Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 7 November 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Outlook Produksi Migas Tahun 2022. Outlook produksi minyak dan gas sampai dengan akhir tahun ini diperkirakan akan lebih rendah dibanding dengan target produksi yang dipatok awal tahun ini. SKK Miga menyampaikan outlook produksi minyak pada tahun 2022 di kisaran 626 ribu barel per hari. Sedangkan target produksi minyak yang ditetapkan dipatok 700 ribu barel per hari.

Sementara outlook produksi gas juga diprediksi turun dari target awal 6.000 MMSCFD pada tahun ini menjadi 5527 MMSCFD sampai dengan akhir Desember 2022. Tidak tercapainya target produksi migas tahun ini disebabkan karena produksi sampai dengan akhir tahun  sudah terlanjur rendah.

Turunnya outlook produksi dilaporkan disebabkan karena adanya unplanned shutdown pada beberapa lapangan, selain adanya delay pada kegiatan pemboran dan onstream di fasilitas produksi. Kejadian pertama adalah adanya kebocoran pipa dan plugging sepanjang Juli dan Agustus 2022 di PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatera menyebabkan adanya kehilangan produksi pada lapangan tersebut sekitar 30 ribu bopd. Kebocoran lainnya juga terjadi pada ExxonMobil Cepu Limited pada selang pembongkaran yang menyebabkan potensi produksi minyak hilang sekitar 30 ribu bopd pada September 2022.  Selain itu PT Pertamina  EP dan Train 2 Tangguh-BP juga mengalami penghentian operasi di lapangan yang dimilikinya sehingga menyebabkan adanya kehilangan produksi sekitar 300 MMSCFD sepanjang Agustus hingga September 2022.

Sementara itu OPEC dalam laporan bulanannya memperkirakan permintaan minyak dunia akan meningkat 3,1 juga barel per hari  diatas angka proyeksi yang dilakukan oleh IEA yaitu 2,1 juta barel per hari.  Penguatan faktor fundamental  yang terjadi melanjutkan recovery yang sudah berlangsung setelah adanya COVID 19. OPEC menurunkan pertumbuhan ekonomi pada 2022 menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,5 persen dan  pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi 3,1 persen.

OPEC secara kolektif bersama Rusia berusahameningkatkan produksi minyaknya setelah pemotongan yang terjadi pada masa pandemic. Namun dalam beberapa bulan terakhir mengalami kesulitan untuk mencapai peningkatan produksi yang direncanakan karena kurangnya investasi di beberapa lapangan minyak. Pada Juli 2022, laporan produksi minyak OPEC memperlihatkan kenaikan 162 ribu barel per hari menjadi 28,84 juta barel per hari.

Pada 2023, OPEC memperkirakan permintaan minyak dunia mengalami kenaikan 2,7 juta barel per hari dimana 1,71 juta barel per hari tambahan produksinya diharapkan dapat dipenuhi dari negara negara  non anggota OPEC. OPEC diperkirakan hanya akan menambah produksinya sekitar 900 ribu barel per hari untuk menyeimbangkan pasar global.  Pasokan minyak AS diperkirakan akan meningkat sebesar 800 ribu barel per hari pada tahun 2023, naik dari 740 ribu barel per hari pada tahun 2022.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Pemerintah Akui Sulit Menaikan Tarif Listrik, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengakui pemerintah sulit menentukan apakah harus menaikkan tarif listrik PLN di tengah melonjaknya harga energi. Sebab, pemerintah juga perlu melindungi daya beli masyarakat dengan menekan inflasi. Inflasi Indonesia terdiri dari harga pangan, harga energi, inflasi inti, hingga harga yang diatur pemerintah atau administered price. Tarif listrik PLN termasuk pada harga yang diatur pemerintah. Salah satu kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM juga turut berkontribusi terhadap inflasi di Tanah Air. Sehingga pemerintah sulit memutuskan kebijakan apakah tarif listrik dinaikkan atau tidak. Pillihannya tidak selalu mudah bagi pemerintahan di seluruh dunia, antara memproteksi daya beli masyarakat, namun di sisi lain tekanan dari harga-harga yang berjalan sangat ekstrem di dunia menimbulkan pilihan-pilihan kebijakan yang tidak mudah.

Di tengah situasi sulit mengambil kebijakan, semua pihak harus bersinergi, mulai dari Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal, hingga pemangku kebijakan di sektor riil karena kebijakan yang tak sinkron dan menimbulkan dampak yang luar biasa itu seperti di Inggris, terjadi ketidaksinkronan antara kebijakan fiskal-moneter menyebabkan gejolak market yang luar biasa. Sehingga Menteri Keuangannya kemudian turun, Perdana Menteri harus resign dan terjadi kepemimpinan nasional, selain (karena) gejolak market yang sudah menimbulkan kerusakan di dalam kredibiltias dan kepercayaan.

Sebelumnya, PLN memastikan hingga Desember 2022 tidak ada kenaikan tarif listrik. Hal itu sesuai keputusan pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga daya beli masyarakat, daya saing sektor industri dan bisnis, mengendalikan inflasi, serta memperkuat stabilitas perekonomian nasional. Pemerintah juga berkomitmen tetap memberikan subsidi listrik kepada pelanggan rumah tangga 450-900 VA. Begitu pula pelanggan nonsubsidi tidak mengalami kenaikan tarif pada periode ini dan tetap mendapatkan kompensasi.

III. Sektor Geologi, Mineral , Batubara, Dan Umum

Target Nol Emisi Karbon 2060 dari Industri Nikel, Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar dengan kontribusi sebesar 52% dari produksi nikel dunia. Nikel memiliki prospek yang sangat bagus dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan nikel tidak hanya bisa dijadikan bahan baku baterai kendaraan listrik namun juga bisa dijadikan produk – produk yang bernilai ekonomi tinggi yang dapat meningkatkan devisa negara.

Menurut Pengamat Ekonomi dan Energi Universitas Gajah Mada, ada 3 hal yang sebaiknya dilakukan pemerintah agar kedepannya industri nikel makin bersinar yaitu:

  1. Pemerintah perlu menciptakan serta menjaga ekosistem nikel yaitu dengan selalu menjaga pemenuhan produksi nikel sesuai dengan kapasitas industri pengolahan nikel yang telah ada.
  2. Berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait untuk melakukan inovasi produk turunan nikel dengan berfokus pada riset dan pengembangan.
  3. Transfer teknologi.

Jika ekosistem nikel terbentuk, harga mobil listrik yang ramah lingkungan akan jauh lebih murah daripada saat ini. Kehadiran nikel serta produk turunannya yang lebih ramah lingkungan turut berkontribusi pada misi pemerintah yang menginginkan nol emisi karbon atau net zero emission (NZE) pada 2060 mendatang.

Sementara itu, dari sisi produsen nikel (tambang) mematok target pengurangan emisi karbon sebesar 28% pada 2030 mendatang, bahkan upaya pengurangan emisi karbon telah dilakukan sejak 2020 lalu. Langkah yang telah dilakukan oleh produsen nikel untuk mengurangi emisi karbon digolongkan dalam 3 prinsip utama, yaitu:

  1. Mewujudkan prinsjp pengurangan/ pengontrolan gas buang dengan rutin melakukan pemeliharaan/ maintenance peralatan tambang dan juga kendaraan yang digunakan.
  2.  Mewujudkan prinsip penggunaan energi terbarukan di area living quarter atau mess untuk lampu penerangan di sekitar jalan kantor dan tempat tinggal karyawan Sebagian sudah menggunakan solar panel.
  3. Berkomitmen tinggi terhadap kegiatan reklamasi khususnya pada kegiatan penanaman dan pemeliharaan tanaman reklamasi. Melalui komitmen ini, diharapkan gas buang yang ada mampu diserap oleh tanaman yang ditanam dan dipelihara.