Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 31 Oktober 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Cadangan Devisa Arab Saudi Meroket menjadi 1,69 triliun riyal atau setara Rp 6.881 triliun mengacu kurs jual Bank Indonesia pada akhir September 2022. Ini merupakan yang tertinggi dalam dua tahun terakhir, ditopang harga minyak mentah dunia yang melambung sehingga meningkatkan pendapatan negara pengekspor terbesar minyak tersebut.  Cadangan devisa ini naik 36,8 miliar riyal dibandingkan bulan sebelumnya (Bloomberg) dan menurut bank sentral, kenaikan ini adalah yang terbesar sejak Juni 2022.

Arab Saudi telah berkomitmen untuk membangun kembali cadangan devisa yang sempat anjlok karena penurunan harga minyak. Kerajaan juga telah mengubah cara mengelola kekayaannya dengan meletakkan dasar dan batas atas cadangan sebagai bagian dari output perekonomiannya.

Harga minyak yang tinggi diiringi volume produksi yang besar membuat ekonomi Arab Saudi menjadi yang paling cepat berkembang di kelompok G20. Negara ini juga berada di jalur untuk menjalankan surplus anggaran untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade tahun ini.

Menteri Keuangan Mohammed Al-Jadaa pada bulan lalu mengatakan, Arab Saudi akan menggunakan surplus anggaran untuk mengisi cadangan, melakukan transfer tambahan ke dana kekayaan negara, dan berpotensi meningkatkan pengeluaran untuk proyek-proyek yang  untuk membantu mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungan pada penjualan minyak mentah.

Arab Saudi masuk dalam daftar 10 negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia. Berikut daftarnya:

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Beban Bahan Bakar Pembangkit PLN Meningkat di Kuartal III-2022, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencatatkan kenaikan beban usaha pada kuartal III 2022.Merujuk laporan keuangan PLN, beban usaha PLN pada kuartal III 2022 mencapai Rp 276,95 triliun atau meningkat 16,68% secara tahunan, dibanding beban usaha PLN pada kuartal III 2021 sebesar Rp 237,36 triliun. Kenaikan signifikan terjadi untuk beban bahan bakar dan pelumas yang sebelumnya sebesar Rp 86,14 triliun menjadi Rp 108,22 triliun. Kemudian beban pembelian tenaga listrik dari sebelumnya Rp 76,86 triliun menjadi Rp 94,22 triliun.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengungkapkan kenaikan pada beban bahan bakar terjadi karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan meningkatnya harga batubara PLN meskipun harganya telah dipatok sebesar US$ 70 per ton. Dengan kondisi tersebut, kebutuhan batubara PLN akan mengalami peningkatan dan bakal menambah beban bahan bakar ke depannya. Selain itu, kenaikan juga terjadi untuk beban pembelian tenaga listrik. Sepertinya ini disebabkan oleh adanya pembelian listrik swasta yang tidak semuanya terserap.

Dalam kontrak jual beli listrik dengan Independent Power Producer (IPP) PLN dikenakan kewajiban Take or Pay (TOP).Jika dirinci, secara umum kenaikan beban bahan bakar dan pelumas terjadi hampir untuk semua komponen. Kenaikan paling signifikan terjadi untuk high speed diesel dan batubara. Bahan bakar minyak high speed diesel PLN meningkat menjadi sebesar Rp 25,40 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 14,12 triliun. Sementara itu, beban bahan bakar batubara yang sebelumnya sebesar Rp 37,11 triliun meningkat menjadi Rp 46,74 triliun.

Merujuk Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, konsumsi batubara untuk sektor kelistrikan memang akan terus meningkat. Kebutuhan batubara pada 2021 ditetapkan sebesar 111 juta ton, kemudian meningkat menjadi 115 juta ton pada 2022. Selanjutnya, kebutuhan batubara sektor kelistrikan pada 2023 meningkat menjadi 122 juta ton dan kembali meningkat menjadi 131 juta ton pada 2024 mendatang.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara Dan Umum

Pemerintah Memperkuat dan Meningkatkan Efisiensi Transformasi Ekonomi Nasional Melalui Digitalisasi di Berbagai sektor. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyatakan hal itu dilakukan Pemerintah dengan merilis E-Catalog dan diprioritaskan untuk membeli produk lokal yang dihasilkan oleh UKM dan meningkatkan efisiensi pelabuhan melalui integrasi pelabuhan dan implementasi Ekosistem Logistik Nasional serta investasi di pusat data dan kabel bawah laut untuk mendukung ekonomi digital.

Digitalisasi ini akan menurunkan biaya untuk produksi serta mencegah terjadinya korupsi. Justru akan meningkatkan pendapatan negara dan industri serta UKM lokal. Program pemerintah lainnya seperti pengadaan e-gov, dana desa, dan digitalisasi sistem pemerintahan akan meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan. Ekonomi Indonesia akan bertahan terhadap ketidakpastian ekonomi global dengan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Indonesia tengah menuju transformasi ekonomi dengan tidak lagi mengandalkan komoditas mentah.

Ketidakpastian situasi geopolitik dan tren penurunan harga komoditas utama Indonesia baru-baru ini menjadi tantangan utama bagi perekonomian kita tahun depan. Namun, kebijakan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam telah memberikan kontribusi untuk meningkatkan ketahanan ekonomi kita terhadap ketidakpastian ekonomi global tahun ini. Melalui berbagai reformasi investasi yang memberikan insentif baik fiskal dan nonfiskal, Indonesia berhasil menarik lebih dari USD 100 miliar Foreign Direct Investment (FDI) selama 5 tahun terakhir, termasuk investasi utama pada industri nilai tambah berbasis nikel seperti besi dan baja serta baterai lithium.

Indonesia telah berhasil menarik investasi utama untuk baterai Electric Vehicle (EV), seperti CATL dan LG Energy Solution, dua produsen Li-Battery terbesar di dunia. Selain itu, pemain material baterai utama seperti CNGR, BTR, Huayou, BASF, dan GEM telah berinvestasi di Indonesia. Hal ini akan menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasokan global untuk transisi energi. Melalui hilirisasi nikel menjadi baterai lithium dan Indonesia memiliki cadangan logam utama yang signifikan. Investasi dalam proyek terkait material baterai ini diperkirakan mencapai lebih dari US$19 Miliar. Industri Hilir akan terus berlanjut dan dikembangkan di Kawasan Industri di Kalimantan Utara di mana akan menjadi Industri Petrokimia terbesar.