Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian Rabu, 27 Oktober 2021

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Transformasi penyaluran BBM bersubsidi dan BBM ramah lingkungan. Pemerintah berencana menghapus BBM Premium dan menggantinya dengan Pertalite dengan tujuan penggunaan BBM ramah lingkungan. Saat ini penjualan bensin RON 88 juga semakin kecil, karena masyarakat telah beralih ke Pertalite.

Saat ini BBM RON 88 masih dipasarkan dengan harga Rp6.450 per liter. Sementara harga keekonomian bensin RON 88 diperkirakan sekitar Rp9.000 per liter sehingga Pemerintah perlu menyediakan besaran kompensasi bensin RON 88 sebesar Rp2.550 per liter. Kalaupun pemerintah akan menggantikan bensin RON 88 dengan bensin RON 90/Pertalite maka perlu diperhatikan juga dana kompensasi yang nantinya perlu ditanggung oleh Pemerintah dari penyaluran BBM RON 90. Saat ini bahan bakar minyak dengan RON 90 yang dijual Pertamina Rp7.650 per liter. Dengan harga jual tersebut, masih terdapat selisih harga Rp3.550 dibanding harga keekonomian yang berada di atas Rp11.000 per liter. Diusulkan untuk mengurangi beban kompensasi, peralihan bahan bakar RON 88 ke RON 90 perlu juga diikuti dengan penyesuaian harga RON 90 sebesar Rp1.500 per liter menjadi Rp9.150 per lilter. Penyesuaian harga tersebut diharapkan dapat menjadi win win solution bagi masyarakat dan juga pemerintah serta pertamina tanpa memberatkan keuangan negara dan tetap menyesuaikan kemampuan masyarakat masyarakat. Namun demikian agar penyesuaian Pertalite dapat juga mendapatkan kompensasi maka perlu dilakukan beberapa penyesuaian sejumlah peraturan seperti Peraturan Presiden Nomo 69/2021 dan Keputusan Menteri ESDM No 62/2020.

Di luar rencana peralihan bahan bakar jenis bensin RON 88 dengan bahan bakar minyak yang lebih ramah lingkungan, pemerintah juga perlu mendorong penyaluran solar bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Sesuai dengan regulasi yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden No 191 Tahun 2014, Pemerintah telah mengatur sasaran penerima manfaat dari produk BBM bersubsidi. Untuk transportasi darat, produk solar bersubsidi dikhususkan untuk masyarakat dalam kaitannya dengan transportasi orang atau barang pelat hitam dan kuning, mobil ambulance, mobil pengangkut jenazah, mobil pemadam kebakaran, mobil pengangkut sampah, dan kereta api umum penumpang dan barang berdasarkan kuota yang ditetapkan Badan Pengatur Hilir Migas. Namun, seperti halnya subsidi LPG, mekanisme subsidi solar diusulkan untuk dapat ditransformasi juga menjadi subsidi langsung tidak lagi berbasis komoditas. Meskipun demikian, perubahan mekanisme pemberian subsidi solar belum dapat diambil dalam waktu dekat mempertimbangkan kondisi dan kemampuan ekonomi masyarakat yang saat ini belum sepenuhnya pulih dari dampak Covid 19. Di tengah disparitas harga bbm bersubsidi dan harga pasar yang terus meningkat upaya upaya pengawasan perlu ditingkatkan untuk dapat lebih meminimalisir penggunaan solar bersubsidi yang tidak tepat sasaran.


II. Sektor EBTKE dan Ketenagalistrikan

Kerja sama Indonesia – Singapura pengembangan proyek tenaga surya. Tiga proyek pembangkit listrik tenaga surya disepakati untuk dikembangkan oleh perusahaan patungan Indonesia dan Singapura. Ekspor perdana dari energi bersih dan terbarukan sebesar 100 MW ditargetkan akan bisa dilakukan 2024 mendatang. Penandatanganan kerja sama pengembangan proyek tenaga surya dilakukan antara PT Trisurya Mitra Bersama dan PLN Batam dengan Sembcorp Industries. Kedua dilakukan Medco Power Energy dengan dua perusahaan Singapura Gallant Venture Ltd dan PacificLight Energie Pte Ltd. Ketiga dilakukan konsorsium Sunseap dan Grup Agung Sedayu.

Menteri ESDM menjelaskan, sebagai bagian dari komitmen global untuk mencegah terjadinya perubahan iklim, Indonesia serius mengembangkan energi baru terbarukan. Potensi yang dimiliki Indonesia sangat besar mulai dari tenaga surya, angin, air, panas bumi, dan arus bawah laut. Indonesia bukan hanya akan bisa memenuhi kebutuhan energi bersih dan terbarukan untuk kepentingan dalam negeri, tetapi juga untuk negara di sekitarnya. Ekspor perdana 100 MW dari Pulau Bulan merupakan tonggak pertama bagi Indonesia untuk menyediakan energi bersih dan terbarukan. Diharapkan pengembangan energi baru terbarukan bisa ikut mendorong bangkitnya industri dalam negeri untuk menghasilkan panel surya. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah membuka lapangan kerja dan keahlian di bidang energi baru terbarukan. Menteri Perdagangan dan Industri Singapura menyampaikan, Singapura sudah mencanangkan untuk negara rendah karbon. Untuk itu Singapura akan mulai beralih dari penggunaan energi fosil menjadi energi baru terbarukan. Salah satu yang menjadi alternatif adalah energi tenaga surya dan juga tenaga air. Singapura sudah memulai mengembangkannya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada seperti waduk-waduk serta atap bangunan. Namun dengan jumlah lahan yang terbatas, Singapura tidak mungkin memenuhi dari dalam negeri sendiri. Untuk itulah kerja sama dengan negara-negara tetangga dan kawasan penting dilakukan karena Singapura membutuhkan pasokan energi listrik dari energi rendah karbon hingga 4 GW pada 2035.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara, dan Umum

Pemerintah Siapkan Formulasi Harga Batu Bara Khusus Industri. Pemerintah menyiapkan formulasi harga batu bara khusus bagi kalangan industri. Hal ini seiring dengan melambungnya harga emas hitam tersebut yang membebani pelaku industri. Pemberlakuan harga khusus batu bara sebelumnya telah diberlakukan bagi pembangkit listrik sebesar US$ 70 per ton bila harga pasar melampaui US$70 per ton.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan permasalahan harga batu bara telah dibahas antara pihaknya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Asosiasi industri dan Asosiasi batu bara. Industri semen merupakan salah satu pelaku usaha yang terkena dampak lonjakan harga batu bara. Intinya  pemerintah dan asosiasi sepakat untuk mencari formula pasokan batu bara untuk semen. Pertama, agar bisa memfasilitasi industri semen untuk terus operasi dengan kondisi wajar dan kedua dari penambangnya, pemasok dapatkan harga jual dan kualitas dapat dipenuhi penambang batu bara. Sujatmiko belum bisa membeberkan formulasi yang dimaksud seperti harga khusus batu bara untuk pembangkit listrik. Dalam waktu dekat ini formula tersebut segera disampaikan terkait formulasinya. Industri semen membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar untuk tanur putar (klin).

Lonjakan harga batu bara berpengaruh signifikan terhadap biaya produksi semen lantaran komponen batu bara mencapai 30% hingga 35%. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyampaikan, sinyalemen kenaikan harga batu bara justru bisa menjadi bumerang bagi industri dalam negeri. Pasalnya, ongkos yang harus dikeluarkan industri untuk sumber energinya akan menjadi lebih besar dari biasanya. Namun, di sisi lain tren kenaikan harga batu bara ini bisa menjadi berkah bagi Indonesia karena bisa meningkatkan penerimaan negara. Yang menjadi tantangan bagaimana batu bara di dalam negeri tetap kompetitif. Artinya, jika harganya terlalu tinggi industri dalam negeri akan kesulitan memperoleh energi karena terlalu mahal. Karena itu, Airlangga menekankan perlu adanya keseimbangan antar sektor agar industri tidak dirugikan dari lonjakan harga batu bara ini. Kita harus mendorong keseimbangan antar-sektor tersebut.

Harga Terus Naik, Pemerintah Mulai Pikirkan Perubahan Royalti Batu Bara. Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan bahwa kenaikan harga batu bara global akan mempengaruhi jumlah penerimaan negara. Terkait dengan royalti, saat ini kami sudah membuat semacam kajian dan kami sampaikan kepada Kementerian Keuangan,” katanya saat konferensi pers virtual, Selasa (26/10/2021). Dia menuturkan bahwa Kementerian ESDM maupun Kementerian Keuangan akan secepatnya menyelesaikan kajian tersebut agar bisa diterapkan. Setelah itu akan disosialisasikan kepada para stakeholder, termasuk pengusaha batu bara.

Di sisi lain, pemerintah berkomitmen untuk memfasilitasi perusahaan batu bara agar dapat berjalan dan berproduksi dengan lancar. Hal itu untuk mendukung pengusaha bisa memproduksi sesuai dengan target yang diberikan. Pihaknya pesimistis target produksi 625 juta ton dapat tercapai hingga akhir tahun. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor cuaca buruk di sejumlah area tambang, seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sumatra Selatan. Penghentian produksi untuk sementara karena cuaca buruk bukan disebabkan oleh perusahaan tambang yang tidak bisa berproduksi, tetapi memang harus dihentikan untuk memastikan keselamatan para pekerja di area tambang.  Inilah yang menjadi salah satu penyebab produksi sampai sekitar September mencapai 450 juta ton, dan dengan target 625 juta ton di akhir tahun berdasarkan data series yang ada menurut saya agak kurang sedikit karena faktor cuaca tadi.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM memaparkan, penerimaan negara bukan pajak melebihi target dengan catatan Rp49,67 triliun hingga kuartal III/2021 dari target Rp39,1 triliun. Sementara waktu masih ada tiga bulan, jadi ini capaian yang baik. Hal ini didorong oleh harga komoditas yang bagus, serta upaya pemerintah memberikan kebijakan yang memungkinkan badan usaha bergerak lebih cepat dan lebih lincah.