Reviu Informasi Strategis Energi dan Mineral Harian, 22 November 2022

I. Sektor Minyak dan Gas Bumi

Percepatan Dekarbonisasi India. India menyampaikan ambisinya untuk menjadi net zero emitter pada 2070. Meskipun emisi per kapita India terhitung rendah (1,8 tons CO2), India adalah penghasil emisi global terbesar, mengeluarkan net 2,9 giga ton CO2 equivalen setiap tahunnya. Sekitar 70 persen emisi yang dihasilkan berasal dari pembangkit, industri baja, otomotif, penerbangan, semen, dan pertanian.

India memiliki potensi menghasilkan 287 gigat on  ruang karbon di dunia. Jumlah tersebut hampir separuh dari anggaran  karbon global untuk membatasi pemanasan global 1,5 C.  Laju pengurangan intensitas emisi saat ini masih belum cukup untuk menurunkan kurva pertumbuhan emisi India. Dalam salah satu skenario yang dilakukan, India diperkirakan dapat mengurangi emisi tahunan dari trajectory historis sebesar 11,8 Giga ton CO2 ekuivalen menjadi 1,9 Giga ton CO2 ekuivalen pada 2070 atau berkurang sekitar 90 persen dibangkan dengan tahun 2019. India berpotensi mempercepat komitmen net zero pada 2070 melalui pengembangan teknologi baru seperti penangkapan karbon untuk beberapa dekade mendatang.

Pengurangan biaya energi terbarukan dan kendaraan listrik serta penerapan kebijakan yang progresif misalnya penerapan pajak karbon yang lebih insensif di bahan bakar kendaraan sebesar US$140 sampai US$240 per ton CO2 dapat membantu program elektifikasi mobilitas. Selain itu sejumlah program lainnya dibutuhkan misalnya meningkatkan penambahan kapasitas energi terbarukan dari 10 GW per tahun menjadi 40-50 GW per tahun, pengurangan biaya hydrogen dan penerapan harga karbon sebesar US$50 per ton CO2 diperlukan untuk membuat baja hijau lebih kompetitif, pengurangan biaya baterai hingga 40 persen pada tahun 2030 dan penyediaan hydrogen hijau sebesar dua pertiga pada tahun 2035, diperlukan penyiapan infrastruktur pengisian daya secara nasional.

Percepatan dekarbonisasi India sangat diperlukan mengingat masih ada 80 persen wilayah India belum dibangun. Pengembangan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi ke depan akan melipatgandakan permintaan domestik. Listrik diperkirakan akan meningkat delapan kali lipat, baja delapan kali lipat, semen tiga kali lipat, mobil tiga kali lipat, dan makanan dua kali lipat. Jika India dapat menerapkan kebijakan pengendalian dan efisiensi  yang epat maka India akan mendapatkan banya keuntungan. Transisi energi dari fosil ke energi terbarukan diperkirakan dapat menurunkan biaya rata-rata penyediaan listrik dari 6,15 India Rupee per KWh pada tahun 2020 menjadi INR 5,25 per kWh pada tahun 2050. India juga dapat menghemat US$1,7 Triliun valuta asing secara kumulatif dari pengurangan impor energi sampai dengan 2070. India juga diperkirakan memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dunia dalam baterai, elektrolisis, produksi baja hijau jika India mulai membangun industri manufaktur yang lebih cepat.

Faktor yang menjadi perhatian adalah bagaimana dekarbonisasi yang dilakukan berdampak moderat terhadap pengeluaran rumah tangga dan pekerjaan India. Memang dekarbonisasi yang dilakukan dapat menyebabkan kenaikan biaya makanan, namun hal tersebut dapat diimbangi oleh adanya penurunan biaya energi  dan transportasi. Dekarbonisasi yang dilakukan juga dapat mengubah lebih dari 30 juta pekerjaan dimana sekitar 24 juta pekerjaan baru dapat dicipatan dan 6 juta pekerjaan yang ada dapat hilang.

II.Sektor EBTKE Dan Ketenagalistrikan

Biodiesel B40 Berlaku, RI Bisa Hemat Devisa Rp 200 Triliun!, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berencana meningkatkan persentase pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Minyak Solar sebesar 40% atau dikenal dengan istilah B40 (Biodiesel 40%). Bila ini diterapkan, maka ini ada peningkatan dari penerapan B30 yang sudah berlangsung sejak 1 Januari 2020. Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), bila B40 dilaksanakan pada tahun 2023, maka negara berpotensi menghemat devisa sekitar Rp 200 triliun.

Jumlah penghematan devisa ini meningkat dibandingkan penghematan devisa yang diperoleh pada 2021 dari pemberlakuan B30, yang tercatat sebesar Rp 66 triliun. Potensi penghematan devisa negara pada 2023 ini diperoleh dengan asumsi alokasi biodiesel B40 pada 2023 bisa mencapai 15,03 juta kilo liter (kl). Asumi alokasi biodiesel ini dengan perkiraan kebutuhan minyak solar pada 2023 sebesar 37,5 juta kl. Artinya, ada penghematan volume impor solar sebesar jumlah tersebut.

Sebagai informasi, saat ini telah dilakukan uji jalan (road test) B40 oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas dengan melibatkan Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui pendanaan oleh Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang diajukan oleh Direktorat Jenderal EBTKE. Formulasi bahan bakar yang digunakan dalam uji jalan B40 adalah B30D10 dengan formula campuran 30% Biodiesel atau B100 dan 10% Diesel Nabati. Adapun yang diuji jenis B40 dengan formula campuran 40% Biodiesel ditambah 60% Solar (B0). Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah rampung melakukan uji jalan (road test) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel dengan campuran 40% atau disebut B40 pada kendaraan bermesin diesel. Meski sudah tuntas melakukan uji coba, namun KESDM belum dapat memastikan kapan implementasi dari program B40 dijalankan sepenuhnya. Pasalnya, masih terdapat proses evaluasi yang harus dilakukan terlebih dahulu. Evaluasinya di dalamnya menyiapkan segala macamnya misalnya suplai, rantai pasoknya, kapal macam apa, blending facility macam apa, kontrol seperti apa, terus nanti kesiapan kendaraannya segala macam.

Menteri ESDM Arifin Tasrif sebelumnya mengatakan, pemberlakuan B40 ini merupakan salah satu upaya strategis negara untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM), sekaligus mengimplementasikan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT).Arifin mengungkapkan, dari hasil uji jalan yang telah dilakukan, performa B40 bisa merespon kebutuhan energi kendaraan. Selain itu, penurunan emisi karbon bisa tercapai dengan pemanfaatan bioenergi yang tinggi melalui B40 ini. Penggunaan B40 ini bisa mengurangi ketergantungan RI pada impor. Terlebih, separuh dari kebutuhan BBM RI kini dipasok melalui impor. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya energi yang ada di Tanah Air, terutama energi baru terbarukan. Ujungnya, ini bisa meningkatkan ketahanan energi bangsa ini.

III.Sektor Geologi, Mineral, Batubara Dan Umum

Smelter Nikel di Sulawesi Tenggara Siap Berpindah ke Energi Hijau dengan Membangun Terminal LNG, PT Ceria Nugraha Indotama dan PT Padma Energi Indonesia melalui subsidi telah menandatangani Perjanjian Usaha Patungan (Joint Venture Agreement) Pembangunan Terminal Liquefied Natural Gas (LNG) dan infrastruktur pendukung dalam rangka menjamin ketersediaan pasokan gas untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang akan dioperasikan di Kolaka. Hal ini merupakan bentuk komitmen dari perusahaan untuk menghasilkan produk ramah lingkungan (green product) dalam industri nikel di Indonesia.

Terminal LNG ini akan melayani pasokan gas PLN untuk pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Gas Terapung (Barge Mounted Power Plant/BMPP) yang berkapasitas 2 x 60 MW. Saat ini, 1 unit BMPP sudah dioperasikan oleh PLN. Sementara unit kedua akan rampung pada April 2024 dan setelahnya akan dimobilisasi ke Kolaka.

Pembangunan LNG ini merupakan komitmen bersama PLN untuk memberikan kehandalan pasokan listrik ke smelter Ceria Nugraha Indotama. PLN menyuplai listrik ke Ceria Nugraha Indotama melalui gardu induk Smelter Kolaka dengan listrik yang bersumber dari PLTA Poso dan beberapa sumber renewable energy lainnya.