Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 1 September 2022

I. Sektor Minyak Dan Gas Bumi

Pengaruh Kenaikan Harga LNG Terhadap Pasar Gas India. Harga LNG global yang tinggi dan pasokan yang terbatas mengancam rencana pembangunan regasifikasi India. Kenaikan harga dan kondisi pasar yang ketat menghambat pertumbuhan infrastruktur di pasar negara berkembang seperti India.

Sebelum Rusia menginvasi Ukraina, diperkirakan 17 juta mt per tahun terminal regasifikasi akan beroperasi pada 2022, namun saat ini dengan adanya invasi Rusia diperkirakan kapasitas pembangunan regasifikasi hanya mencapai 10 juta mt per tahun.

India saat ini mengoperasikan enam terminal regasifikasi dengan kapasitas total sekitar 42,7 juta mt per tahun. Pada bulan Mei, tiga dari enam terminal di India yang secara kolektif memiliki kapasitas 15 juta mt per tahun hanya beroperasi sekitar 12 persen – 20 persen dari total kapasitas normal.

Pada semester pertama 2022, impor LNG India turun 8,5 persen pada tahun ini menjadi 14,98 BCM. Dibandingkan tahun lalu, impor LNG turun 12 persen menjadi rata rata 81 mcm per hari dan diperkirakan akan turun 7 mcm per hari pada akhir tahun. India menjadi pasar yang sensitive terhadap harga. Tingginya harga internasional yang berlaku tidak tercermin di pasar gas alam India karena ada gap permintaan yang terjadi. Berbeda dengan Eropa, peningkatan harga masih dapat diantisipasi oleh Eropa dapat membayar harga yang jauh lebih tinggi karena pembatasan pasokan yang dilakukan Rusia.

Petronet, importir LNG terbesar di India sedang menegosiasikan kontrak berjangka sebesar 11,7 miliar Cu m per tahun dengan Qatargas yang diperkirakan akan berakhir pada tahun 2028. Meskipun demikian Petronet LNG membatalkan rencana untuk mengimpor 1 juta mt per tahun LNG yang berpotensi ditargetkan untuk industri kecil.

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Transisi ke Energi Bersih, Indonesia Bisa Belajar dari Norwegia, Pandemi Covid-19 dalam dua tahun terakhir membawa dua momentum besar dalam sektor energi, yakni digitalisasi dan transisi energi menuju energi terbarukan atau ramah lingkungan. Negara-negara yang maju dalam pengembangan energi terbarukan telah mempromosikan kepada seluruh dunia untuk mengikuti jejak mereka sebagai bagian dari kampanye mereka untuk memerangi perubahan iklim. Adanya fluktuasi harga bahan bakar fosil juga membuat banyak investor melihat aset-aset energi fosil di pasca pandemi dengan tingkat kehati-hatian yang lebih besar. Mereka mungkin juga sekarang menganggap aset energi terbarukan lebih baik, meskipun masa pandemi lalu sempat memperlihatkan ‘reality check’ pada kehandalan dan keterjangkauan energi terbarukan. Pada sisi lain, pandemi membawa krisis ekonomi yang menghambat investasi sumber energi terbarukan di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah.

Tantangan tersebut di atas cukup menggambarkan kompleksitas trilemma energi yang terdiri atas tiga komponen, yaitu green energy (keberlanjutan dan ramah lingkungan), reliability (kehandalan pasokan), dan affordability (keterjangkauan harga energi). Mengapa disebut trilemma? Karena jika kita ingin 100 persen green, sayangnya sebagian besar produk green energy untuk kebutuhan massal masih memerlukan biaya tinggi dan kehandalan kesinambungan pasokannya masih dipertanyakan.

Di sisi lain, jika kita hanya menginginkan energi yang murah (100 persen terjangkau), berarti kita berpotensi terjebak untuk menggunakan kembali energi yang tidak ramah lingkungan. Oleh karenanya kita perlu menemukan keseimbangan dalam bauran energi. Jadi, alih-alih memberlakukan pembatasan atau larangan terhadap negara-negara yang masih menggunakan energi fosil, negara-negara maju seharusnya mendukung secara finansial dan teknologi negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah dalam menghapus energi fosil mereka secara bertahap. Dengan demikian, dunia dapat menyelaraskan dalam menemukan bauran energi yang optimal untuk mencapai keseimbangan antara green/environmental sustainability, reliability, dan affordability.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan, permintaan energi global akan meningkat sekitar 18 persen tahun 2030, dan sektor migas masih menyumbang lebih dari 50 persen dari total bauran energi. Angka ini bahkan belum memperhitungkan dampak perang atau konflik geopolitik yang terjadi sekarang maupun di masa depan yang dapat memperlambat pengembangan energi terbarukan. Indonesia menargetkan pertumbuhan energi terbarukan mencapai 31 persen dari total bauran energi pada 2050 dan masih akan dominan mengandalkan energi fosil (sekitar 44 persen untuk minyak dan gas, dan 25 persen untuk batubara). Oleh karena itu, sementara Indonesia sedang membangun dan meningkatkan kapasitas sumber energi alternatifnya, peningkatan produksi minyak nasional tetap penting untuk mengamankan permintaan energi nasional, mengisi kesenjangan di masa transisi energi ini. Norwegia sebagai salah satu negara maju yang rajin mengkampanyekan upaya-upaya pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan energi terbarukan pun tetap tidak mengendorkan aktivitas sektor migasnya.

Norwegia adalah negara migas yang relatif muda, tetapi berkembang pesat. Hingga akhir tahun 2020, telah 90 lapangan berproduksi: 67 di Laut Utara, 21 di Laut Norwegia dan 2 di Laut Barents. Banyak ladang produksi yang menua, tetapi beberapa di antaranya masih memiliki sisa cadangan yang cukup besar. Selain itu, cadangan migasnya terus meningkat ketika eksplorasi dan pengembangan lapangan di daerah-daerah yang dekat dengan infrastruktur yang sudah ada semakin digalakkan. Pada 2020, Norwegia memproduksi 3,9 juta barrel ekuivalen minyak per hari. Pendapatan dari sektor migas mereka langsung disimpan ke dalam tabungan kekayaan negara (‘Oil Fund’) yang sebagian dikelola sebagai dana investasi di berbagai bidang dan di berbagai negara.

Dana tersebut dibentuk untuk melindungi ekonomi negara dari naik turunnya pendapatan minyak. Ini juga merupakan tabungan jangka panjang Norwegia untuk memberi manfaat baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Dengan kesadaran bahwa dana yang mereka dapat tersebut diperoleh dari sumber kekayaan alam yang tidak dapat diperbaharui, oleh karenanya, mereka harus menyimpan dan menyisihkan kekayaan tersebut untuk generasi yang akan datang. Berdasarkan konsensus politik di sana, pemerintah hanya diperbolehkan membelanjakan bunga investasinya saja yang rata-rata maksimal sekitar 3 persen per tahun.

Kombinasi kondisi laut yang keras dan regulasi keselamatan kerja serta lindungan lingkungan yang sangat ketat membuat eksploitasi migas di lepas pantai Norwegia sering dianggap membutuhkan biaya tinggi. Namun seiring waktu, kami mengamati bahwa biaya tinggi tersebut dalam jangka panjang menghasilkan produksi yang lebih berkelanjutan dan menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi.

Indonesia telah menjadi net-importir minyak sejak tahun 2004 karena pertumbuhan kebutuhan dalam negeri melebihi kapasitas produksi minyaknya. Dengan banyaknya lapangan yang memasuki fase tua dan ditambah dengan tantangan lainnya, produksi minyak nasional dalam satu dekade terakhir mengalami penurunan dari 945 ribu barel minyak per hari menjadi 745 ribu barel minyak per hari dengan laju penurunan 3-5 persen per tahun. Dengan demikian, kontribusi sektor migas terhadap penerimaan negara juga menunjukkan penurunan dari 21 persen pada 2010 menjadi hanya 9,2 persen pada 2019.

Namun, produksi migas tetap penting secara strategis bagi perekonomian nasional. Sektor migas tetap memegang peranan penting untuk penciptaan nilai tambah ekonomi masyarakat, pembangkit listrik, transportasi, dan industri karena sebagian besar infrastruktur di kepulauan Nusantara masih berbasis energi fosil. Jika tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi, negara akan sepenuhnya bergantung pada impor minyak mentah, yang dapat mengancam ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, merupakan kepentingan besar bangsa untuk meningkatkan produksi minyak, sehingga dapat meminimalkan kesenjangan defisit antara ekspor dan impor.

Beberapa strategi kunci berikut ini dapat dipertimbangkan untuk mencapai target ambisius itu. Strategi-strategi tersebut dihimpun dari pengalaman dan pengamatan para profesional migas Indonesia yang bekerja di Norwegia. yang terdiri atas: Sumber daya manusia dan organisasi berkinerja tinggi; Eksplorasi, sebagai faktor penting untuk produksi masa depan; Teknologi untuk meningkatkan cadangan minyak terambil (I&EOR: ‘Improved & Enhanced Oil Recovery’), untuk meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan yang sudah tidak muda lagi; ‘Fast track’, standarisasi dan penyederhanaan proyek untuk mengembangkan penemuan lapangan-lapangan kecil; Kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, akademisi, dan asosiasi profesi; ‘Cost conscious culture’ (pola pikir yang melihat bagaimana mendapatkan nilai lebih secara berkelanjutan, ketimbang mencari biaya semurah mungkin).

Turunan lebih rinci dari strategi-strategi tersebut di atas antara lain: manajemen data sumber daya yang terstandarisasi, perpustakaan data digital geosains yang terbuka, sistem penggantian biaya eksplorasi, eksplorasi dekat infrastruktur atau lapangan yang sudah berproduksi, new play concept, kolaborasi antar operator pemegang wilayah kerja, kampanye pemboran sumur ‘infill’ (infill wells) yang masif, pengeboran sumur berarah dan bercabang-cabang (multilateral wells), sumur injeksi air atau gas yang benar-benar terencana, kampanye stimulasi dan perekahan hidrolik, kampanye intervensi dan perbaikan sumur, optimalisasi desain dan proses pengeboran, standarisasi sistem produksi bawah laut, digitalisasi, serta fiskal dan regulasi menarik yang mendorong tidak hanya ‘operator besar’ untuk berpartisipasi dalam sektor migas.

ektor

Landasan dari strategi tersebut haruslah berupa adanya kepastian hukum dan birokrasi yang efektif & proaktif. Di atas semua itu, penting juga untuk menekankan keterlibatan awal K3L (Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan) pada setiap proyek pengembangan lapangan sebagai bagian dari solusi. Seiring ambisi pertumbuhan ekonomi Indonesia, kebutuhan energi nasional akan terus meningkat. Maka upaya-upaya strategis untuk meningkatkan produksi migas nasional tetap sangat penting. Bukan untuk bersaing atau mematikan perkembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan, namun untuk saling melengkapi, dan sebagai jembatan untuk meminimalkan resiko menuju transisi energi yang dicita-citakan. Sektor migas masih diperlukan untuk menyediakan energi yang terjangkau dan handal yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil bagi negara-negara berkembang sampai tiba waktunya ketika kehandalan dan kesinambungan produksi energi terbarukan dapat mengambil alih.

III. Sektor Geologi, Mineral , Batubara, Dan Umum

Tata Kelola Pertambangan yang Baik dapat Menarik Para Investor, Menurut pengamat ekonomi, para investor saat ini (khususnya investor saham) praktek tata kelola pertambangan yang berpengaruh terhadap fundamental perusahaan. Terutama pada perusahaan yang usahanya dari sektor hulu hingga hilir. Contohnya PT Aneka Tambang Tbk yang berfokus pada peningkatan nilai tambah produk, optimalisasi tingkat produksi dan penjualan, serta implementasi strategi pengelolaan biaya yang tepat dan efisien, dalam memaksimalkan imbal hasil dari komoditas nikel, emas, dan bauksit.

PT Aneka Tambang Tbk juga terus menjalankan komitmen untuk melaksanakan pertumbuhan berkelanjutan dengan melaksanakan best practices di setiap lini operasi perusahaan, senantiasa cermat dalam melihat peluang pasar, merencanakan kegiatan eksplorasi secara agresif, efektif, dan market-based.

Dalam kaitannya dengan pengembangan bisnis perusahaan, di 2022 ini PT Aneka Tambang Tbk telah melakukan penandatanganan perjanjian jual beli tenaga listrik untuk smelter ferronikel di Kaltim dengan PT PLN, dan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT PLN untuk suplai listrik di pabrik ferronikel ANTAM di Pomalaa, Sulawesi Tenggara yang menggunakan pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Antam juga melakukan penandatanganan kerjasama dengan beberapa mitra strategis terkait hilirisasi nikel dan pengembangan Kawasan Industri antara Antam dan CNGR Hongkong Material Science and Technology Co., Ltd. Teranyar, Antam melakukan spin-off sebagian segmen usaha pertambangan nikel kepada anak perusahaannya sebagaimana RUPSLB yang dilakukan beberapa waktu lalu.