Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 18 Oktober 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Tantangan Pasar Migas Global. Indonesia melalui SKK Migas menilai adanya peluang investasi dari kebijakan OPEC yang melakukan pemotongan produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari.  Pemotongan tersebut di satu sisi mendorong peningkatan harga minyak dunia menjadi lebih tinggi. Hal ini berpotensi memberikan dampak positif terhadap kegiatan hulu migas karena memberikan motivasi bagi badan usaha untuk berinvestasi lebih besar. Indonesia perlu memanfaatkan kesempatan tingginya harga minyak untuk semakin banyak menarik investor di sektor hulu migas.

Salah satunya kegiatan pengeboran sumur pengembangan yang tercatat meningkat di triwulan ketiga tahun 2022 dibanding tahun sebelumnya. Bahkan hingga September 2022 jumlah kegiatan pengeboran sudah melampaui capaian tahun 2021 dan melampaui pencapaian target investasi. Hingga triwulan ketiga 2022, realisasi investasi di sektor hulu migas mencapai US$7,7 miliar dari target US$13,2 miliar. Nilai ini menjadi nilai investasi hulu migas terbesar selama 7 tahun terakhir. Aktivitas kegiatan pengeboran sumur pengembangan juga menunjukan peningkatan di triwulan ketiga. Dari target 790 sumur pengembangan menjadi 801 sumur. Masifnya kegiatan pengeboran sumur memberikan dampak terhadap peningkatan produksi sehingga membantu dalam upaya menjaga produksi dan lifting migas. Hingga triwulan ketiga produksi minyak mencapai 613 ribu bopd sedangkan lifting mencapai 610 BOPD. Untuk salur gas mencapai 5.353 juta kubik per hari dengan total lifting setara minyak mencapai 1.562 juta barel per hari atau sekitar 89,8% dari target 2022.

SKK Migas memperkirakan produksi gas alam cair atau LNG domestic dapat menyentuh di kisaran 200 kargo hingga akhir 2022. Hingga September 2022, produksi LNG dari kilang Bontang mencapai 57,3 kargo dan Kilang Tangguh mencapai 81,2 kargo. Sampai dengan akhir tahun 2022, diperkirakan produksi Kilang Bontang akan mencapai 82,3 kargo dan Kilang Tangguh mencapai 117,1 kargo. Dari kapasitas tproduksi tersebut, potensi sisa kargo atau uncommitted cargo yang dapat dijual kembali ke pasar luar negeri melalu pasar spot di tengah harga LNG yang tinggi di tahun ini.  Saat ini harga LNG di pasar spot relative tinggi yakni mencapai US$42,2 per MMBTU. Tingginya harga LNG di pasar spot dapat mendorong pelaku industri untuk meningkatkan investasinya guna mendorong tingkat produksi yang lebih optimal di tengah momentum peningkatan harga LNG global.

Meskipun demikian, para pelaku hulu migas masih memiliki tugas atau pekerjaan rumah lainnya untuk melakukan transformasi kebijakan dalam memperbaiki iklim investasi di Tanah Air. Selain itu, harga minyak yang tinggi perlu dihitung. lebih lanjut terkait impor minyak termasuk biaya untuk menghasilkan bahan bakar minyak. Bahkan ada lima isu yang perlu menjadi perhatian khususnya terkait nasib pasar minyak pada 2023. Salah satunya adalah lonjakan inflasi yang mengancam perekonomian dan berdampak terhadap penurunan permintaan minyak. Isu lainnya adalah peningkatan produksi minyak di Amerika Serikat sebagai respon terhadap pemotongan produksi yang dilakukan oleh OPEC+. Ditambah lagi konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina masih memberikan ketidakpastian terhadap kondisi penyediaan energi global. Masih belum dapat diketahui bagaimana reaksi Rusia terhadap pembatasan harga yang dilakukan oleh negara barat, sanksi yang diberikan, serta pembahasan nuklir iran dan Amerika Serikat.

II.Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Indonesia Simpan Potensi EBT Sangat Besar, Punya Peluang untuk Diekspor, Berdasarkan data KESDM potensi EBT Indonesia secara nasional sebesar 3.600 GW hingga 3.700 GW. Sementara, keperluan listrik Indonesia pada tahun 2060 mendatang hanya sebesar 700 MW. Oleh sebab itu Indonesia memiliki potensi untuk ekspor listrik ke Singapura. Ekspor listrik ke Singapura dapat melalui kabel di bawah laut dari titik daerah atau pulau terdekat ke Singapura. Walaupun memang pulau yang terdekat adalah Batam, namun tak menipis kemungkinan bisa melalui pulau Sumatera. Kendati demikian, ekspor EBT ke negara lain tidak dilakukan dalam waktu dekat ini.

Secara regulasi ekspor diperbolehkan dalam regulasi UU Ketenagalistrikan. Namun hal tersebut juga memiliki syarat yakni di dalam negeri harus terpenuhi terlebih dahulu. Selain itu, dipastikan juga tidak boleh ada subsidi untuk EBT yang akan diekspor ke luar negeri. Kemudian apabila mengekspor EBT dipastikan tidak mengganggu kebutuhan listrik hijau di dalam negeri.

Disisi lain, meskipun Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang sangat besar. Terutama adalah dari Surya. Namun,  Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan EBT dibandingkan negara-negara ASEAN. Di ASEAN ini Singapura, Brunei dan Indonesia termasuk 3 negara terendah untuk penghasilan share renewable energinya, share EBT di Indonesia baru 14,7% atau di bawah rata-rata ASEAN yang mencapai 33,5%. Padahal peluang pengembangan EBT sangat terbuka, terlebih didukung peningkatan konsumsi listrik per kapita.

Dalam dua dekade terakhir, Indonesia memang sangat lambat dalam mengembangkan EBT, karena pemerintah hanya fokus untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).Untuk bauran EBT di pembangkit listrik masih rendah, paling tinggi Laos, Vietnam, karena Laos itu banyak PLTA nya lalu kemudian Vietnam.

Rata-rata perkembangan energi terbarukan di Indonesia sejak tahun 2004 hingga 2014 sebesar 500 MW per tahun. Sedangkan pada tahun 2015 hingga 2019 itu hanya 300 sampai 400 MW per tahun. Sementara untuk energi fosil sendiri meningkat tumbuh lebih besar. Hal ini membuat Indonesia akan terancam ditinggal pergi oleh industri-industri karena mereka tentu membutuhkan negara yang mampu untuk menyuplai EBT.

III.Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Ekspor Batubara Meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor batu bara Indonesia ke Eropa pada September melonjak 68% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$ 161,69 juta. Peningkatan nilai ekspor tersebut di tengah ancaman krisis energi yang melanda benua biru akibat perang Rusia dan Ukraina. Nlai ekspor batu bara ke Uni Eropa pada September 2022 ini merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Peningkatan nilai ekspor batu bara ke kawasan tersebut terutama untuk pengiriman ke Polandia dan Eropa. Nilai ekspor batu bara ke Polandia pada bulan lalu sebesar US$ 63,36 juta, melonjak 95,47% secara bulanan. Peningkatan signifikan juga terjadi di Belanda, nilainya US$ 55,85 juta dari bulan sebelumnya tidak ada ekspor sama sekali alias nol. Namun ada penurunan ekspor batu bara ke Italia sebesar 4,31% secara bulanan.

Selain di Uni Eropa, peningkatan ekspor batu bara Indonesia juga terjadi untuk pengiriman ke Cina. Nilai ekspor ke Cina bulan lalu mencapai US$ 949 juta, meningkat 41,2% dalam sebulan. Namun memang pengiriman ke beberapa negara mitra dagang lainnya turun, diantaranya ke India terkoreksi 33,47%, Filipina 19,27% serta Jepang 3,9%.

Secara spasial, ekspor batu bara meningkat tipis untuk produksi dari Kalimantan Timur 0,02%. Namun ekspor dari provinsi lainnya menurun, terutama di Kalimantan Selatan 23,33% Kalimantan Tengah 20,13% serta Sumatera Selatan 17,89%. Secara total, nilai ekspor batu bara Indonesia memang turun pada bulan lalu sebesar 4,5% menjadi US$ 4,2 miliar. Penurunan ini menyumbang penurunan nilai ekspor nasional secara keseluruhan pada bulan lalu sebesar 10,99% secara bulanan.