Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 3 November 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Efisiensi dan Substitusi Senjata Utama Untuk Mengatasi Ketergantungan Import.  Dampak efisiensi terhadap pengurangan ketergantungan import gas Eropa terlihat signifikan. Peningkatan efisiensi energi di Eropa sudah dilakukan sejak tahun 2000 di Jerman dan Inggris menjadi faktor utama di balik penggunaan gas yang rendah dan akhirnya berdampak terhadap berkurangnya kebutuhan impor. Antara tahun 2000 dan 2015, permintaan gas secara keseluruhan turun sebesar 11 persen di Jerman dan 29 persen di Inggris.

Pelaksanaan efisiensi energi di kedua negara tersebut sebagian besar berasal dari sektor perumahan, terutama dalam pemanas ruangan. Antara tahun 2000 dan 2015, jumlah gas yang dibutuhkan untuk pemanas ruangan per unit lantai turun 44 persen di Jerman, menghemat 11,5 miliar meter kubik gas, dan menghemat 28 persen  atau setara 7,5 bcm di Inggris. Untuk meningkatkan pengurangan impor, Inggris juga mengoptimalkan sumber daya lokal yntuk memenuhi lebih dari 50 persen kebutuhan gas domestik,

Negara lain yang memiliki pengalaman penting dalam mengurangi ketergantungan adalah jepang. Penghematan impor energi Jepang dari peningkatan efisiensi adalah yang terbesar. Pengetatan kebijakan standar efisiensi bahan bakar untu kendaraan penumpang dan kendaraan tugas berat membantu penurunan impor minyak Jepang lebih dari 20 persen pada tahun 2016 dan hampir tiga kali lebih besar dari penghematan minyak di Jerman.

Selain mengurangi ketergantungan impor, kegiatan efisiensi energi yang dilakukan oleh negara negara Eropa juga memberikan manfaat ekonomi dari penurunan biaya impor minyak yang bernilai lebih dari US$30 miliar. Hal ini termasuk perbaikan neraca pembayaran dan peningkatan daya saing.

Energi efisiensi dapat meningkatkan ketahanan energi regional atau nasional karena mengurangi ketergantungan pada sumber energi dari luar negara. Adanya efisiensi juga dapat mengurangi kemungkinan gangguan pasokan. Sebagaimana yang terjadi di Jepang, langkah-langkah efisiensi dapat menjadi langkah konservasi darurat untuk mengurangi permintaan akibat gangguan pasokan yang disebabkan oleh Gempa. Untuk memperbaiki kekurangan pasokan dan mengkompensasi hilangnya kapasitas nuklir Jepang, selain meningkatkan penggunaan sumber sumber energi lain, Pemerintah Jepang juga menerapkan langkah langkah penghematan energi. Strategi tersebut berhasil menghindari pemadaman listrik selama puncak permintaan musim panas pada tahun 2011 dan 2012.

Indonesia saat ini mengalami ketergantungan   yang cukup tinggi   terhadap BBM dan LPG. Dari data realiasi bulanan dapat diketahui rasio impor terhadap penyediaan dan kebutuhan untuk masing masing komoditas. Diantara komoditas yang ada, LPG memiliki rasio impor yang paling tinggi baik terhadap kebutuhan dan penyediaan. Volume impor LPG mencapai lebih dari 70 persen terhadap kebutuhan dan penyediaan. Untuk mengurangi ketergantungan impor LPG, ada beberapa program yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam jangka pendek di luar program efisiensi energi yaitu melalui program subsititusi LPG dengan sumber energi lainnya diantaranya melalui pemanfaatan briket, jaringan gas alam, dan kompor induksi.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

 Uji Jalan Tuntas, Siap-Siap RI Segera Luncurkan Biodiesel B40, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan uji jalan (road test) penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel dengan campuran 40% atau disebut B40 pada kendaraan bermesin diesel. Hasilnya, pemerintah akan segera mengeluarkan rekomendasi teknis kebijakan agar B40 bisa segera diimplementasikan.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, pemberlakuan B40 ini merupakan salah satu upaya strategis negara untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM), sekaligus mengimplementasikan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) dan dari hasil uji jalan yang telah dilakukan, performa B40 bisa merespons kebutuhan energi kendaraan. Selain itu, penurunan emisi karbon bisa tercapai dengan pemanfaatan bioenergi yang tinggi melalui B40 ini. Sampai sekarang, hasil dari uji coba B40 menunjukkan bahwa mobil dapat beroperasi dengan normal dan mulus seperti menggunakan bahan bakar Solar biasa. Hal ini terbukti tidak terjadi mobil mogok dan juga tidak terjadi blocking di filter bagian utama hal ini berbeda dengan test sebelumnya.

Penggunaan B40 ini bisa mengurangi ketergantungan RI pada impor. Terlebih, separuh dari kebutuhan BBM RI kini dipasok melalui impor. Oleh karena itu,  penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya energi yang ada di Tanah Air, terutama energi baru terbarukan. Ujungnya, ini bisa meningkatkan ketahanan energi bangsa ini.

Saat ini ekosistem dunia persawitan sudah berjalan untuk mengatasi ketergantungan terhadap energi fosil dan Indonesia memiliki kemampuan dengan luas lahan yang tersedia. Adapun, saat ini pemerintah juga akan memastikan ketersediaan infrastruktur dari Pertamina dan badan usaha lainnya terkait fasilitas blendingnya dan pemerintah akan terus mendorong pemanfaatan sumber-sumber energi yang ada di Indonesia. Terlebih lagi saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia untuk mengembangkan energi baru terbarukan untuk mencukupi kebutuhan BBM dalam negeri yang selama ini dipenuhi melalui impor bbm.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

PT Timah Tbk (TINS) melakukan tranformasi teknologi pengolahan timah kadar rendah dengan membangun Top Submerge Lance (TSL) Ausmelt Furnace di Kawasan Unit Metalurgi Muntok, Kabupaten Bangka Barat yang akan mulai commisioning pada akhir November 2022. Sekretaris Perusahaan TINS menyatakan, dengan beroperasinya Ausmelt dapat menekan cost pengolahan sebesar 25% dibandingkan dengan menggunakan Reverberatory furnace. Tujuan transformasi teknologi pengolahan ini untuk optimalisasi teknologi, peningkatan kapasitas, efisiensi produksi dan keselamatan serta kesehatan lingkungan.

TINS juga menggandeng Outotec australia yang berpusat di Finlandia sebagai provider teknologi TSL Ausmelt Furnace. Kemudian, pembangunan TSL Ausmelt Furnace sendiri adalah strategi untuk menjawab tantangan yang dihadapi industri pertambangan timah saat ini. Dimana ketersediaan biji timah dengan kadar tinggi atau di atas 70% Sn sudah terbatas.

Teknologi peleburan timah yang dimiliki Timah saat ini, Tanur Reverberatory tidak mempunyai fleksibilitas mengolah konsentrat bijih Timah kadar rendah (< 70% Sn). Selain itu, membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk melebur timah dan terak. Tanur Reverberatory menggunakan bahan bakar minyak (marine fuel oil) dengan reduktor batu bara jenis antrasit yang lebih banyak dan membutuhkan biaya yang relatif besar. Untuk mampu bersaing dengan industri pertambangan timah dunia, Timah harus menekan cost produksi sehingga penggunaan teknologi menjadi hal yang harus dilakukan untuk menjawab tantangan ke depan.

Dengan TSL Ausmelt Furnace, diharapkan mampu mengolah konsentrat bijih timah dengan kadar rendah mulai dari 40% Sn, dengan kapasitas produksi 40.000 ton crude tin per tahun atau 35.000 metrik ton ingot per tahun. Selain itu, dari sisi pengoperasian TSL Ausmelt Furnace dilakukan dengan proses otomasi dengan sistem kontrol.

Untuk bahan bakar dan reduktor, TSL Ausmelt menggunakan batu bara jenis Sub-Bituminus yang cenderung lebih mudah didapatkan di Indonesia. Waktu pengolahan juga lebih singkat, untuk satu batch pengolahan hanya membutuhkan waktu sekitar 10,5 jam. Sedangkan pada Reverberatory membutuhkan waktu 24 jam per batch. Selain itu, di tengah gencarnya isu lingkungan yang menyoroti perusahaan pertambangan, TSL Ausmelt lebih safety dan menerapkan teknologi ramah lingkungan karena dilengkapi dengan Hygien Sistem dan Waste Water Treatment.