Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 5 Oktober 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Peluang Indonesia Menggunakan Minyak Rusia. Penyesuaian bahan baku yang digunakan untuk kilang minyak menjadi strategi operasional yang krusial di tengah gejolak harga minyak. Industri kilang minyak telah menghadapi berbagai tantangan termasuk harga minyak yang bergejolak dan pergeseran geopolitik dunia. Teknologi kilang minyak yang relative kurang canggih membuat Indonesia cenderung lebih rentan terhadap tantangan pasar dan volatilitas harga dibandingkan industri pengilangan minyak yang berada di Asia Selatan atau Asia Timur Laut. Industri pengilangan minyak di Indonesia cenderung masih belum cukup berinvestasi untuk meningkatkan fasilitas yang dimiliki dan belum cukup fleksibel sehingga cenderung menyebabkan tingginya biaya operasional keseluruhan.

Pemilihan minyak mentah, bahan baku dan logistic menjadi fokus utama bagi industri pengilangan minyak untuk mendapat hasil yang optimal. Di tengah volatilitas harga minyak yang tinggi serta penguatan kurs dolar AS, pencarian alternatif sumber bahan baku menjadi opsi yang relevan dan paling  logis untuk  mengendalikan biaya produksi. Minyak mentah Rusia dapat menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan terlebih spesifikasi minyak mentah yang ada sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan.  Berdasarkan hasi pengujian kepada sejumlah kadar dan spesifikasi minyak mintahnya. Minyak mentah Rusia memiliki kadar belerang, kandungan logam dan kontaminan yang sangat sesuai dengan produk yang akan dihasilkan dari konfigurasi kilang Pertamina.

Secara umum konfigurasi kilang minyak pertamina didesain untuk memproses sour crude. Hal ini sedikit menyulitkan Indonesia ketika harga minyak mentah jenis asam meningkat. Saat ini, India adalah salah satu negara yang sangat aktif mengimpor minyak mentah Rusia dengan harga murah. Pertamina mencoba melihat peluang tersebut dan menjajaki kemungkinan impor minyak mentah Rusia untuk menurunkan biaya operasional mengingat saat ini  90 persen dari biaya operasional cracking dan pemurnian bahan baku berasal dari biaya minyak mentah.  Berdasarkan perkembangan harga saat ini, selisih harga minyak mentah Rusia  dengan harga Brent  per September 2022 mencapai  US$ 23 per barel.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Transisi Energi Hijau, Pemerintah Perlu Tingkatkan Produksi Migas, Besarnya investasi yang dibutuhkan dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) membuat peranan energi fosil belum dapat dilepaskan seutuhnya.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menjelaskan, peranan hulu migas dalam dalam jangka pendek masih merupakan sumber pendapatan negara yang strategis dan dalam jangka panjang akan menjadi sebagai penggerak perekonomian nasional. Menurutnya, kebutuhan energi di era transisi masih akan dipasok oleh energi yang berasal dari fosil, termasuk migas. Proses menuju net zero emission pada 2060 dalam perjalanannya EBT dan energi fosil saling melengkapi dan mengisi dalam bauran kebutuhan energi ke depan.

Perubahan peranan hulu migas tetap memberikan dampak positif lainnya, yaitu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan menopang tumbuhnya kapasitas nasional di pusat maupun di daerah. Dengan demikian, industri migas belum memasuki industri yang sunset. Oleh karena itu, di era transisi energi pemerintah harus meningkatkan produksi minyak agar bisa mengurangi impor minyak, sehingga negara memiliki ruang yang lebih luas untuk mengalokasikan pembiayaan energi terbarukan.

Kendati demikian, industri hulu migas dapat bertransformasi dalam menuju energi yang lebih bersih, melalui efisiensi energi maupun mengembangkan potensi bisnis carbon capture and storage/carbon capture, utilization, and storage (CCS/CCUS). Jika bisnis CCS/CCUS sudah sangat dominan, industri hulu migas telah berubah menjadi industri bersih karena dapat membantu menyerap dan menyimpan Co2 yang dikeluarkan oleh industri lain, seperti industri semen, industri besi baja, dan lainnya. Perlu adanya political will dari semua pihak. Ada atau tidak ada dalam prolegnas, karena amanat revisi UU Migas adalah merupakan keputusan Mahkamah Konstitusi, maka setiap saat jika ada political will, maka revisi UU Migas bisa dibahas pemerintah dan DPR.

Meskipun saat ini, isu mengenai EBT telah menjadi perbincangan yang luas dan perhatian para pengambil kebijakan, namun kenyataannya energi fosil dari minyak dan gas tetap dibutuhkan. Namun, persyaratan kerja sama dengan investor semakin ketat karena harus memiliki program dan pelaporan keberlanjutan lingkungan.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Produksi batubara diperkirakan di bawah target. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) melaporkan terjadi peningkatan permintaan batu bara dari sejumlah negara mitra pada triwulan keempat tahun ini. Hanya saja, produksi batu bara domestik diperkirakan akan berada di bawah target yang ditetapkan pemerintah di angka 663 juta ton hingga akhir 2022.

Direktur Eksekutif APBI mengatakan peningkatan impor terjadi dari pasar tradisional dan non-tradisional di tengah tensi geopolitik yang masih intens hingga saat ini. Pembeli tradisional dengan porsi konsumsi besar seperti India dan China dipastikan membeli batu bara dengan persentase yang lebih tinggi dari pencatatan triwulan sebelumnya. Namun, permintaan dari sejumlah negara non-tradisional belakangan juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pembelian batu bara dari Eropa sudah mencapai 4 juta ton sepanjang Januari hingga September tahun ini. Padahal torehan ekspor ke Eropa tidak pernah melebihi volume 1 juta ton selama ini.

Hanya saja, realisasi produksi batu bara domestik turut dihadapkan pada persoalan cuaca dan pengadaan alat berat yang ikut mengoreksi ketersediaan pasokan. Menurut APBI, rata-rata produksi bulanan itu 50 juta ton sampai 52 juta ton, mungkin saja akhir tahun ini sekitar 650 juta ton, secara estimasi kasar, sedikit di bawah target. Berdasarkan data milik Kementerian ESDM, realisasi produksi batu bara domestik sudah mencapai 497,55 juta ton atau 75,04 persen dari target yang dicanangkan pemerintah hingga awal bulan ini.

Adapun realisasi ekspor mencapai 189,71 ton dan kewajiban pasokan domestik (DMO) sebesar 128,76 ton. Sisanya realisasi domestik menyentuh di angka 140,68 juta ton. Seperti diketahui, kebutuhan impor batu bara dari China diproyeksikan mencapai 240 juta ton pada tahun ini. Sementara India yang memperbanyak kualitas batu bara rendah diproyeksikan akan melakukan impor sebanyak 140 juta ton. Adapun, Indonesia berpotensi mengekspor 190 juta batu bara dengan 54 persen pasar didominasi China dan India. Sementara untuk kebutuhan domestik, PT Perusahaan Listrik Nasional (Persero) atau PLN dipastikan akan menyerap sekitar 137 juta ton batu bara hingga akhir tahun ini. Di sisi lain, total kebutuhan domestik diprediksikan tembus di angka 165 juta ton.