Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 11 Agustus 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Menjaga Arah Pengembangan Energi Terbarukan. Teknologi menjadi kunci dalam pelaksanaan transisi energi. Pemimpin global berusaha mengatasi trilemma energi keamanan, keberlanjutan dan keterjangkauan. Banyak pemerintah mempercepat rencana dekarbonisasi namun kondisi yang terjadi tidak dapat mengaburkan kenyataan bahwa krisis energi telah memaksa banyak negara maju di Eropa untuk kembali menggunakan batubara. Bahkan dengan harga komoditas yang tinggi, permintaan batubara global relative masih tinggi terutama di pasar yang mempu memproduksi sumber daya yang murah seperti Tiongkok dan India. Bulan lalu, produksi batubara Indonesia mencapai rekor tertinggi sementara ekspor Australia naik ke level tertinggi tahun ini.

Melonjaknya harga LNG dan eropa yang melebihi Asia untuk pasokan LNG menimbulkan peningkatan risiko batubara yang menyaingi gas untuk peran bahan bakar transisi di negara berkembang Asia. Bahkan Australia dan jepang saat ini menjalankan pembangkit listrik tenaga batubara dengan tinggi. Kondisi ini bukan berarti pemerintah di seluruh dunia mengabaikan target emisi tetapi mengakibatkan penurunan emisi global gagal turun dengan cepat.

Meningkatnya harga LNG dan meningkatnya persaingan mendapatkan gas dengan EU telah membebani permintaan LNG Asia. Jika Eropa besar-besaran mencari LNG untuk menggantikan gas pipa Rusa sampai dengan akhir tahun 2023, permintaan LNG Asia bisa turun lebih dari 40 Mtpa pada pertengahan dekade ini Batubara akan mengambil sebagaian besar kekurangan yang ada bukan energi terbarukan. Terlepas dari investasi besar yang dilakukan Tiongkok dalam energi terbarukan. Tiongkok saat ini masih memproduksi 60% listriknya dari batubara dan produksi batubara domestic mendapatkan dukungan kuat dari pemerintah untuk membantu mencegah terulangnya pemadaman listrik yang terjadi musim panas lalu dan mengurangi ketergantungan pada LNG yang mahal.  Hal serupa juga terlihat di Asia Pasifik dimana 56 persen listriknya masih berasal dari batubara.

Investasi energi terbarukan diperkirakan akan terjadi secara besar besaran pada dekade berikutnya. Untuk mendukung hal tersebut, beberapa dukungan kebijakan perlu disiapkan sehingga perkembangan pasar energi terbarukan tidak menuju kearah yang berlawanan. Kebijakan yang ada juga perlu mengatasi potensi risiko bagi pengembang dan pemberi pinjaman yang meningkat karena meningkatnya rantai paasokan dan biaya pembiayaan, serta integrasi jaringan yang memburuk. Kondisi ini sempat terjadi di Australia. Setelah sebelumnya menyatakan dukungan penggandaan kapasitas energi terbarukan hingga 2030, namun kemudian di dalam Rencana Sistem Terpadu terbarunya  2022. menyatakan pentingnya gas dalam menudukung transisi energi. Hal ini juga terjadi di Vietnam, dimana Pusat Pengiriman Beban Nasional Vietnam mengumumkan bahwa tidak ada proyek tenaga surya atau angin baru yang akan terhubung ke jaringan listrik tahun ini. Rancangan rencana pengembangan tenaga listrik Vietnam sekarang bertujuan untuk menjaga pangsa energi terbarukan tetap datar hingga tahun 2030 karena kendala jaringan, dan berpeluang meningkatkan kebutuhan batu bara dan gas untuk memenuhi permintaan listrik yang meningkat.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Kendalikan Konsumsi Agar Subsidi Energi Tak Bengkak. Menteri Keuangan (Menkeu) meminta PT Pertamina (Persero) betul-betul mengendalikan volume bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar APBN tidak jebol untuk memberikan subsidi energi. Ada tiga hal yang memukul APBN imbas subsidi  BBM selain volume BBM subsidi yang terus naik dari kuota, harga keekonomiannya juga lebih tinggi dari yang sudah diestimasikan, lalu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Itu semuanya memberikan tekanan pada APBN kita di 2022 ini. Meskipun APBN-nya bagus, surplus sampai bulan Juli, tapi tagihannya tersebut akan naik jika volumenya tidak terkendali dan akan lebih besar di semester II.

Pemerintah telah menambah subsidi energi Rp349,9 triliun sehingga total seluruh subsidinya Rp502 triliun. Subsidi yang ditetapkan dihitung berdasarkan kuota untuk Pertalite sebesar 23 juta kiloliter (kl). Sampai dengan Juli volumenya terus meningkat dan sudah mencapai 16.8 juta kilo liter padahal kuota hanya sebesar 23 juta kilo liter dan diperkirakan realisasinya akan mencapai 28 juta kiloliter, hal ini berarti akan ada tambahan  di atas Rp 502 triliun. Belum lagi harga minyak yang meroket melebihi asumsi APBN, yang mana harga minyak sempat menyentuh 120 dolar AS per barel, hal itu akan menambah tekanan pada APBN.

Kemenkeu mencatat realisasi subsidi energi hingga akhir Juli 2022 mencapai Rp 116, 2 triliun naik 17,5 % YoY. Sementara itu, pembayaran kompensasi BBM dan listrik hingga akhir Juli mencapai Rp 104,8 triliun, naik 512,7% yoy. Terkait subsidi BBM, pemerintah kini tengah membahasnya dengan Pertamina, Menteri BUMN, dan Menteri ESDM Arifin Tasrif untuk  mencari langkah-langkah untuk mengamankan rakyat, mengamankan ekonomi, dan mengamankan APBN, khususnya agar APBN bisa lebih tahan terhadap kenaikan harga keekonomian BBM. Selain itu pemerintah akan memperbaiki kebijakan agar subsidi efisien dan terserap oleh masyarakat yang membutuhkan.

III. Sektor Geologi, Mineral , Batubara dan Umum

Perkembangan Logam Tanah Jarang. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan pihaknya bekerja sama dengan sejumlah perusahaan Australia untuk mengkaji teknologi pengolahan logam tanah jarang yang banyak ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, mengatakan, logam tanah jarang di Indonesia berpotensi digunakan untuk bahan baku baterai dan lapisan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) kendaraan tempur, tank, dan senjata. Logam ini juga dapat digunakan termasuk untuk turbin, kaitannya dengan transisi energi.

Perkembangan logam tanah jarang hingga saat ini masih sampai pada tahapan eksplorasi awal, yakni berupa pemetaan, georadar-geomagnet, dan perhitungan potensi kandungan. Maka, guna meningkatkan tahapan eksplorasi menjadi semakin masif, Kementerian ESDM juga bekerja sama dengan pihak dari dalam dan luar negeri. Salah satunya yakni, melakukan kajian bersama sejumlah perusahaan Australia penyedia teknologi pengolahan logam tanah jarang. Pengembangan logam tanah jarang memerlukan penanganan yang lebih rumit dibanding mineral, khususnya terkait teknologi.

Eksploitasi logam tanah jarang masih terbatas. Adapun indikasi lokasi yang sudah terpetakan sebagai sumber daya sejauh ini baru ditemukan delapan lokasi yang seluruhnya baru dilakukan eksplorasi. Kementerian ESDM mencatat, sebagian besar logam tanah jarang tersimpan di Pulau Bangka Belitung dengan monasit 186.663 ton dan senotim 20.734 ton. Logam tanah jarang juga ditemukan Sumatera Utara sebanyak 19.917 ton, Kalimantan Barat 219 ton, dan Sulawesi Tengah 443 ton. Badan Geologi Kementerian ESDM juga menemukan kandungan potensi logam tanah jarang di lokasi semburan lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam hal ini, mereka melakukan kajian bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (TekMIRA). Adapun, kajian mengenai kandungan logam di Lumpur Lapindo masih terus berlangsung.

Saat ini, pemerintah melalui PT Timah sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi dari Kanada untuk mengembangkan teknologi pengolahan logam tanah jarang monasit dengan kapasitas pengolahan 1.000 ton per tahun. Adapun pemanfaatan logam tanah jarang secara umum akan dikelola oleh dua kementerian, yakni Kementerian ESDM yang mengatur sektor hulu dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mengelola sektor hilir. Kementerian ESDM memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melakukan ekstraksi timah menjadi monasit untuk selanjutnya dijadikan logam. Sementara itu, Kemenperin memiliki fungsi untuk mengubah logam tersebut menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi seperti magnet atau bahan baku lapisan kendaraan militer dan penerbangan.