Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 16 Maret 2023

Freeport Ajukan Perpanjangan Izin Ekspor

Izin PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk mengekspor konsentrat tembaga yang berakhir pada Maret nanti masih dalam tahapan evaluasi oleh Pemerintah , dimana izin ini diberikan untuk periode satu tahun dan dapat diperpanjang jika memenuhi syarat yaitu bila kemajuan pembangunan fasilitas pemurnian mineral (smelter) minimal mencapai 90% dari rencana kerja. Kemajuan smelter yang dibangun PTFi yaitu di Manyar, Gresik saat ini dengan kapasitas 1,7 juta ton konsentrate tembaga dengan investasi hingga USD$ 1,78 miliar yaitu telah mencapai 54,5% (melampaui rencana kerja yang ditetapkan 52,9%).

Dalam IUPK Freeport Indoensia disebutkan penyelesaian pembangunan smelter tembaga paling lambat 5 tahun sejak ditandatangani IUPK tersebut ditandatangani pada akhir 2018, sehingga ini merupakan batas waktu pembangunan smelter. Namun dengan adanya pandemi Covid 19 , ini merupakan salah satu faktor mundurnya pembangunan smelter di Gresik diselesaikan menjadi tahun 2024.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melarang ekspor bauksit pada Juni 2023. Tak cuma itu, Jokowi juga berencana melarang ekspor tembaga di pertengahan tahun yang ditetapkan pada UU Pertambangan no 3 tahun 2020 dan Permen ESDM No. 17 tahun 2020 tentang pengusahaan mineral dan batubara menyatakan izin ekspor konsentrat hanya diberikan hingga 10 Juni 2023.

Khusus konsentrate tembaga, Staf Khusu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Percepatan Tata Kelola Minerba , Irwandy Arif menyatakan bahwa pemerintah mempertimbangkan kendala pembangunan smelter akibat pandemi covid 19, akses pekerja sulit dan sejumlah material tidak bisa didatangkan , namun keputusan akan dipertimbangkan kembali dengan melihat proges pembangunan smelter

Harga Minyak Turun Lebih 2% (awal pekan)

Pada perdagangan yang berfluktuatif karena jatuhnya Silicon Valley Bank (SVB) mengguncang bursa saham dan menimbulkan kekhawatiran krisis keuangan baru. Agak mengejutkan melihat penurunan besar minyak mengingat fakta bahwa Fed kemungkinan besar akan mengerem menaikkan suku bunga secara agresif dan itu akan menyebabkan pelemahan dolar.

Harga minyak mentah Brent kontrak berjangka turun US$ 2,01, atau 2,4%, menjadi US$ 80,77 setelah sebelumnya jatuh ke US$ 78,34, harga terendah sejak awal Januari 2023. Minyak mentah Intermediate Texas Barat AS berjangka (WTI) turun US$ 1,88, atau 2,5%, menjadi US$ 74,80 per barel. WTI sebelumnya turun menjadi US$ 72,30 per barel, harga terendah sejak Desember 2022.

Amerika Serikat meluncurkan langkah-langkah darurat untuk menopang kepercayaan sistem perbankan setelah penutupan Silicon Valley Bank menyebabkan penjualan aset AS pada akhir minggu lalu. Kolpasnya SVB dikhawatirkan menular pada kegagalan sistem keuangan lain. Selain Silicon Valley Bank kolaps, regulator AS juga menutup Signature yang berbasis di New York.

Penutupan tiba-tiba SVB Financial memicu kekhawatiran risiko bank lain akibat kenaikan suku bunga tajam Fed selama setahun terakhir. Namun di sisi lain memicu spekulasi apakah the Fed dapat memperlambat laju pengetatan moneternya. Bursa saham AS diperdagangkan fluktuatif karena investor mempertimbangkan kemungkinan jeda kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan Maret.

Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, menyusut hampir 1% karena imbal hasil US Treasury jangka pendek tumbang. Depresiasi  greenback  membuat harga minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya yang sebelumnya menjadi faktor pendukung kenaikan harga.

Kekhawatiran tentang pengetatan moneter the Fed lebih lanjut diperburuk oleh persediaan minyak mentah Amerika yang tinggi. Produksi minyak mentah di tujuh cekungan  shale-oil  terbesar Amerika diperkirakan naik pada April ke level tertinggi sejak Desember 2019.