Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian Senin, 25 Oktober 2021

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Arab Saudi berkomitmen untuk mencapai nol emisi karbon pada 2060, hal ini disampaikan beberapa hari sebelum KTT iklim global COP26. Arab Saudi juga berkomitmen untuk mengurangi emisi metana global hingga 30% pada 2030 bersama sama dengan 130 negara sebagai bagian dari komitmennya untuk memberikan masa depan yang lebih bersih dan lebih hijau.

Aramco sebagai perusahan migas terbesar juga berusaha untuk menjadi perusahaan emisi nol bersih pada 2050.

Di sisi lain, Pemerintah Australia justru melakukan perpanjangan proyek Batubara di saat banyak negara lain berusaha mengurangi emisi karbon. Australia sebagai salah satu negara produsen batubara dan gas alam terbesar di dunia belum terlihat menunjukan upaya upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, meskipun negara ini menderita cuaca ekstrim dalam beberapa tahun terakhir. Lampu izin yang diberikan oleh perusahaan tambang dilakukan beberapa minggu setelah adanya adanya tekanan dari kelompok pro penggunaan batubara untuk meningkatkan ekspor seiring dengan meningkatnya permintaan global terutama untuk memenuhi permintaan Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Agar pelaksanaan kegiatan pertambangan tersebut masih dapat sejalan dengan upaya penurunan karbon. Kementerian Lingkungan Hidup Australia melampirkan sejumlah persyaratan ke perusahaan tambang untuk juga melindungi dan memperhatikan aspek lingkungan terutama mengenai spesis yang terancam punah dan wilayah sungai yang terdapat disekitarnya.

Sebuah studi dari jurnal lingkungan hidup menyebutkan bahwa 89% cadangan batubara global dimana 95% diantaranya meripakan bagian Australia harus dibiarkan tidak dieksplorasi untuk mengatasi krisis iklim yang terjadi.

II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong penggunaan teknologi smart grid atau jaringan listrik pintar untuk meningkatkan penetrasi energi hijau di Indonesia. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan smart grid menjadikan sistem pengaturan tenaga listrik lebih efisien dan menyediakan keandalan pasokan tenaga listrik yang tinggi. Smart grid juga mendukung pemanfaatan sumber energi terbarukan dan memungkinkan partisipasi pelanggan dalam penyediaan tenaga listrik.

Saat ini, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) punya proyek yang sedang berjalan atau on going project  yang berkaitan dengan implementasi smart grid  di Indonesia, yaitu Remote Engineering, Monitoring, Diagnostic, and Optimization Center (REMDOC) yang kini sudah memasuki tahap dua, sebanyak 14 dari 28 pembangkit listrik sudah terintegrasi dengan teknologi smart grid per Juli 2020.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan energi nasional berupa transisi dari energi fosil menjadi energi baru terbarukan sebagai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencegah krisis iklim, kebijakan itu sejalan dengan komitmen Indonesia pada Paris Agreement tentang penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% sampai 41% pada 2030.
 
Saat ini komitmen untuk mengatasi perubahan iklim disikapi dengan roadmap menuju net zero emission. Tantangan yang harus dihadapi menuju netralitas karbon, di antaranya mengurangi emisi yang ada saat ini terkhusus pada sektor pembangkit listrik. Penggunaan batu bara di pembangkit kini cukup besar dan relatif murah. Selain itu, industri juga dituntut untuk menggunakan energi yang rendah karbon agar dapat diserap oleh pasar global.

Pengembangan kelistrikan ke depan terutama di sisi pembangkitan mengarah kepada teknologi dan sumber daya yang ramah lingkungan seiring dengan upaya PLN selaku BUMN subsektor ketenagalistrikan dan pemerintah untuk bertransisi ke net zero emission.

Dari sisi bisnis dan investasi, pelaku usaha merespon lebih agresif atas emisi karbon. Beberapa dari mereka justru punya target 2040 sudah netral karbon. Bahkan Uni Eropa sudah mengajukan aturan mengenai Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM). Regulasi ini menetapkan semua barang ekspor yang masuk ke Uni Eropa akan dicatat kontribusi karbon dalam proses produksinya terhitung mulai 2023.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara, dan Umum 

Emiten Nikel di Tengah Krisis Energi China : Krisis energi listrik yang terjadi di China turut berimbas terhadap pergerakan harga nikel. Seberapa besar dampaknya terhadap kinerja emiten terkait seperti Aneka Tambang (Antam) hingga Vale Indonesia (INCO)?Sejumlah perusahaan di China telah memangkas produksi beberapa logam tahun ini lantaran adanya tekanan pasokan listrik. Dilansir dari Bloomberg Selasa (19/10), kekurangan listrik telah menghambat produksi logam termasuk lembaga, alumunium dan seng yang telah mengalami penurunan pada September 2021.Di antara pabrik peleburan atau smelters, Analis Shanghai East Asia Futures Co. Wang Yue mengatakan yang paling berisiko dari tagihan listrik yang tinggi adalah perusahaan nikel dan seng yang sudah beroperasi dengan margin yang rendah. Kenaikan biaya yang berlanjut kemungkinan akan memaksa pengurangan produksi dan dapat memicu putaran kenaikan harga yang akan membuat mereka mengejar logam lain. Pasalnya, kedua logam tersebut paling sering digunakan dalam produksi baja.

Krisis listrik yang terjadi di China berpotensi melemahkan permintaan bahan baku logam untuk diolah sehingga dikhawatirkan akan ada pengetatan pasokan di tengah persediaan yang sudah rendah. Sementara itu, persediaan nikel di gudang London Metal Exchange (LME) terus terjun ke level tersendah sejak Desember 2019. Pada 15 Oktober 2021, persediaan nikel tercatat hanya 146.022 ton atau turun 38,47% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Adapun, rata-rata persediaan nikel pada Oktober 2021 tercatat 150.570 ton atau turun 13,52% month-to-month (mom). Salah satu dampaknya, kondisi tersebut membuat harga nikel melambung, harga nikel dunia diperdagangkan ke level US$ 20.000 per ton sejak perdagangan awal pekan di London Metal Exchange (LME).

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijo-yo Prasetyo mengatakan kenaikan harga nikel sendiri cukup terkait dengan isu global dalam hal ini krisis energi akibat kenaikan harga komoditas energi dan pasokan yang terkendala. Nikel sebagai salah satu komponen utama electric vehicle (EV) sebenarnya turut naik bukan karena permintaan kendaraan bertenaga listrik naik akibat harga bahan bakar yang harganya terus naik. Namun, lebih kepada pasokan yang juga terkendala, di mana adanya penurunan produksi dari produsen utama seperti China yang menyesuaikan operasional pabrik-pabrik dengan kapasitas energi yang terbatas imbas dari krisis energi di negara tersebut. Untuk Indonesia, lanjutnya, kenaikan harga nikel sendiri juga menjadi sentimen positif untuk mendongkrak kinerja emiten pertambangan nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO).

Dengan kemelut krisis energi dan harga komoditas energi yang masih tinggi, produksi nikel masih akan terganggu khususnya di China, yang dapat menganggu ketersedian nikel global. Untuk rekomendasi boleh mempertimbangkan saham INCO dengan target terdekat area resistance di level Rp 5.500, dan juga ANTM dengan target di level Rp 2.700. Terpisah, Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu menambahkan dampak dari krisis energi di China merupakan efek domino atas kenaikan harga batu bara global yang cukup tinggi. Dengan demikian, kondisi itu memberatkan pelaku industri yang menggunakan listrik untuk aktivitas produksinya. Ini menyebabkan demand turun dan harga melemah. Dampak dari sisi permintaan mungkin tidak terlalu signifikan mempengaruhi permintaan domestik. Pasalnya, mayoritas aktivitas smelter dilakukan di dalam negeri dengan pasokan listrik yang masih stabil. Kalau dari sisi harga jual sendiri, kami perkirakan akan mempengaruhi average selling price [ASP] sehingga dapat menekan revenue emiten nikel. Dari sisi kinerja, INCO menargetkan produksi 64.000 metrik ton nikel. Angka itu 11,4% lebih rendah dari realisasi produksi tahun lalu yang mencapai 72.237 ton. Sampai semester 1/2021, perusahaan baru membukukan produksi 30.246 ton alias baru 47,25% dari target. Adanya maintenance di sejumlah fasilitas produksi merupakan penyebab proyeksi pengurangan produksi tersebut.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Anton Herdianto mengatakan target produksi feronikel ada pada kisaran 25.000 ton. Selanjutnya, target bijih nikel mereka patok pada angka 8,4 juta ton. Target tersebut jauh lebih tinggi daripada angka tahun lalu seiring adanya penambahan kapasitas smelter. Apakah produksi akan bisa dua kali lipat, kita lihat saja. Kami memproduksi dengan catatan bahwa market tersedia. Jangan sampai produksi banyak, tetapi nanti tidak bisa jual. Berdasarkan dokumen yang telah dirilis, ANTM menyebut bahwa hingga paruh pertama tahun ini mereka telah memproduksi 12.679 ton nikel dalam feronikel serta menjual sebanyak 12.068 ton. Rapor produksi dan penjualan bijih nikel lebih cemerlang lagi. Sepanjang Januari-Juni 2021, ANTM telah memproduksi 5,34 juta wmt bijih nikel. Bila ditarik dengan rapor pra-pandemi atau periode 2019, produksi bijih nikel ANTM sudah setara 62,7% rapor sepanjang tahun, yang menyiratkan bahwa saat ini kemampuan produksi bijih nikel telah melampaui kapasitas di masa pra pandemi.