Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 25 Oktober 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Memanfaatkan Peluang Ekonomi Di Tengah Transisi Energi. Selama lebih dari dua tahun terakhir, tekanan masyarakat, kebijakan, dan investor kepada pelaku industri untuk beralih dari energi berbasis bahan bakar fosil menuju ekonomi nol karbon semakin tinggi. Hal ini diperlihatkan dari semakin bertambahnya jumlah perusahaan yang menetapkan target pencapaian emisi net zero pada tahun 2050 atau lebih cepat dari 2040.

Hal ini semakin diperkuat dengan adanya ketegangan yang dipicu oleh invasi ke Ukrainia yang berdampak terhadap kehidupan serta mata pencaharian masyarakat di sekitarnya menyebabkan gejolak di pasar energi, mulai dari terjadinya kekurangan pasokan dan naiknya harga beberapa komoditas, di Eropa bahkan di pasar global.  Saat ini, ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pasokan yang aman, andal, dan terjangkau.

Negara-negara penghasil minyak dan gas di Afrika memasuki era baru. Di saat dunia berupaya mempercepat transis energinya dari bahan bakar fosil, tekanan pada negara negara penghasil minyak dan gas semakin meningkat. Negara negara penghasil minyak dan gas diperkirakan cenderung terdampak pada transisi energi karena ketergantungan ekonomi mereka pada pendapatan minyak dan gas cukup besar. Pada Saat yang sama, permintaan energi di Afrika diperkirakan akan melebihi pasokan. Selama dua dekade ke depan, pertumbuhan populasi dan indsutrialisasi yang cepat diperkirakan akan mendorong pertumbuhan energi yang lebih tinggi. Pada tahun 2040, peningkatan permintaaaan energi diperkirakan meningkat sekitar 30 persen dibanding saat ini.

Di sisi lain, transisi energi memberikan peluang bagi negara Belanda, memberikan dorongan perekonomian sekaligus menurunkan gas rumah kaca yang sejalan dengan tujuan global. Untuk mendukung pencapaian target emisi GRK pada tahun 2050, Belanda harus melipatgandakan tingkat pengurangan emisi tahunan yang rata-rata dari tahun 1990 sampai dengan 2014 melalui perubahan sistem energi saat ini. Perubahan sistem energi yang dilakukan membutuhkan tingkat investasi yang signifikan. Hal ini menimbulkanpertanyaan penting tentang bagaimana meminimalkan biaya dan memaksimalkan manfaat dari transisi energi yang dilakukan. Luas wilayah yang kecil dan penduduknya yang padat memberikan keuntungan bagi pelaksanaan program pengurangan emisnya, dimana investasi infrastruktur baru dapat dilakukan secara lebih ekonomis karena tingkat pemanfaatan yang tinggi. Nilai investasi yang dilakukan Belanda sebesar 10 miliar Euro per tahun sepanjang tahun 2020 dan 2040 dalam mendukung pelaksanaan sistem energi rendah karbon, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan sekitar 45.000 lapangan kerja baru. Salah satu kuncinya adalah adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan sektor swasta untuk membuat program investasi rendah karbon menjadi lebih efisien dan dapat mendukung pengembangan sektor-sektor yang paling potensial untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan lapangan kerja.

Beberapa program penurunan emisi yang dicanangkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi seperti meningkatkan isolasi bangunan, memeperluas pasokan energi terbarukan, dan menambah ketersediaan fasilitas pengisian kendaraan listrik.. Transisi energi yang dipercepat dapat memacu lebih banyak investasi dan inovasi di bidang pendukung yang membutuhkan perubahan teknolog, model bisnis dan pembiayaan. Oleh karena itu Pemerintah Belanda berusaha menstimulus kegiatan ekonomi baru dengan meningkatkan investasi investasi di sektor dimana Belanda dapat membangun daya saingnya.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Pasokan Energi Asia Lebih Aman Dibandingkan Eropa, Pasokan listrik di Asia-Pasifik diklaim dalam keadaan aman dibandingkan Eropa yang sedang berjuang mengatasi kekurangan listrik. Demikian menurut data Badan Energi Internasional IEA. Seiiring banyak pasokak gas alam cair LGN di wilayah tersebut yang dialihkan ke Eropa maka pembangkit-pembangkit listrik di Asia tidak hanya memiliki akses LNG lebih sedikit, tetapi diharuskan juga memilih untuk tidak membeli LNG yang harganya lebih mahal gara-gara permintaan tinggi dari Eropa.

Sebagai informasi, kawasan Eropa sedang berjuang mengatasi kekurangan gas menyusul tindakan Rusia untuk memangkas pasokannya, hal ini berimbas pada banyak negara yang mengalami krisis energi menjelang musim dingin. Bahkan perusahaan utilitas listrik dan gas multinasional Inggris, National Grid telah memperingatkan kemungkinan terjadi pemadaman listrik.

Selain itu Uni Eropa juga memutuskan untuk menghindari usulan pembatasan harga untuk gas Rusia dan menetapkan langkah-langkah baru untuk mengatasi harga energi yang tinggi. Pemerintah Rusia sendiri awalnya mengatakan bakal menghentikan semua pasokan bahan bakar ke UE jika blok tersebut tetap memberlakukan pembatasan yang akan berunjung menekan pendapatan dan harga komoditas Negeri Beruang Merah. Namun meskipun terjadi krisi di Eropa  dan perang Ukraina yang mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak dan gas secara global, hal itu tidak merugikan pembangkit-pembangkit energi di Asia.

Di Asia alih-alih menggunakan gas, negara-negara dikawasan Asia lebih menggunakan batu bara karena batubara yang tersedia, batu bara domestik dan harganya lebih murah. Kelemahannya adalah Asia telah berhenti meningkatkan komsumsi gas, setidaknya untuk saat ini. Ditambah lagi menurut Kepala Penelitian Energi & Energi Terbarukan Asia Pasifik, bahwa keadaannya berbeda dengan Eropa yang mengandalkan gas untuk penciptaan energi, karena di Asia penggunaannya masih kurang relevan. Bahkan Asia hanya menggunakan 11% dari gabungan dayanya, dan LNG yang diimpor baru digunakan sedikit dari sebagian besar gas berasal dari produksi dalam negeri. Meski mengalami penurunan  penggunaan batubara masih menguasai porsi yang lebih besar. Pangsa batubara dalam pembangkit listrik untuk pasar Asia-Pasifik mencapai 60%.

Disisi lain, berdasarkan laporan gas terbaru dari IEA, perdagangan Asia atau impor LNG jangka pendek mengalami penurunan 28% dalam delapan bulan pertama tahun ini, dibandingkan periode yangsama di tahun lalu. Impor LNG tercatat secara keseluruhan turun7% YoY. Impor ke Tiongkok yang sekarang adalah importir LNG global terbesar mengalami penurunan sebanyak 59% sedangkan penurunan impor LNG untuk Jepang, Pakistan dan India masing adalh 17%, 73% dan 22%

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara Dan Umum

Feronikel Akan Dikenakan Pajak Ekspor. Produk olahan nikel yang diekspor Indonesia ialah Feronickel, Nickel Pig Iron (NPI) dan Nickel Matte. Kedua jenis produk tersebut telah mengalamani proses pengolahan maka produk – produk tersebut boleh diekspor. Pemerintah terus mendorong penambahan nilai lebih tinggi pada produk hasil tambang. Selain melarang ekspor mentah dalam bentuk bijih, pemerintah juga menerapkan pajak ekspor atau bea keluar pada produk tambang olahan yang dianggap masih rendah nilai tambahnya. Langkah ini merupakan salah satu cara untuk menurunkan animo pelaku usaha yang berminat untuk mengekspor produk tambang setengah jadi seperti feronikel.

Pemerintah mengharapkan agar pengusaha bisa lebih mengutamakan hilirisasi lanjutan dari komoditas feronikel guna meningkatkan nilai jual. Feronikel sendiri merupakan hasil olahan bijih nikel kadar tinggi saprolite yang harus melalui pengolahan di smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Selain mengolah bijih nikel kadar tinggi, pemerintah juga mengolah bijih nikel kadar rendah atau limonit melalui smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan Nickel Hydroxyde Product (NHP).

Menurut Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi memastikan penerapan pajak ekspor atau bea keluar produk hilirisasi nikel setengah jadi berlaku pada tahun ini. Selain mengolah bijih nikel menjadi barang setengah jadi, pemerintah juga sedang mengembangkan pengolahan bijih nikel menjadi salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik.