Reviu Informasi Strategi Energi dan Mineral Harian, 2 Agustus 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Rata-Rata Harga Minyak Dunia (Brent) pada Juli 2022 Melemah ke USD 104,44/barel dari USD 117,50/barel pada Bulan Sebelumnya dan masih meningkat 40,9% (YoY) dari USD 74,29/barel pada Juli tahun sebelumnya. Sementara itu, rata-rata harga gas alam (Henry Hub) menurun ke USD 6,9/MMBTU pada Juli 2022 dari USD 7,56/MMBTU pada Juni 2022 dan masih tumbuh sebesar 81,13% (YoY) dari Juli tahun lalu.

Pelemahan harga minyak dan gas disebabkan oleh ekspektasi resesi ekonomi global yang berdampak pada penurunan permintaan minyak global. Faktor lainnya adalah peningkatan produksi minyak mentah dari OPEC+.  Beberapa faktor yang masih berpotensi mendorong harga minyak dan gas untuk naik, yaitu the FED silent week; dan pengurangan ekspor gas Rusia melalui Gazprom ke Uni Eropa.

OPEC+ memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksi hingga akhir tahun 2022. OPEC+ sepakat untuk mempertahankan penambahan produksi minyak sebesar 0,648 juta barel per hari hingga akhir tahun 2022 yang berdasarkan oleh pandangan OPEC+ pada ekspektasi resesi yang dapat menekan permintaan minyak, dengan asumsi Iran, Libya, dan Venezuela tidak termasuk kedalam target tersebut karena permasalahan politik didalam negara tersebut.

harga minyak mentah (Brent) diproyeksikan  pada 2022 adalah sebesar USD 119,7/barel. Sebagai catatan, rata-rata harga ytd harga minyak mencapai USD 104,95/barel, atau meningkat 48,13% dibandingkan harga rata-rata tahun 2021.

Beberapa faktor downside risk yang bisa menekan harga minyak ke bawah, yaitu ekspektasi resesi ekonomi global dan penurunan tensi perang Rusia-Ukraina. Selain itu, pelepasan cadangan strategis minyak Cina dan Amerika Serikat juga bisa menekan harga dalam jangka pendek. Sementara itu, faktor upside risk adalah peningkatan permintaan Uni Eropa dalam menghadapi musim.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Potensi EBT Indonesia Lengkap, Harus Dimanfaatkan secara Optimal, Melimpahnya potensi sumber daya energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia harusnya mampu dioptimalkan oleh semua pihak untuk dapat mencapai tujuan bersama, yaitu Net Zero Emition (NZE) 2060

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, potensi energi terbarukan di Indonesia begitu banyak mengacu pada data terbaru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Adapun potensi EBT yang dimiliki Indonesia mencapai 3.686 giga watt (GW). Potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia ini berasal dari energi surya, air atau hidro, bioenergy, angin, panas bumi (geothermal), dan gelombang laut. Porsi terbanyak berasal dari energi surya yang potensinya mencapai 3.295 GW. Hal tersebut menjadi penting seiring dengan target mencapai NZE, di mana Indonesia akan berpindah dari energi fosil ke EBT.

Salah satu strateginya untuk meningkatkan keamanan pasokan energi, maka diajukan diversifikasi sumber daya energi terbarukan, jadi tidak hanya mengandalkan satu EBT, seperti PLTS. PLTS punya sifat intermitensi atau output-nya bisa naik-turun sesuai dengan intensitas matahari, oleh karena itu kita juga butuh energi storage atau penyimpan energi. Salah satu potensi energi alami yang di Indonesia adalah pump hydro energy storage.

Menurutnya, jika melihat kondisi geografis yang dimiliki Indonesia, maka hampir seluruh Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali mengonsumsi listrik paling besar dengan catatan 90 persen dari total konsumsi nasional. Dengan kondisi geografis ketiga pulau tersebut, Fabby menilai mereka punya potensi pump hydro energy storage yang cukup.

Jadi kalau di negara lain berbicara energy storage adalah baterai yang harganya mahal, kita bisa memanfaatkan potensi kontur tanah kita yang berbukit dan nyaris dekat dengan air (laut dan danau), itu memungkinkan kita memanfaatkan pump hydro energy storage, ungkapnya.

Fabby menjelaskan, konsep dari pump hydro energy storage pada saat pembangkit EBT seperti PLTS menghasilkan listrik, dia memompa air yang ada di bawah naik ke bendungan atau tempat yang lebih tinggi.

Misalnya PLTS dipakai pada siang hari itu buat pompa, nanti pada saat malam hari atau pada saat kebutuhan listrik meningkat dan dibutuhkan air yang tadinya tersimpan di reserve gear itu bisa diubah menjadi energi listrik dengan menggunakan pembangkit hidro, kan ada perbedaan tinggi sehingga dia bisa menyediakan persediaan listrik praktis nyaris 24 jam,” ucapnya.

Namun, ia menyayangkan dengan besarnya potensi EBT yang ada, tetapi belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, hal terpenting dalam pengembangan EBT bukan hanya diversifikasi, tetapi juga mengembangkan teknologi yang telah ada.

Kalau kita mengembangkan itu nanti kita bisa lebih lanjut ke teknologi penyimpan energi yang lebih mahal, itu nanti setelah harganya turun. Jadi, kita bisa dalam 10 tahun ke depan memanfaatkan teknologi pump hydro energy storage untuk melengkapi pembangkit listrik kita yang intermiten seperti surya dan angin.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara Dan Umum

Ditopang Sektor Pertambangan, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Naik 0,46% pada Juli 2022, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono dalam rilis resmi BPS Senin (1/8/2022) menyebutkan adanya kenaikan IHPB sebesar 0,46% terhadap Juni 2022. Kenaikan tertinggi berasal dari sektor pertambangan dan penggalian. Pendorong utama atas kenaikan ini ialah kenaikan harga komoditas batubara di pasar global yang memberikan kontribusi sebesar 0,007%.

Secara tahun kalender, IHPB pada Juli 2022 tercatat mencapai 3,98% year-to-date. Sementara secara tahunan mencapai 5,35% year-on-year. Secara bulanan yang mengalami kenaikan tertinggi berasal dari sektor pertambangan dan penggalian, dimana secara bulanan naik 1,06%. Adapun IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Juli 2022 naik sebesar 0,64 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas solar, aspal, semen, dan pasir.