Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 27 Oktober 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Optimalisasi Pemanfaatan Gas Melalui Intervensi “Artificial”. Pemerintah terus mendorong pemanfaatan gas sebagai energi masa depan guna memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat. Permintaan dalam negeri terus ditingatkan melalui pembangunan infrastruktur dengan tetap mengupayakan pasar luar negeri yang masih potensial. Saat ini penggunaan gas di dalam negeri sudah mencapai 64 persen dari total produksi gas nasional.

Secara global harga gas di Eropa dan Asia menjadi sangat fluktuatif. Rekor harga gas alam tertinggi EUR319,98/Mwh sempat dicapai pada Agustus 2022. Rendahnya investasi di sektor hulu sejak 2015 menjadi penyebab terjadinya ketidakseimbangan pasokan dan permintaan saat ini yang akhirnya mengakibatkan kenaikan harga gas alam yang cukup tinggi. Ketidak simbangan tersebut, ditambah dengan ketegangan geopolitik yang terjadi di Eropa memperburuk ketidakseimbangan yang sudah terjadi. Keseimbangan pasar perlahan mulai akan membaik pada 2025 setelah sebagian proyek baru yang sekarang sedang dibangun akan mulai beroperasi.

Saat ini sejumlah pihak menyoroti adanya  “intervensi” buatan di pasar gas global. Jika selama ini pasar komoditas merupakan fungsi dari aliran fisik, transaksi, dan investasi, kini mengalami intervensi buatan harga yang didorong oleh politik. Intervensi seperti itu dianggap sebagai penghambat investasi dan hanya akan memperburuk kondisi pasar serta merugikan produsen dan konsumen. Kondisi ini terjadi di Eropa ketika Komisi Eropa bersama negara-negara anggotanya menyiapkan langkah-langkah intervensi pasar gas potensial termasuk mekanisme pembatasan harga gas dan penetapan harga yang dinamis.

Intervensi buatan yang akan dilakukan Eropa saat ini dilakukan oleh Indonesia melalui penerapan harga gas bumi industri tertentu. Penerapan kebijakan tersebut dilakukan untuk mendorong multiplier effect dari kegiatan ekonomi khususnya yang dilakukan oleh sektor industri. Kementerian Perindustrian menilai kebijakan harga gas industri tertentu sebesar US$6 per MMBTU memberikan multiplier effect yang luas. Dari hasil monitoring yang dilakukan, dengan asumsi pendapatan negara yang hilang adalah US$3 per MMBTU, biaya fiskal yang ditanggung mencapai sekitar Rp15 triliun. Sehingga manfaat bersih yang diterima negara dari sektor industri mencapai Rp7,9 triliun, yaitu adanya kenaikan dari sisi utilisasi industri dari sebelumnya 4% menjadi 7,3%

Meskipun demikian, kebijakan tersebut diminta untuk ditinjau ulang dengan mempertimbangkan keekonomian dari masing-masing lapangan. Selain itu skema kebijakan harga yang diberlakukan diharapkan dapat memberi tolak ukur harga yang adil terhadap pengembangan rantai pasok industri hulu hingga hilir gas bumi dan tidak mempengaruhi minat investasi industri hulu migas di Indonesia. Pemerintah pada dasarnya telah menjamin bahwa penyesuaian harga jual gas yang diambil dari kontrak tidak mengakibatkan  penerimaan kontraktor berkurang. Harga jual beli tetap ditentukan berdasarkan kesepakatan antara investor hulu dengan pembeli sebelum disalurkan pada industri pengguna.  Pemerintah yang kemudian akan menjamin untuk menutup selisih harga yang terjadi.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Capai Target Bauran EBT di 2025, RI Butuh 10 Juta Ton Biomassa per Tahun , KESDM mengungkapkan Indonesia membutuhkan 10 juta ton sampah biomassa per tahun untuk co-firing demi mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) 23% di 2025. Sebagai informasi, teknologi co-firing akan memanfaatkan biomassa sebagai substitusi parsial batubara untuk dibakar di boiler pembangkit listrik. Biomassa ini dapat diperoleh dari beragam bahan baku, seperti limbah hutan, perkebunan, atau pertanian. Pemanfaatan limbah biomassa dapat mengurangi emisi metana yang disebabkan oleh degradasi limbah biomassa itu sendiri.

Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana menyampaikan realisasi bauran EBT sudah mencapai 12%-13% dari target bauran EBT 23% di 2025. Artinya, masih ada sekitar hampir separuhnya yang harus dikejar dalam waktu kurang dari tiga tahun ini. PLN sudah bergerak ke arah sana dan sudah ada 35 unit PLTU yang menggunakan biomassa.

Pemanfaatan biomassa akan terus meningkat. Untuk mencapai target bauran EBT hingga 23% di 2025, Indonesia memerlukan 10 juta ton sampah biomassa per tahun di mana sumbernya sudah tersedia saat ini. Jika dari limbah bahan pertanian berdasarkan hasil pemetaan Direktorat Jenderal EBTKE bahwa potensi limbah dari hutan sebesar 991.000 ton (eksisting), serbuk gergaji 2,4 juta ton, serpihan kayu 789.000 ton, cangkang sawit 12,8 juta ton, sekam padi 10 juta ton, tandan buah kosong 47,1 juta ton, dan sampah rumah tangga 68,5 juta ton. Namun dari sisi harga, untuk harga listrik yang dihasilkan dari biomassa dan batubara tidak bisa dibandingkan setara (appel to apple) karena harga batubara dibatasi (cap). Maka itu harga listrik yang dihasilkan dari biomassa tentu akan lebih mahal dibandingkan dengan PLTU.


Selain mengembangkan biomassa, Kementerian ESDM juga mendorong pengembangan biodiesel dan biofuel. Indonesia merupakan satu-satunya negara yang menggunakan B30 secara nasional dan seluruh sektornya menggunakan sawit secara berkelanjutan. Kalau Brazil unggul dengan pengembangan bioethanolnya, Indonesia boleh membusungkan dada sebagai negara yang sangat maju dalam memanfaatkan biodiesel. Sebagaimana diketahui, PT PLN (Persero) berhasil melakukan uji coba penggunaan 75%  biomassa kepingan kayu alias woodchips untuk bahan bakar pengganti batubara (cofiring) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Bolok di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat ini PLTU Bolok sudah berhasil melakukan cofiring hingga 75% biomassa. PLN akan terus uji dan evaluasi agar bisa mencapai 100% biomassa seperti PLTU Tembilahan.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara Dan Umum

Harga Batubara Global Turun dan Penyebabnya, Harga batubara di pasar ICE Newcastle pada Selasa (25/10) turun 1,38% dibandingkan perdagangan pekan Jumat (21/10) menjadi US$ 386,05/ton. China selaku importir batubara terbesar meningkatkan impor batubara dari Australia. Impor batubara China pada September 2022 mencapai 33,05 juta ton atau naik 12,2% dibandingkan pada Agustus 2022 yang tercatat 29,46 juta ton.

China mengubah kebijakan pasokan batubara untuk pembangkit listrik menjadi 20 hari. Selain dengan menggenjot impor, China juga sedang berupaya menaikkan produksi batubara domestik hingga 390 juta ton pada bulan September dengan menaikkan target produksinya sebesar 12,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagai konsumen terbesar batubara dunia, besaran konsumsi batubara China berpotensi menentukan harga batubara global. Kebijakan China untuk meningkatkan produksi batubara domestik secara tidak langsung menyebabkan menurunnya permintaan China akan batubara global. Naiknya tarif kargo dan meningkatnya kurs Dollar Amerika menjadi penyebab keinginan China untuk mengimpor batubara melandai kedepannya.