTT G-20 pada bulan November 2022 yang bertemakan Recover TogetherRecover Stronger, sejumlah 36 unit PLTS akan dibangun oleh PT PLN dimana PLTS yang tengah disiapkan ini diperkirakan akan berkapasitas 869 kWp (kilowatt peak). PLTS ini diharapkan juga akan meningkatkan penggunaan energi bersih dan mengurangi efek gas rumah kaca sekaligus mendukung transisi energi sebagai isu utama dalam KTT G-20 di Bali mendatang.

Merujuk pada data yang dimiliki Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Tekanan Udara dan Penyinaran Matahari di seluruh wilayah Indonesia, menunjukkan bahwa provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki persentase penyinaran matahari sebesar 84,99%, terbesar diantara wilayah Indonesia lainnya. Data ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi PLN untuk membangun PLTS pusat di wilayah Nusa Tenggara Barat karena sumber daya yang melimpah berupa sinar matahari. PLN dan beberapa instansi terkait juga dapat membangun PLTS secara merata di beberapa wilayah di Indonesia supaya proses transisi ke energi terbarukan dapat berjalan lebih cepat. PLN juga perlu melakukan edukasi kepada masyarakat terkait dengan energi terbarukan dan PLTS atap yang dapat dilakukan pemasangan secara mandiri di rumah. Selain harganya yang cenderung semakin murah, masyarakat juga dapat belajar dan berperan dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan ramah dari berbagai macam polusi yang diciptakan dari pembangkit listrik.

Pada akhirnya, seluruh elemen berperan penting dalam membuat Indonesia menjadi negara yang lebih ramah lingkungan dan dapat tercapainya target emisi pada 2050 mendatang. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menjadikan PLTS sebagai sumber listrik utama di Indonesia. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam hal ini untuk menciptakan kehidupan yang aman dan sehat bagi generasi yang akan datang. Maka dari itu, seluruh aspirasi yang termasuk dalam 1000 Aspirasi Indonesia Muda diharapkan menjadi bahan pertimbangan di KTT G-20 mendatang.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara Dan Umum

Progress Pembangunan Smelter Kedua PT Freeport Indonesia (PTFI) Capai 34,9%. Pada Jumat (29/7) Menteri ESDM melakukan kunjungan di Java Integrated and Industrial Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan progress pembangunan smelter kedua PTFI berjalan sesuai rencana. Smelter pertama PTFI bekerjasama dengan Mitsubishi yaitu PT Smelting yang telah beroperasi sejak 1996 dengan kapasitas sebesar 300 ribu DMT konsentrat tembaga/tahun. Proyek smelter kedua PTFI berkapasitas 1,7 juta DMT dengan total investasi sebesar US$ 3 miliar (setara Rp 43 triliun). Hingga Juni 2022 kemajuan pembangunannya mencapai 34,9% dengan dana yang telah dikeluarkan sebesar US$ 1,15 miliar.

Pembangunan smelter kedua ini ditargetkan selesai pada akhir tahun 2023 yang akan diikuti dengan kegiatan pre-commissioning and commissioning dan beroperasi di akhir kuartal kedua tahun 2024. Sebanyak 600 ribu ton katoda tembaga serta rata – rata sekitar 35 ton emas/tahun akan diproduksi oleh smelter yang saat ini tengah dibangun. Dari sisi teknologi yang diterapkan dan dikembangkan pada pembangunan smelter tersebut berupa double flash smelting and converting yang telah diadopsi oleh beberapa negara di dunia, seperti Tiongkok, India serta negara – negara di Kawasan Eropa dan Amerika.

Pemerintah, dalam hal ini KESDM telah memberikan dukungan terkait proyek pembangunan smelter ini dalam bentuk regulasi pertambangan, keharusan hilirisasi serta pengawasan progressnya.