Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 3 Agustus 2022

I.Sektor Minyak dan Gas Bumi

Pedoman  Rencana Penurunan Karbon di Sektor industri Tiongkok. Tiongkok menargetkan puncak total emisi karbon di industri pada akhir tahun 2030. Upaya penurunan emisi di sektor industri akan sangat berdampak terhadap uapaya Tiongkok untuk mencapai target penurunan emisi nasional mengingat sektor ini berkontribusi terhadap 23 persen dari emisi CO2 pada tahun 2021.

Tiongkok memberikan pedoman yang menunjukan apa yang perlu dilakukan oleh masing-masing pihak untuk memastikan dekarbonisasi yang efisien dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.   Pedoman ini akan mencantumkan  peran dan tugas dari masing -masing pihak.

Otoritas pemerintah diharapkan dapat memperketat control atas proyek-proyek berkualitas rendah tetapi memiliki konsumsi energi dan tingkat emisi yang tinggi, membatasi jumlah persetujuan proyek baru, dan menutup proyek-proyek yang tidak sesuai.  Pemerintah perlu melakukan pemantauan ketat terhadap industri yang memiliki kapasitas yang  sudah jenuh dan tidak efisien dengan kapasitas baru yang lebih canggih. Industri industri baja, semen, pelat kaca, dan alumunium elektrolit menjadi sorotan sebagai industri yang perlu mendapatkan perhatian.

Pemerintah diminta untuk memanfaatkan kewenangannya untuk mempercepat dekarbonisasi di sektor industri. Sektor industri diharapkan dapat terdaftar ke dalam skema perdagangan emisi di Tiongkok.  Rencana tersebut menekankan pentingnya acuan intensitas energi untuk produk industri utama dan dibutuhkan pengembangan standar penghitungan emisi di tingkat industri.

Pelaksanaan reformasi pasar tenaga listrik memiliki peran strategis dalam mempercepat dekarbonisasi. Penetapan harga listrik yang berbeda diperkirakan dapat memotivasi terjadinya penghematan energi terutama di sektor baja, bangunan, pemurnian, bahan kimi, dan industri logam dan bukan logam.

Sektor industri didorong untuk mendirikan pembangkit listrik tenaga surya PV yang dilengkapi dengan kapasitas penyimpanan energi, serta meningkatkan penggunaan hydrogen, gas alam untuk menggantikan batubara sebagai bahan bakar untuk listrik, pemanas, serta bahan baku.

Perusahaan di sektor baja, bahan bangunan, pemurnian,  dan petrokimia harus mempercepat penyebaran fasilitas Carbon, Capture, Utilisation, dan Storage (CCUS) dan perusahaan BUMN harus menjadi penggerak utama untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi rendah karbon serta komitmen untuk melakukan dekarbonisasi secara sukarela.

Industri kilang dan pabrik petrokimia  diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk memproses bahan baku dengan kandungan karbon yang lebih rendah sambil membatasi kapasitas produksi btubara menjadi gas dan minyak. Selain itu, proyek integrasi greenfield diharuskan untuk menurunkan hasil produk minyak menjadi di bawah 40 persen secara signifikan melalui peningkatan hasil petrokimia pada tahun 2025.

Untuk industri baja, proporsi baja yang dihasilkan dari tungku listrik diarahkan melebihi 15 persen pada tahun 2025 dan 20 persen pada tahun 2030. Untuk semen energi yang dikonsumsi per unit output perlu dikurangi lebih dari 3 persen pada tahun 2025. Untuk alumunimum, ditargetkan konsumsi listrik yang berasal dari energi terbarukan dapat mencapai 30 persen pada tahun 2030. Untuk kendaraan listrik ditargetkan pada tahun 2030 kendaraan yang bersumber dari energi bersih akan mencapai 40 persen dari kendaraan baru selain itu diharapkan terjadi pengurangan intensitas emisi CO2 pada kendaraan penumpang dan komersial masing-masing lebih dari 25 persen dan 20 persen dari tingkat tahun 2020.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Pemotongan Gas Rusia ke Eropa Mulai Mengancam Stabilitas Pasokan Energi di Asia, Pemotongan aliran gas alam Rusia ke Eropa dikhawatirkan akan semakin mengganggu stabilitas keamanan energi Asia dan mendorong negara-negara di kawasan itu beralih dari gas alam cair (LNG) ke sumber energi lainnya. Raksasa energi Rusia Gazprom memotong pasokan gas ke Eropa yang melalui pipa Nord Stream 1 menjadi 20 persen dari kapasitasnya. Sementara Gazprom mengatakan pemeliharaan turbin menjadi alasannya untuk memotong pasokan gas ke Eropa.

Pejabat Uni Eropa (UE) menyebut adanya ketegangan antara UE dan Kremlin atas perang di Ukraina, menjadi latar belakang pemotongan gas Rusia. LNG berjangka Eropa melonjak sebanyak 10 persen menyusul berita pemotongan pasokan ini, sementara harga spot di Asia Utara melonjak ke level tertinggi sejak bulan Maret. Pemangkasan pasokan gas Rusia ke Eropa membuat perusahaan energi di Korea Selatan dan Jepang cemas, karena dapat menimbulkan persaingan untuk mendapatkan pasokan LNG, di saat Eropa mencoba menimbun lebih banyak gas untuk persediaan di musim dingin mendatang. Dampak langsung dari pemotongan Nord Stream akan meningkatkan persaingan untuk kargo LNG yang sangat terbatas.

Meskipun di masa lalu harga gas di tiap kawasan berbeda-beda, namun saat ini harga gas di Asia mengikuti harga gas di Eropa. Sementara Amerika Serikat (AS) menikmati diskon yang signifikan sebagai produsen komoditas terbesar di dunia dan diperkirakan akan terus memimpin di masa depan. Sekarang Eropa, yang hingga tahun 2020 merupakan pasar ‘backstop’ untuk kargo yang tidak diinginkan mengalami defisit yang dalam dengan langkah perubahan permintaan LNG, sehingga mereka bersaing dengan Asia, yang memperkuat hubungan itu. Selama Eropa defisit, peristiwa di sana akan terus mengatur harga LNG Asia

Efek dari melonjaknya harga gas tidak dirasakan secara merata di seluruh wilayah Asia. Negara-negara berpenghasilan besar seperti Jepang dan Korea Selatan diperkirakan mampu bertahan menghadapi lonjakan harga energi, sementara negara-negara berkembang khususnya di Asia Selatan, harus tertatih-tatih untuk mendapatkan pasokan LNG yang cukup. Contohnya Pakistan, yang mengalami pemadaman bergilir lebih dari 12 jam dalam beberapa pekan terakhir, karena pemerintah baru negara itu sedang berjuang mendapatkan lebih banyak gas. Krisis energi ini telah memperburuk perjuangan Perdana Menteri baru Shahbaz Sharif  di saat pemerintahnya mencoba untuk keluar dari krisis ekonomi dan menegosiasikan dana talangan dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Sementara di Sri Lanka, kekurangan bahan bakar terjadi lebih dulu sebelum krisis ekonomi di negara itu melanda, yaitu pada bulan Mei. Stok bensin di Sri Lanka hampir habis pada bulan Mei yang membuat banyak pengendara rela antre untuk membeli bahan bakar.

Lonjakan pertumbuhan dan perkembangan baru-baru ini jelas membuat banyak negara berkembang lebih bergantung pada energi, tetapi ini masih dapat dikelola jika mereka mendiversifikasi sumber energi mereka, seperti yang semakin dilakukan India. Namun, semua negara rentan jika situasinya tetap sama terlalu lama.Sedangkan pengetatan pasokan yang cepat juga dapat merusak permintaan konsumen karena harga menjadi tidak terkontrol, yang dikombinasikan dengan faktor ekonomi makro yang tidak stabil lainnya, sehingga akan memicu gejolak ekonomi yang semakin parah yaitu resesi.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Krisis Energi Eropa Memicu Naiknya Harga Batubara Acuan (HBA) Indonesia Kementerian ESDM merilis HBA pada Agustus 2022 yaitu sebesar US$321,59/ton dengan kualitas setara 6.322 kcal/kg GAR, total moisture 8%, total sulphur 0,8% dan ash 15%. Tercatat HBA mengalami tren kenaikan sepanjang tahun 2022. Pada Januari, HBA ditetapkan sebesar US$ 158,50/ton, kemudian naik ke US$ 188,38 pada Februari. Selanjutnya bulan Maret menyentuh angka US$ 203,69, April US$ 288,40, Mei US$ 275,64, dan Juni US$ 323,91. Bulan Juli memang sempat turun menjadi US$ 319/ton. Bulan Agustus 2022 ini, HBA kembali naik menjadi US$ 321,59/ton. Secara year-on-year tren harga batubara dapat dilihat pada gambar berikut:

HBA Bulan Agustus berasal dari rata – rata Indonesia Coal Index (ICI) turun 3,94%, Newcastle Export Index (NEX) naik 3,75%, Globalcoal Newcastle Index (GCNC) naik 3,32% dan Platt,s 5900 turun 3,58%. Selain hal tersebut, faktor turunan yang mempengaruhi HBA ialah supply dan demand batubara. Faktor turunan supply dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier serta teknis di rantai pasokan. Sedangkan faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor dan komperisi dengan komoditas energi lain.

Saat ini Eropa sedang mengalami krisis energi yang disebabkan oleh ketidakpastian pasokan gas alam cair. Bahkan beberapa negara Eropa mengaktifkan kembali pembangkin listrik batubara untuk mengantisipasi adanya krisis listrik.

Dari sisi domestik, pemerintah telah menetapkan HBA DMO khusus kelistrikan sebesar US$70/ton DAN US$90/ton diperuntukkan bagi HBA DMO untuk kebutuhan bahan bakar industri. Hal ini dimaksud untuk menjaga daya saing industri domestik dan utamanya memastikan keterjangkauan hasil produksi industri bagi masyarakat.