Reviu Informasi Strategis Energi Dan Mineral Harian, 17 November 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Melakukan Transisi Energi Yang Terjangkau Dengan LPG. Krisis energi yang terjadi baru-baru ini memperkuat India untuk segera melakukan transisi energi. Kekurangan energi  yang terjadi dapat menyebabkan bencana  bagi India karena  krisis yang terjadi tidak hanya mempengaruhi harga bahan bakar tetapi makanan.

India saat ini mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentah dan gasnya dan mengekspor produk minyak seperti diesel dan bahan bakar jet ke Eropa dan terkadang Amerika Serikat.  Pelaksanaan transisi energi juga harus disesuaikan dengan realitas lokal dan memastikan bahwa ketersediaan dan keterjangkauan energi dapat tetap terjaga.

Di tengah upaya negara Eropa dan beberapa negara maju lainnya untuk menjauh dari bahan bakar fosil dengan target emisi nol bersih pada 2050 , India memiliki tujuannya sendiri untuk mencapai dekarbonisasi ekonomi pada tahun 2070. India masih memandang penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak sebagai cara yang efisien untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan warganya dan mengurangi polusi.  Penggunaan LPG dapat meningkatkan udara yang lebih bersih dan meningkatkan pemberdayaan perempuan. Berkat program yang dijalankan pemerintah, penetrasi LPG di India hampir mencapai 100 persen pada 2022 dari sekitar 60 persen pada 2016.

LPG bisa menjadi energi sosial yang dibutuhkan untuk menjauhkan masyarakat dari penggunaan bahan bakar berbahaya yang digunakan saat ini. Melihat pada fakta bahwa sejumlah besar orang di sub-Sahara Afrika masih menggunakan batu bara dan biomassa. seperti kayu untuk dimasak, LPG  sejauh ini merupakan alternatif terbaik dalam jangka pendek hingga menengah.

II.Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Gegap Gempita Transisi Energi, KKT G20 menjadi momentum bagi negara-negara di dunia untuk menegaskan kembali komitmennya dalam melakukan transisi energi. Seperti diketahui, komitmen negara-negara di dunia itu tertuang dalam Perjanjian Paris yang disepakati pada 2016. Paris Aggreement yang merupakan traktat internasional terkait mitigasi, adaptasi, dan pendanaan terhadap perubahan iklim. Kesepakatan tersebut dijadikan landasan bagi negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi karbon melalui berbagai langkah yang diusung.Pemerintah Indonesia sudah menyatakan komitmen kuatnya untuk melakukan transisi energi dan mematok target pencapaian nol emisi atau NZE pada 2060.

Beragam langkah ditempuh, selain menerbitkan regulasi termasuk di dalamnya berisi tentang insentif, pemerintah juga mendorong badan usaha milik negara maupun swasta untuk menempuh berbagai cara dalam rangka menekan emisi karbon. Pada perhelatan KTT G20 di Bali yang melibatkan berbagai stakeholder, pemerintah menghadirkan iklim environmental friendly melalui penggunaan electricvehicle (EV) atau kendaraan listrik.

Tentunya upaya-upaya tersebut harus diapresiasi tak hanya di dalam negeri, tetapi juga dinegara-negara lain. Mengingat tak mudah untuk mewujudkan pencapaian nol emisi. Selain masih perlu mengedukasi masyarakat yang saat ini masih terbiasa menggunakan energi fosil, biaya atau investasi untuk mencapai target tersebut juga tidaklah kecil. Memang, dalam Bali Leaders Declaration disepakati sejumlah kerjasama konkret dalam berbagai bidang. Di antaranya terbentuknya Pandemic Fund yang dananya telah terkumpul sebanyak US$ 1,5 miliar serta operasionalisasi resilience sustainability trust di bawah IMF yang mencapai US$ 81,6 miliar.

Pada level masyarakat, isu transisi  energi masih belum menjadi perhatian utama sebab selama ini isu transisi energi masih berfokus pada kendaraan listrik. Sedangkan  banyak tantangan yang harus dihadapi masyarakat, khususnya harga kendaraan yang sangat mahal dan ketiadaan infrastrktur yang memadai. Transisi energi yang menjadi agenda prioritas nasional membutuhkan berbagai persiapan yang cukup matang sehingga ke depan proses transisi energi tidak membebani perekonomian negara dan kehidupan masyarakat, serta tidak menimbulkan gejolak kesenjangan ekonomi dan sosial.

Indonesia memiliki berbagai tantangan dalam pengembangan dan pemanfaatan sumber energi terbarukan. Kerjasama antara pemerintah dan stakeholder sektor energi menjadi kunci utama dalam percepatan pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. Sinergi dan kolaborasi dalam mendorong transisi energi perlu diperkuat guna mencapai realisasi bauran energi sebesar 23% pada 2025. Arah kebijakan energi nasional saat ini adalah melaksanakan transisi energi, yaitu dari enrgi fosil menuju energi yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan, terutama melalui pengembangan energi terbarukan. Kendati demikian, langkah agresif perlu diimbangi dengan serangkaian kebijakan yang mendukung dan mampu mendorong masyarakat sebagai user untuk mau beralih menggunakan energi bersih.

Transisi energi fosil yangs elama ini masih dikonsumsi yangs elama ini masih dikonsumsi ke energi baru terbarukan masih membutuhkan waktu panjang. Salah satu indikasinya porsi penggunaan energi fosil masih sangat besar hingga 2050. Transisi ini kelak harus dilakukan bertahap, terarah dan terukur, sambal menyiapkan sistem energi yang terintegrasi. Sejatinya, transisi energi bisa menjadi modal pembangunan berkelanjutan, mendukung perekonomian nasional dan mengembangkan serta memperkuat posisi industri dan perdagangan Indonesia. Maski demikian, karena proses transisi tidak mudah, dengan beragam tantangannya, makan perlu penguatan sinergi dan kolaborasi di semua stakeholder, termasuk yang paling utama adalah meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menggunakan energi bersih.

III.Sektor Geologi, Mineral , Batubara dan Umum

Peran MIND ID dalam Hilirisasi. Presiden Republik Indonesia (RI), terus mendorong setiap industri penghasil bahan mentah atau raw material di Indonesia mulai berkomitmen untuk memikirkan hilirisasi produk turunannya. Hilirisasi produk ini dipercaya mampu memperkuat struktur industri, menyediakan lapangan kerja, dan memberi peluang usaha di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Presiden juga menginginkan agar proses hilirisasi industri ini dipercepat. Hal tersebut agar dapat meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri serta membuka lapangan kerja yang lebih luas. Langkah ini merupakan salah satu wujud komitmen dari pemerintah dalam mendukung hilirisasi produk pertambangan yang mana juga akan memperkuat kemandirian bangsa di ranah internasional.

Industri Pertambangan tentunya akan mengambil peran yang cukup krusial pada proses hilirisasi, produk yang dihasilkan merupakan produk Mineral dan Batubara (Minerba) yang tergolong produk mentah. Melihat hal ini Kementerian BUMN secara strategis membentuk Holding Industri Pertambangan, Mining Industry Indonesia ( MIND ID ).

Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, salah satunya dalam kategori minerba. Tercatat pada tahun 2021 angka produksi timah mencapai 800 ribu ton dan menduduki peringkat ke-2 dunia, komoditas batubara 38,8 miliar ton pada Juli 2022 dan menduduki peringkat ke-7 dunia. Sedangkan tembaga 28 juta ton pada tahun 2020, menduduki peringkat ke-7 dunia, komoditas nikel 72 juta ton sehingga menjadi terbesar ke-1 dunia, dan komoditas bauksit 1,2 miliar ton menduduki peringkat ke-6 dunia.

Salah satu upaya hilirisasi Holding Pertambangan MIND ID, diwujudkan melalui industri bisnis aluminium dan nikel yang saat ini menjadi komponen kunci dalam pengembangan industri kendaraan listrik. MIND ID memiliki tiga mandat dari Pemerintah. Pertama, mengelola cadangan dan sumber daya strategis. Kedua hilirisasi. Tiga, memiliki kepemimpinan pasar yang diwujudkan melalui optimalisasi komoditas mineral dan ekspansi bisnis.

MIND ID mendorong nilai tambah produk pertambangan aluminium dan nikel. Di mana aluminium dan nikel menjadi komponen kunci dalam pengembangan industri kendaraan listrik. Untuk industri aluminium, MIND ID punya PT Inalum (Persero), Inalum merupakan produsen tunggal Ingot Aluminium di Indonesia Dengan kapasitas produksi hingga 250.000 ton per tahun. Melalui MIND ID, pemerintah Indonesia memiliki 100 persen saham di Inalum.

Sedangkan, untuk nikel, MIND ID punya Antam dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). INCO sendiri sahamnya telah didivestasi oleh MIND ID sebesar 20 persen. Bersama Antam, akan menjadi produser nikel nomor dua terbesar di Indonesia. Mempercepat industri kendaraan listrik berbasis baterai saat ini menjadi salah satu solusi untuk menurunkan emisi global yang kian meningkat. Sebab kendaraan listrik merupakan alternatif transportasi ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi. Selain itu juga sebagai bentuk menambah nilai dari komoditas mentah yang dihasilkan.

Tujuan pembangunan berkelanjutan sejalan dengan sustainable pathway MIND ID dalam mewujudkan komitmen pertambangan ‘hijau’ dalam mempromosikan efisiensi energi yang mengurangi jejak siklus hidup terhadap dampak lingkungan. Sehingga, metode hemat energi dan material dalam pertambangan dan pengayaan mineral harus terus dikembangkan.