Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 1 Desember 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Peran Nuklir dalam Keamanan Energi, Dekarbonisasi Jaringan, potensi tenaga nuklir untuk menopang pasokan energi dan memuluskan transisi ke energi terbarukan membuat pemerintah dan perusahaan mempertimbangkan kembali perpindahan mereka dari sumber tenaga bebas karbon.

Menyusul bencana Fukushima 2011, Jepang menutup pembangkit nuklirnya dan Jerman memutuskan untuk menghentikan sumber listriknya. Di pasar lain, melimpahnya energi yang lebih murah dari energi terbarukan dan gas alam menurunkan motivasi untuk mengganti atau menambah infrastruktur nuklir yang sudah tua. Mengingat umur fasilitas nuklir yang terbatas, negara-negara cenderung bergerak menuju masa depan yang bebas dari energi nuklir. Namun, akibat dari konflik geopolitik dan perubahan iklim telah mengubah perhitungan untuk penutupan pabrik.

Di Eropa, pemerintah telah menunda penutupan fasilitas nuklir karena mereka berebut untuk menutupi kekurangan energi akibat invasi Rusia ke Ukraina. Tiga pabrik di Jerman, yang direncanakan ditutup pada 2022, akan tetap beroperasi hingga 2023, menurut S&P Global Market Intelligence. Sementara itu, pemerintah Belgia tetap menjaga dua reaktor tetap beroperasi selama 10 tahun, melewati tanggal penutupan yang diharapkan.

Di AS, waktu tunggu yang cukup lama untuk membangun dan menyambungkan energi EBT mendorong regulator dan utilitas untuk memperpanjang umur pembangkit yang dijadwalkan untuk dinonaktifkan. 

Kapasitas dari pembangkit nuklir yang tetap beroperasi juga dapat membantu dekarbonisasi sektor di luar jaringan listrik. Pabrik nuklir di AS sedang menjajaki kelayakan ekonomi menggunakan elektrolisis untuk menghasilkan hidrogen bersih, dan ini diharapkan dapat menggerakkan industri dan transportasi. “Hidrogen hijau” bebas karbon ini juga dapat digunakan sebagai penyimpan energi, memungkinkan perusahaan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh produksi EBT secara berkala seperti angin dan matahari. 

Sebagai tanggapan atas prospek nuklir yang membaik, harga uranium pun meningkat. Diperkirakan bahwa peningkatan permintaan dapat mendorong harga bahan bakar naik 25% pada tahun 2030. Namun demikian, para penambang uranium menunda investasi untuk memperluas produksinya.

Sementara kondisi saat ini sudah mendukung untuk kebangkitan nuklir, pemerintah atau utilitas yang ingin membangun kapasitas perlu mempertimbangkan kembali terkait pembiayaan pembangunan pabrik baru. misalnya, pembangunan Pabrik Nuklir Hinkley Point C Inggris, yang dimulai pada 2017, sudah terlambat dua tahun dari jadwal, dan biaya telah membengkak 50% menjadi £22 miliar. Di AS, ekspansi pembangkit nuklir Alvin W. Vogtle juga menghadapi penundaan dan pembengkakan anggaran. dengan demikian, dimungkinkan masa depan industri terletak pada reaktor modular kecil, yang dapat memberikan sebagian besar manfaat reaktor skala besar tanpa risiko proyek konstruksi besar-besaran.

Lebih dari satu dekade setelah bencana Fukushima, Jepang dengan hati-hati memulai kembali operasi nuklir yang mangkrak. Operasi nuklir ini menyumbang 10% dari kapasitas pembangkit Jepang per Mei 2022. Sementara masa depan nuklir masih belum pasti, kemampuan energi nuklir ini untuk peningkatan keamanan pasokan energi dan kemudahan untuk transisi ke energi terbarukan, dapat dipastikan akan menjadi bagian dari bauran energi dalam waktu dekat.

II.Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Mendorong Implementasi RUU Energi Hijau, EBT merupakan energi bersih dan diyakini sebagai bagian energi masa depan. Indonesia menjadi salah satu negara yang digadang-gadang dapat berkontribusi maksimal untuk pemanfaatan energi hijau tersebut.

Pemerintah sendiri dalam peta jalan NZE 2060 berencana untuk menambah pembangkit listrik EBT hingga 700 GW. Penambahan tersebut berasal dari solar, hydro, biomassa, bayu, panas bumi dan hydrogen. Pengembangan EBT ini akan difokuskan ke tiga sektor utama yakni transportasi, industri, rumah tangga dan komersial.

Di sektor transportasi, pemerintah mengupayakan beberapa hal antara llain optimalisasi pemanfaatan bahan bakar nabati, penetrasi kendaraan listrik, penggunaaan hydrogen untuk truk, bahan bakar ramah lingkungan untuk penerbangan, dan bahan bakar rendah karbon untuk pengiriman. Dari sektor industri di didorong pemanfaatan hydrogen sebagai subtitusi gas, subtitusi biomassa, penyebaran CCUS untuk mengurangi emisi CO2. Sementara itu, dari sektor rumah dan komersial, pemerintah mengakselarasi penggunaan kompor induksi, pemanfaatan gas kota dan progam efisiensi energi. Adapun perwujudan transisi energi hijau dalam jangka 10 tahun ke depan, pemerintah bakal memasang 22 GW daya listrik yang bersumber dari EBT pada sistem kelistrikan nasional,

Kendati potensi dan peta jalan pengembangan energi hijau nasional di depan mata, tetapi landasan hukum berupa RUU EBT masih menghadapi tantangan. Pemerintah dan DPR belum menyepakati sejumlah beleid dalam RUU tersebut. Padahal, RUU EBET masih harus menghadapi tantangan berat setelah pemerintah menyatakan tidak sepakat tehadap sejumalah substansi terkait dengan peta jalan, serta energi baru dan sumber energi baru yang diatur dalam beleid usulan DPR tersebut. Namun perbedaan pendapat atas subtansi menjadi hal yang wajar dalam menentukan landasan hokum yang terbaik dalam pengembangan energi hijau dan perbedaan subtansi itu diharapkan akan diselesaikan dalam waktu yang cepat oleh para pemangku kepentingan sehingga cita-cita untuk menerapkan energi hijau di Indonesia dapat bermanfaat sebesar-besarnya untuk untuk seluruh rakyat Indonesia.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Hasil Hilirisasi Tambang Mayoritas Diekspor. Pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas tambang di dalam negeri dengan membangun puluhan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter. Meski demikian mayoritas hasil olahan mineral sejauh ini ditujukan untuk pasar ekspor karena masih minimnya serapan domestik.

Sebagai contoh, hasil produksi timah batangan (ingot) dari dalam negeri sebanyak 5% diserap oleh pasar domestik. Sementara sisanya untuk ekspor. Salah satu alasan ekspor masih mendominasi karena kemampuan serap pasar dalam negeri yang memang masih mini. Produk-produk lainnya yang dimaksud adalah hasil pemurnian bijih nikel, yakni Feronikel dan Nickel Pig Iron. Nasib serupa juga dialami oleh hasil olahan bijiih bauksit, Chemical Grade Alumina (CGA) dan Smelter Grade Alumina (SGA) yang dijual ke Malaysia dan Cina.

Diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun industri lanjutan dari hasil produksi tersebut. Sebagai gambaran, industri chemical sebagai lanjutan dari timah ingot membutuhkan waktu dua tahun untuk konstruksi. Selanjutnya, butuh sekitar 8 tahun untuk menciptakan pasar.

Pemerintah saat ini sedang mengembangkan proyek 53 smelter yang terdiri dari 17 unit smelter terintegrasi dan 36 smelter stand alone. Smelter terintegrasi adalah smelter yang terhubung dari proses pertambangan mineral di hulu hingga ke hilir. Dari 17 proyek tersebut terdiri dari 2 smelter besi, 1 smelter tembaga, 7 smelter bauksit, dan 7 smelter nikel. Sejauh ini baru ada 5 unit smelter eksisting dan 12 unit sisanya masih dalam tahap proses konstruksi.

Sementera itu, 36 proyek smelter stand alone terdiri dari 23 smelter nikel, 4 smelter bauksit, 3 smelter tembaga, 2 smelter besi, 2 smelter timbal dan seng, serta 2 smelter mangan. Dari jumlah tersebut, 16 smelter telah beroperasi, dan sisanya masih dalam proses konstruksi. Smelter stand alone adalah smelter yang dimiliki oleh perusahaan yang harus membeli material pertambangan dari badan usaha lain di sekitar lokasi smelter karena tidak memiliki tambangnya sendiri. Perlu dilakukan pengintegrasian supply chain antara tambang dan smelter stand alone serta pengintegrasian industri pengguna bahan olahan mineral.