Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 8 Desember 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Pembatasan Harga Minyak Mentah Rusia di Level US$60 per Barel. Uni Eropa mencapai kesepakatan untuk menetapkan batas harga minyak mentah Rusia pada level US$60 per barel untuk negara-negara G7 dan Uni Eropa. Keputusan ini diperkirakan akan semakin mengguncang perdagangan minyak lintas laut global karena minyak mentah Rusia mendapatkan pembeli baru. Dalam kesepakatan tersebut diputuskan juga jika harga akan ditinjau secara regular untuk memastikan setidaknya 5% di bawah harga pasar rata-rata untuk minyak Rusia. Batas harga G7 bertepatan dengan embargo Uni Eropa atas impor minyak Rusia melalui laut dan mulai dilakukan pada 5 Desember.

G7 memperkirakan bahwa sekitar 95 persen armada kapal tanker minyak global ditanggung perusahaan asuransi pelayaran di negara-negara G7, yaitu Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS. Saat ini pemilik kapal yang berbasis di Uni Eropa dan beberapa negara G7 mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang besar dalam perdagangan minyak Rusia.   Data S&P Global  menunjukan   kapal kapal tersebut mengangkat 55% ekspor minyak mentah Rusia dari Laut Baltik dan Hitam pada bulan September.

Batas harga G7 yang diberlakukan untuk minyak mentah Rusia berdasarkan harga free-on-board, tidak termasuk biaya asuransi dan pengiriman.  Dalam lima tahun terakhir hingga 1 Desember, harga minyak mentah Ural yang dijual dengan basis FOB dari Pelabuhan Laut Baltik memiliki rata-rata US$62,29 per barel. Sebelum invasi Rusia ke Ukraina, harga Dated Brent rata-rata sekitar US$2,8 per barel tetapi melonjak ke rekor tertinggi lebih dari US$40 per barel pada musim panas dan baru bertahan sekitar US$33 per barel di bawah Dated Brent.

Minyak mentah Ural dinilai oleh Platts dengan harga US$55,79 per barel. Dengan batas harga Ural di atas harga     pasar, beberapa pihak berspekulasi bahwa ekspor Rusia akan  lebih besar dari sebelumnya namun berdampak kecil terhadap pendapatan Rusia. Ekspor minyak mentah dan produk minyak lintas laur Rusia sebagaian besar tetap tangguh dalam beberapa bulan terakhir meskipun ada sanksi dan batasan harga UE yang masuk karena Tiongkok, India, dan Turki sebagian besar mengambil minyak Rusia yang dipindahkan dari Eropa dan Amerika Serikat berdasarkan data pelacakan kapal tanker.

Ekspor minyak mentah Rusia naik menjadi 3,09 juta barel per hari pada Oktober. Menurut data dari S&P Global, ekspor minyak mentah Rusia naik 3 persen pada bulan Oktober, tepat di bawah rata-rata sebelum invasi Rusia sebesar 3,1 juta barel per hari. Ekspor produk Rusia turun 4,2 persen dalam sebulan menjadi 2,08 juta barel per hari di bulan Oktober.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Penetapan NZE Tahun 2060 di Indonesia Pertimbangkan Keragaman SDA,  Sekjen KESDM menyatakan penetapan NZE di Indonesia pada tahun 2060 atau lebih cepat diputuskan atas dasar keadaan dan keragaman sumber daya alam yang dimiliki tanah air. Pemerintah Indonesia saat ini telah merevisi tingkat NDCs dari 29 persen menjadi 32 persen pada tahun 2030 dengan menjanjikan penggunakan lahan yang lebih efektif dan meningkatkan kebijakan energi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.

Saat ini, kontribusi sektor energi disebut meneningkat dari 314 juta ton CO2 menjadi 358 juta ton CO2 dai total penurunan sebesar 32 persen. Untuk mencapai target NZE, diperlukan transformasi energi dari bahan bakar fosil menjadi energi bersih dengan mengacu Deklarasi G20 Leaders yang terdiri dari 52 komitmen. Dua poin dari komitmen tersebut memberikan dukungan untuk mempercepat dan memastikan transisi energi yang berkelanjutan, adil, terjangkau, dan dengan investasi yang inklusif. Kedua, menjadikan Bali Compact dan Peta Jalan Transisi Energi Bali sebagai panduan dalam menemukan solusi untuk mencapai stabilitas, transparansi dan keterjangkauan pasar energi.

Dalam G20 Leaders Summit, Indonesia turut memperoleh dukungan finansial daril lembaga intenasional dan negara besar untuk transisi energi. Pertma ialah dukungan pendanaan untuk mekanisme transisi energi sebesar 20 miliar dollar melalui JETP untuk membantu Indonesia meningkatkan pengugunaan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada batubara. Pendanaan lainnya dari Asian Zero Emmision Community (AZEC) sebesar 500 juta dollar AS untuk mengimplementasikan program transisi energi dan memperluas kemitraan public-swasta dan inisiatif dekarbonisasi.

Indonesia telah menyusun peta jalan transisi energi untuk menapai NZE pada tahun 2060 atau lebih cepat dengan mengembangkan 700 GWpembangkit enrgi terbarukan yang berasal dari matahari, angina, air, bio energi, laut, panas bumi serta nuklir. Pemerintah juga telah menetapkan strategi penghentian secara bertahap PLTU berdasarkan kontrak minimal 30 tahun.selain itu Indonesia berencana membangun super grid untuk menggenjot pengembangan energi terbarukan sekaligus menjaga stabilitas dan keamanan sistem kelistrikan. Dengan menghubungkan kepulauan Indonesia melalui Super Grid, maka akan memainkan peran penting dalam membuka peluang industri hijau dengan mencocokan potensi terbarukan dengan pusat permintaan industri.

Lebih lanjut, pemerintah hendak mendekarbonisasi sektor permintaan melalui beberapa strategi seperti pengurangan penggunaan batbara dengan beralih ke listrik, gas, dan hydrogen serta penerapan peralatan hemat energi di bidang industri. Kemudian di sektor transportasi pemerintah berupaya mengembangkan biofuel, seperti biodiesel B40 dan bioethanol, peningkatan pemanfaatan kendaraan listrik dan konversi motor BBM menjadi sepeda motor baterai listrik dan juga mendiversifikasi bahan bakar dengan hydrogen dan ammonia. Terakhir yaitu secara bertahap mengganti LPG dengan gas kota, kompor induksi, dimetil ether serta meningkatan penggunaan peralatan hemat energi di sektor rumah tangga dan komersial.

III.Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

MIND ID (Mining Industry Indonesia) Meminta Pemerintah Stop Impor Timah Solder dan Aluminium, MIND diamanatkan oleh Pemerintah RI untuk mengembangkan bisnis hilirisasi komoditas tambang dari beberapa perusahaan tambang pelat merah yaitu PT Freeport Indonesia, Inalum, Timah, Antam dan Bukit Asam. Mereka berperan penuh dalam hilirisasi produk tambang seperti emas, nikel, tembaga, batubara, bijih nikel, bijih timah serta bauksit untuk meberikan value added agar memperoleh nilai optimal.

Ada 5 strategi utama yang dilaksanakan MIND ID untuk mencapai tujuannya, yaitu:

  1. Produksi dengan mengoptimalkan eksplorasi dan pertumbuhan produksi pertambangan
  2. Menggunakan konsep smart mining dengan meningkatkan daya saing biaya dengan memaksimalkan platform digital.
  3. Implementasi teknologi terkini seperti artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Machine Learning serta big data yang bisa mengoptimalkan kegiatan sektor pertambangan.
  4. Mengoptimalkan Project Management Officer (PMO) yang bertujuan untuk meningkatkan peran MIND ID dalam memonitoring dan melakukan akselerasi proyek strategis berkualitas tinggi.
  5. Pembenahan portofolio melalui riset serta mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di sekitar wilayah kerja.

MIND ID membidik sektor kendaraan listrik karena produk hilirisasi nikel, aluminium, tembaga, timah dan lainnya menjadi backbone bahan baku produksi kendaraan listrik. MIND ID meminta Pemerintah Indonesia untuk menghentikan impor produk olahan dari timah seperti solder dan olahan bauksit seperti aluminium untuk mendorong penyerapan produk hilirisasi di dalam negeri.