Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 21 November 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Momentum Dekarbonisasi Dalam Industri Global. Sektor sektor yang memproduksi sebagian besar emisi GHG global menghadapi serangkaian tantangan untuk melakukan dekarbonisasi. Meskipun demikian, sejumlah solusi dapat menjadi pilihan untuk dilakukan,. Sektor Pembangkit saat ini memiliki momentum penurunan biaya energi terbarukan yang sangat signifikan selama satu dekade terakhir. Biaya teknologi tenaga surya telah turun hingga 80 persen dan tenaga angin turun sekitar 40 persen. Hal ini menyebabkan teknologi energi terbarukan menjadi semakin kompetitif dengan pembangkit berbahan bakar fosil. Keberhasilan transisi energi di pembangkit listrik akan sangat tergantung dari peningkatan permintaan listrik yang dapat dipenuhi dari energi terbarukan, serta pembangkit rendah karbon, serta keberadaan teknologi penyimpanan energi, serta modernisasi sistem ketenagalistrikan agar dapat lebih fleksible terhadap kondisi penyediaan dan kebutuhan yang berkembang.

Di sektor migas, sejumlah perusahaan migas telah menetapkan target nol emisi bersih untuk operasinyanya. Beberapa perusahaan bahkan sudah berinvestasi dalam teknologi dan bisnis baru di bidang energi baru terbarukan seperti hydrogen.  Perusahaan di industri migas memiliki keuntungan yang berharga untuk untuk meningkatkan sistem energi rendah karbon berupa akses  modal dan keahlian operasional.

Sektor otomatif memiliki momentum  untuk melakukan dekarbonisasi dengan mulai adanya produksi kendaraan rendah emisi. Bahkan pada 2035 penjualan kendaraan penumpang pada pasar otomotif dunia (Tiongkok, Eropa, dan USA) akan mendekati 100 persen listrik.  Untuk mengembangkan kendaraan rendah emisi diperlukan rantai pasok dan kemampuan manufaktur, serta infrastruktur yang sesuai seperti stasiun pengisian listrik dan pengisian bahan bakar hydrogen. Inovasi ekeltrifikasi kendaraan berat dan truk juga perlu diperhatikan untuk mulai mengembangkan kendaraan otonom.

Di sisi penerbangan dan perkapalan, momentum dekabonisasi sudah terlihat  dari adanya modernisasi armada dan peningkatan penggunaan bahan bakar berkelanjutan Maskapai penerbangan sudah mulai mengembangkan opsi hybrid-electrik, battery-electric, dan hydrogen fuel cell electric untuk penerbangan jarak pendek.  Perlu dilakukan percepatan untuk mengembangkan bahan bakar berkelanjutan dari limbah kehutanan dan bentuk biomasa lainnya.  Di sektor industri baja, banyak pembuat baja yang telah berjanji untuk menuju karbon netral karena permintaan baja hijau melonjak. Beberapa solusi dekarbonisasi di industri baja dapat dilakukan dengan penggunaan hydrogen hijau dalam kegiatan produksi baja. Sedangkan di industri semen, upaya dekarbonisasi dilakukan melalui penggunaan teknologi analitik dan digitalisasi yang dapat meningkatkan efisiensi energi.  Ke depan penggunaan sumber energi alternatif  dan teknologi penangkapan karbon akan menjadi opsi yang sanagat dimungkinkan

II. Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

COP27 Setujui Dana Kompensasi Untuk Negara Rentan. KTT Iklim PBB atau COP27 telah ditutup dengan menghasilkan kesepakatan penting tentang pendanaan untuk membantu negara-negara rentan mengatasi dampak pemanasan global yang menghancurkan. Keputusan terkait dana untuk kerugian dan kerusakan tersebut diadopsi serta mendapatkan sambutan dari para delegasi setelah adanya negosiasi.

Negara-negara berkembang telah berulang kali membuat seruan tentang pembentukan dana kerugian dan kerusakan, hal ini guna memberikan kompensasi kepada negara-negara paling rentan terhadap bencana iklim, tapi hanya berkontribusi kecil atas terjadinya krisis iklim. Topik pembentukan mekanisme pendanaan semacam itu tidak masuk dalamagenda diskusi ketika COP27 resmi dimula

Namun kegembiraan atas pencapaian itu mendapat peringatan keras dikarenakan pembicaraan iklim PBB telah mengambil langkah penting tetapi gagal mendorong penurunan karbon mendesak yang diperlukan untuk mengatasi pemanasan global.Adapun pernyataan akhir CO27 mencakup berbagai upaya dunia dalam menangani kondisi planet yang memanas masih sejalan dengan tujuan aspiratif. Yaitu untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius dari tingkat pra- industri.

Negara-negara berkembang telah berulang kali membuat seruan tentang pembentukan dana kerugian dan kerusakan, hal ini guna memberikan kompensasi kepada negara-negara paling rentan terhadap bencana iklim, tapi hanya berkontribusi kecil atas terjadinya krisis iklim.

III. Sektor Geologi, Mineral, Batubara dan Umum

Pasir Kuarsa, Harta Karun RI yang Menjadi Incaran Dunia. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam mempunyai harta karun yaitu pasir kuarsa yang saat ini menjadi incaran dunia selain nikel dan batubara. Dalam dua tahun terakhir, permintaan dunia terhadap pasir kuarsa meningkat. Bahkan, dalam enam bulan hingga satu tahun terakhir, permintaan pasir kuarsa dari China ke Indonesia naik tajam dengan harga yang naik cukup signifikan.

Menurut Himpunan Penambang Kuarsa Indonesia (HIPKI), permintaan pasir kuarsa global meroket dalam dua tahun terakhir ini didukung oleh penggenjotan energi hijau yang membutuhkan pasir kuarsa untuk bahan bakunya. Pasir kuarsa yang diekspor merupakan pasir kuarsa high grade silica yang mengandung silika lebih dari 99,5% dengan kandungan besi yang rendah.

Peningkatan permintaan ini belum pernah terjadi sebelumnya dan merupakan sejarah penjualan pasir kuarsa di Indonesia. Padahal pasir kuarsa sudah ada dan dimanfaatkan sejak sebelum Republik Indonesia berdiri. Kualitas pasir kuarsa Indonesia sangat kompetitif di kancah dunia, kompetitornya hanya Australia yang memiliki kadar high grade silica mencapai 99,9%. Namun harga pasir kuarsa dari Australia sangat mahal.

Pasir kuarsa merupakan bahan baku pembuatan kaca yang merupakan komponen utama panel surya atau solar panel. Saat ini, China sedang giat sekali membangun panel surya oleh karena itulah mereka membutuhkan pasir kuarsa dalam jumlah yang sangat besar.