Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 26 Oktober 2022

I. Sektor Minyak Dan Gas Bumi

Update Harga Minyak Dunia (Brent) kembali menembus USD 90/barel setelah OPEC+ memotong target produksi November dan Desember 2022. Sebelumnya, harga minyak dunia sempat tertekan hingga menyentuh level terendah pasca invasi Rusia ke Ukraina yaitu sebesar USD 84,06/barel pada 26 September 2022. Tetapi, harga tersebut kembali menembus USD 90/barel pada 5 Oktober 2022 setelah OPEC+ mengumumkan akan memotong produksi November dan Desember 2022 sebesar 2 juta barel per hari. Namun peningkatan harga minyak yang terjadi karena pemotongan supply dari OPEC+ akan tertahan terutama oleh ekspektasi resesi ekonomi global yang berdampak pada penurunan permintaan minyak global.

Harga rata-rata minyak mentah per Oktober 2022 adalah sebesar USD 93,09/barel, atau meningkat 11,12% yoy. Sementara itu, harga rata-rata year-to-date minyak mentah hingga Oktober 2022 adalah sebesar USD 101,81/barel, lebih tinggi dari rata-rata harga minyak mentah tahun 2021 yang sebesar USD 70,85/barel.

OPEC+ memutuskan untuk memotong target produksi sebesar 2 juta bph pada November dan Desember 2022. Pada pertemuan ke 33, OPEC+ sepakat untuk menurunkan tingkat produksi sebesar 2 juta bph pada bulan November dan Desember 2022 dan akan meninjau kinerja kembali kinerja produksi pada akhir Desember 2022. Keputusan tersebut didasari oleh pandangan OPEC+ terhadap ekspektasi resesi global dan peningkatan persediaan minyak global. Lebih lanjut, OPEC+ memperkirakan permintaan minyak global pada tahun 2023 akan menurun karena tingkat inflasi yang tinggi di banyak negara. Selain itu, persediaan minyak global diperkirakan akan meningkat karena Iran akan kembali menyuplai minyak ke pasar minyak global.

Harga rata-rata minyak mentah (Brent) pada 2022 diperkirakan sebesar USD 102,5/barel. Sementara proyeksi harga minyak tahun 2023 adalah USD 86/barel. Sebagai catatan, harga rata-rata year-to-date minyak mentah hingga 24 Oktober 2022 mencapai USD 101,81/barel, atau meningkat 43,69% dibandingkan harga rata-rata tahun 2021.

Beberapa faktor yang dapat menekan harga minyak lebih rendah dari perkiraan sebelumnya antara lain adalah ekspektasi resesi ekonomi global yang akan terjadi;  penurunan tensi perang Rusia-Ukraina; penambahan SPR sebesar 15 juta barel oleh Amerika Serikat juga dapat menahan peningkatan harga minyak global akibat pemotongan produksi minyak oleh OPEC+.  

Sebagai informasi, Amerika Serikat telah mengalokasikan SPR (strategic petroleum reserve) sebesar 180 juta barel pasca Invasi Rusia ke Ukraina. Sementara itu, beberapa faktor yang dapat mendorong harga naik adalah larangan impor minyak Rusia oleh Uni Eropa yang akan berlaku sejak Desember 2022 dan pemotongan target produksi OPEC+.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalisrikan

PLN Targetkan Kapasitas Pembangkit Listrik EBT Capai 28,9 GW Pada 2030, PT PLN (Persero) mengumumkan kapasitas pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) akan terus meningkat. Ini sesuai dengan target PLN yang akan memiliki total kapasitas pembangkit listrik EBT mencapai 28,9 Gigawatt (GW) pada tahun 2030. Hingga September 2022 PLN telah mengoperasikan pembangkit EBT dengan total kapasitas 8,5 Gigawatt. Capaian ini dikejar guna mempercepat transisi energi di Tanah Air untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 serta memenuhi kebutuhan industri dan bisnis akan listrik hijau. Untuk mencapai target tersebut, sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 – 2030, PLN akan menambah kapasitas pembangkit EBT sebesar 20,9 GW.

Hingga saat ini porsi pengembangan EBT telah mencapai 51,6 persen pada RUPTL hijau. Ini membuktikan komitmen PLN dalam menjalankan transisi energi demi kehidupan bumi yang lebih baik. Adapun nantinya, pengembangan EBT sebesar 20,9 GW ke depan akan didominasi oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Total penambahan kapasitas PLTA yang terpasang bisa mencapai 10,4 GW. Selain itu, pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) juga akan digenjot dengan total penambahan kapasitas terpasang 4,7 GW hingga tahun 2030. Bahkan, Indonesia juga punya potensi panas bumi yang bisa dikembangkan. Rencananya, hingga 2030 mendatang total penambahan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 3,4 GW. PLN juga terus menggali potensi sumber daya lain seperti bayu, biomassa, biogas, sampah dan pembangkit EBT baseload dengan total penambahan kapasitas pengembangan bisa mencapai 2,5 GW.

Khusus untuk tahun ini, PLN telah berhasil menambah kapasitas EBT sebesar 159,35 megawatt (MW) yang berasal dari pembangkit listrik di 20 lokasi. Jumlah penambahan daya EBT naik drastis karena dari 11 lokasi pembangkit yang ditargetkan justru realisasinya mencapai 20 lokasi pembangkit. Dengan rincian 87,07 MW dihasilkan oleh PLTA, 69,38 MW dari PLTP dan 2,91 MW dari PLTS.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Kebijakan Larangan Ekspor Timah Dapat Diterbitkan Dalam Waktu Dekat. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Kementerian ESDM, Indonesia merupakan produsen timah nomor dua di dunia setelah China dengan cadangan sebanyak 800 ribu ton atau setara dengan 17% dari total cadangan timah dunia yang tercatat 4.741 ribu ton. Produsen timah terbesar di Indonesia ialah PT Timah dengan kapasitas produksi sekitar 30.000 ton per tahun.

Sejak tahun 2019, PT Timah membangun smelter berupa Top Submerged Lance atau TSL Ausmelt Furnace yang dikonstruksi oleh PT Wijaya Karya, Tbk dan Outotec Pty Ltd dan ditargetkan selesai pada November 2022. Pembangunan smelter baru oleh PT Timah mencerminkan keseriusan pemerintah terkait hilirisasi timah. TSL Ausmelt Furnace dapat mengolah bijih timah dengan kadar 40% dengan tingkat efisiensi produksi 24% – 34% karena memiliki proses peleburan yang lebih cepat.

Pemerintah telah menyatakan akan menyetop ekspor timah dan lebih mengembangkan hilirisasi dalam negeri yang akan memberikan dampak positif bagi pembangunan nasional. Sebenarnya kebijakan untuk menghentikan ekspor timah ini mendapat perlawanan dari banyak pihak. Namun pemerintah tidak gentar untuk terus menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan.

Penyetopan ekspor timah prinsipnya lebih cepat lebih baik. Namun dalam hal ini, pemerintah belum menetapkan detil waktu penyetopan ekspor timah akan dijalankan. Saat ini Pemerintah Indonesia masih melakukan perhitungan dan kajian yang mendalam soal rencana pelarangan ekspor timah dalam bentuk bahan baku. Salah satu indikator yang akan diperhatikan adalah kesiapan smelter timah di dalam negeri. Pemerintah menjamin tidak ada pihak yang akan dirugikan dari penghentian ekspor timah.