Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 15 September 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Kontirbusi Solidaritas Dalam Menghadapi Krisis Energi dan Ekonomi. Komisi Eropa mengusulkan adanya pajak sementara atas “surplus profit” dari produsen bahan bakar fosil untuk membantu mengimbangi melonjaknya tagihan listrik dan gas di sektor rumah tangga maupun industri di seluruh Eropa. Berdasarkan proposal yang diajukan, pajak sementara tersebut diusulkan sebagai bentuk kontribusi solidaritas atas tambahan keuntungan yang dihasilkan dari kegiatan sektor minyak, gas, dan batubara. Pajak sementara diusulkan diterapkan selama satu tahun untuk kemudian ditinjau kembali.

Pajak sementara nantikan akan dikenakan kepada badan usaha yang setidaknya memiliki kenaikan laba 20 persen diatas rata-rata laba tiga tahun sebelumnya. Retribusi yang dikenakan diusulkan mencapai sekitar 33 persen dari laba yang didapat pada 2022.

Berdasarkan data yang ada, perusahaan energi di Eropa mendapkan pendapatan lebih dari dua kali lipat dari pendapatan tahun sebelumnya pada kuartal kedua tahun ini, setelah harga minyak Brent naik mendekati 140 US$ per barel dan harga gas melonjak ke rekor tertinggi akibat kekhawatiran atas pasokan gas Rusia. Laba bersih perusahaan seperti Shell, BP, TotalEnergies, Equinor, dan Eni bahkan mencapai lebih dari US$37 miliar pada Q2-2022 dimana sebagian besar peningkatan laba tersebut diberikan kepada pemegang saham melalui dividen yang lebih tinggi.

Berdasarkan proposal tersebut setiap negara Uni Eropa akan bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mengarahkan dana dari pajak sementara untuk membantu mengimbangi kenaikan harga gas dan listrik di konsumen serta mempercepat proyek energi bersih. Dana tersebut juga dapat digunakan untuk membiayai proyek lintas batas sesuai dengan tujuan yang terdapat pada dokumen REPowerEU, atau menggunakan sebagian pendapatan tersebut untuk mendanai langkah-langkah perlindungan tenaga kerja atau mempromosikan investasi dalam peningkatan efisiensi energi

Sejumlah negara Eropa seperti Italia dan Hinggaria telah mengusulkan pajak sementara atau yang disebut “windfall profit tax” bagi perusahaan perusahaan energi. Inggris juga telah memberlakukan “energy profits levy” pada Mei lalu bagi perusahaan hulu energi dengan menaikan tarif pajak dari sebelumnya 40 persen menjadi 65 persen.

Badan usaha berpandangan positif atas rencana adanya kontribusi solidaritas, namun diharapkan pajak sementara tersebut dapat diberlakukan kepada seluruh pemasok bahan bakar fosil ke Eropa dan ditetapkan pada tingkat yang tepat sehingga tidak menghambat pasokan yang memadai. Selain itu periode yang digunakan sebagai tahun dasar pembanding juga perlu diperhatikan mengingat periode 2019-2021 termasuk tahun tahun pandemic ketika pendapatan industri fosil juga turun diengaruhi anjloknya permintaan dan harga. Selain itu investasi energi yang dicanangkan oleh masing-masing badan usaha juga sebaiknya diperhitungkan dalam penentuan besaran kontribusi yang akan dikenakan.

II.Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Utak-atik Atasi Surplus Listrik, Persoalan kelebihan pasokan tenaga listrik mendapatkan perhatian khusus di tengah upaya efesiensi yang dilakukan badan usaha milik nagara. Beragam uapaya dilakukan untuk menyusutkan power supply tenaga istrik milik PT. PLN, ulai dari pengembangan kawasan industri baru yang diproyeksi bakal menyerap banyak setrum hingga penyematan pentingnya kelistrikan dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, seperti electrifying agriculture.

Terbaru, mencuat usulan untuk menghapuskan golongan pelanggan rumah tangga 450 VA guna mengatasi persoalan kelebihan pasokan tenaga listrikan beban milik PLN. Usulan penghapusan golongan pelanggan 450 VA disampaikan Banggar DPR untuk mengatasi besarnya kelebihan pasokan listrik PLN. Pengguna listrik berdaya 450 VA akan ke daya 900 VA. Selain itu untuk yang masyarakat yang memakai daya listrik 900 VA akan beralih ke listrik 1.300 VA. Saat ini kelebihan pasokan tenaga listrik PLN mencapai 6 Gigawatt (GW). Jumlah tersebut berisiko kembali naik menjadi 7,5 GW pada 2026 karena ada beberapa pembangkit listrik program 35 GW yang selesai.

Bahkan, pada 2030 diperkirakan kelebihan pasokan listrik PLN mencapai 41 GW karena pemerintah sedang gencar meningkatkan investasi pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan (EBT). Dengan skema pembelian listrik take or pay, maka akan menjadi beban tersendiri bagi PLN karena tetap harus membayar listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik, meski perseroan tidak dapat memastikan seluruh listriknya terserap oleh pelanggan. Skema take or pay menghendaki PLN tetap mengambil listrik kepada pengembang listrik swasta atau membayar denda bila pasokan yang diambil tidak sesuai dengan kontrak.

Dengan penghapusan golongan pelanggan rumah tangga 450 VA diharapkan permintaan dan penyerapan listrik akan meningkat sehingga kelebihan pasokan berkurang. Migrasi pelanggan rumah tangga 450VA ke 900 VA tidak akan membutuhkan baiaya banyak karena  PLN tinggal memodifikasikan meteran yang ada dirumah. Selain itu juga penghapusan golongan rumah tangga 450 VA sejalan dengan program pemerintah yang ingin mengkonversi LPG ke kompor listrik atau induksi untuk mengurangi beban subsidi komoditas tersebut yang relative tinggi.

Terkait usulan penghapusan golongan subsidi listrik rumah tangga 450 VA diharapkan dapat menjadi anggin segar dan sentiment positif terhadap iklim investasi pembangkit listrik di tanah air. Namun usulanektor tersebut juga harus diikuti dengan komitmen untuk tidak menaikan tarif listrik dari pemerintah dan DPR. Alasannya penghapusan golongan 450 VA dan migrasi kelompok  tersebut ke 900 VA bersubsdi bisa meningkatkan subsidi listrik. Di sisi lain usulan Banggar tersebut dpat menjadi momentum bagi pemerintah untuk membenahi tata niaga listrik domestic seiring dengan potensi makin lebarnya kelebihan pasokan listrik PLN. Namun KESDM memastikan bahwa pemerintah tidak akan menghapus daya listrik pelanggan rumah tangga miskin 45o VA dan mengalihkan ke daya 900 VA.

III.Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

PT Timah (Persero)Tbk Targetkan Smelter Ausmelt Furnace Beroperasi pada November 2022, Saat ini PT Timah sedang membangun smelter berteknologi TSL (Top Submerged Lance) Ausmelt Furnace yang ditargetkan selesai pasa November 2022 mendatang dan beroperasi efektif mulai tahun depan dengan kapasitas sebesar 40.000 ton crude tin/tahun. Proyek pembangunan smelter ini dimulai sejak tahun 2019 silam yang semula dijadwalkan selesai pada awal tahun 2022 namun karena pandemic covid-19 maka target penyelesaiannya mundur. Progress pembangunannya sudah tahap final sekitar 97,33%.

Smelter Ausmelt Furnace dapat mengolah dan meleburkan konsentrat bijih timah dengan kadar 40% (low grade). Proses peleburannya lebih cepat dibandingkan dengan smelter eksisting menyebabkan smelter baru ini lebih efisien dengan peningkatan efisiensi sebesar 25% hingga 34%. Selain lebih efisien, smelter baru ini dapat mengolah timah kadar rendah sehingga memperkuat eksplorasi di tambang primer.

PT Timah berinvestasi sebanyak USD 80 juta atau setara Rp 1,2 triliun untuk pembangunan smelter yang berlokasi di Muntok. Diharapkan smelter tersebut dapat menambah laba atau profitabilitas perseroan di tahun berikutnya.

Sebagai informasi, produk logam timah pada paruh pertama tahun 2022 merosot sebesar 26% menjadi 8.805 MT dari periode sama tahun sebelumnya yaitu sebanyak 11.915 MT. Adapun penjualan logam timah tercatat ikut melemah menjadi 9.942 MT atau turun sebesar 21% dibandingkan periode sama tahun lalu yaitu sebesar 12.523 MT.